Wonosobo Waspadai Pedofil

WONOSOBOZONE – Mengingat sepanjang 6 bulan di Tahun 2015, dari 69 kasus kekerasan yang terjadi, 49 di antaranya merupakan kasus kekerasan seksual anak-anak dan sebagian besar terjadi akibat perlakuan dari orang terdekat pengidap pedofilia, alias perilaku seks menyimpang yang mengarah kepada anak-anak. Sehingga menurut Nuraini Ariswari selaku Ketua UPIPA, Wonosobo perlu mewaspadai akan hal tersebut dengan menggelar seminar bertema kewaspadaan terhadap bahaya kekerasan seksual pada anak di Balai Kelurahan Kalianget, 13/10.
Seminar yang menghadirkan 150 pelajar dari MAN Kalibeber tersebut, dikatakan Nuraini dilatarbelakangi keprihatinan akan kondisi terkini, sehingga sub tema seminar yang diangkat pun cukup menggugah, yaitu Wonosobo Darurat Kekerasan Seksual.
“Kami bekerjasama dengan Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BKKBPP dan PA) Wonosobo, berupaya mengajak semua pihak, dimulai dari para pelajar dan kemudian nanti juga orang tua, agar lebih intensif mengawasi pola pergaulan anak-anak”, lanjut wanita yang pernah duduk sebagai komisioner di Komnas HAM tersebut.
Pengawasan secara lebih intensif menjadi penting, karena pelaku pedofilia, dikatakan Nuraini kebanyakan merupakan orang terdekat seperti tetangga, pacar, bahkan saudara dan orang tua kandung sendiri.
Demi memberikan pemahaman lebih luas kepada para peserta seminar, Nuraini menyebut pihaknya juga mengundang pemateri kompeten, yaitu Psikolog muda, Harrista Adiati M.PSi  dan KasiPidum Kejaksaaan Negeri Wonosobo, Kusuma SH.
“Kedua pemateri akan mengurai mengenai penanganan dan dampak Psikososial bagi anak korban kekerasan, dan implikasi hukum bagi tindak kekerasan kepada anak”, jelas Nuraini.
Keprihatinan akan maraknya kasus kekerasan yang menimpa anak-anak Wonosobo tersebut dirasakan pula Kepala BKKB PP dan PA, Junaedi SKM MKes. Menurut Junaedi, tren peningkatan kasus dari tahun ke tahun memang selayaknya disikapi dengan kewaspadaan di masyarakat.
“Orang tua harus lebih intensif lagi mengawasi anak-anak mereka, terutama dalam hal penggunaan gadget”, himbau Junaedi.
Penggunaan alat-alat canggih berbasis internet yang bisa menghubungkan anak-anak di situs jejaring sosial, dikatakan Junaedi bisa memicu terjadinya tindak kekerasan seksual.
“Anak-anak belum paham sejauh mana mereka harus menyikapi perilaku orang-orang di jejaring pertemanan mereka, sehingga dengan mudah diajak bertemu muka dan kemudian terjadilah kasus-kasus kekerasan tersebut”, kata Junaedi.
Mengingat pentingnya pemahaman tersebut, pihaknya saat ini juga berupaya mendorong agar sosialisasi yang melibatkan basis komunitas maupun basis pelajar sekolah terus digiatkan.
source : wonosobokab.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here