Wonosobo Akan Jadi Kota Pusaka

WONOSOBOZONE – Upaya Pemerintah Kabupaten untuk mewujudkan Wonosobo sebagai Kota Pusaka mendapat dukungan penuh kalangan akademisi perguruan tinggi. Hal itu terlihat dari suksesnya penyelenggaraan seminar dan sarasehan berjudul Menuju Wonosobo Kota Pusaka Melalui Upaya Pelestarian Bangunan Cagar Budaya di komplek pendopo Kabupaten, Selasa (26/4).
Seminar dengan narasumber unsur akademisi dan praktisi kebudayaan tersebut dihadiri ratusan mahasiswa program studi arsitektur Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Unsiq, pelajar, dan para penggiat dalam komunitas Kota Pusaka Wonosobo (Wonosobo Heritage Community). Kepala Biro Administrasi Umum Unsiq, Abdul Kholiq meyakini terwujudnya Kota Pusaka Wonosobo akan mampu meningkatkan daya tarik bagi para wisatawan, karenanya pihak Unsiq melalui Prodi Arsitektur berupaya mendukung sepenuh hati.
Salah satu wujud dukungan Unsiq, selain berpartisipasi aktif dalam seminar dan sarasehan Kota Pusaka, menurut Abdul Kholiq adalah dengan menggelar lomba foto dan sketsa Bangunan Cagar Budaya pada Senin (26/4). Lomba sketsa dan foto kami gelar untuk kategori pelajar dan umum, demi mengajak semua pihak untuk turut berpartisipasi dan memahami bahwa Wonosobo layak dinobatkan sebagai kota pusaka, terang mantan legislator tersebut.
Dengan kekayaan berupa berbagai jenis benda dan bangunan cagar budaya, Abdul Kholiq mengakui bahwa upaya menjadikan Wonosobo sebagai Kota Pusaka perlu didukung segenap elemen masyarakat. Pemerintah daerah tentu tidak akan bisa berjalan sendirian, mengingat penataan kota agar sesuai dengan konsep Kota Pusaka memerlukan keterlibatan pihak-pihak lain, seperti para praktisi budaya, sejarawan, pustakawan, dan termasuk para pemerhati cagar budaya seperti halnya yang tergabung dalam Wonosobo Heritage Community, tegas Abdul Kholiq.
Sepakat dengan Abdul Kholiq, Staf Ahli Bupati bidang Fisik dan Prasarana, Sigit Sukarsana menyebut bahwa kerjasama dengan Unsiq dalam upaya merealisasikan Kota Pusaka sebagai sebuah langkah maju. Wonosobo ini menyimpan jejak sejarah yang luar biasa, dan bahkan kemungkinan besar banyak belum diketahui orang, jelas Sigit. Salah satu fakta sejarah yang menurut Sigit layak untuk diketahui adalah bahwa Wonosobo pernah menjadi Kota yang sangat penting bagi pemerintah Hindia Belanda. Setelah Jogjakarta, Wonosobo menjadi Kota tujuan kedua yang dirasa Belanda harus ditaklukan, sehingga membawa Belanda untuk langsung menyerang Wonosobo setelah dari Jogja, beber Sigit.
Alasan penaklukan Kota Wonosobo, yang kemudian membuat TNI terpaksa melakukan strategi bumi hangus diuraikan oleh pustakawan dari Kantor Arpusda, Bimo Sasongko Dwi Putranto.
Menurut Bimo, Wonosobo disasar kolonial Belanda  karena latar belakang kesuburan tanah, sehingga cocok untuk pertanian. Pemerintah Hindia Belanda memerlukan dukungan produk-produk pertanian seperti Kopi, Teh, dan tembakau untuk bisa diperdagangkan di seluruh dunia dan mendukung kelangsungan kerajaan mereka, terang Bimo.
Begitu pentingnya Wonosobo, sehingga menurut Bimo, mereka akhirnya mendirikan beragam jenis bangunan, termasuk stasiun kereta api, sekolah sampai perkantoran dan bahkan hotel. Gedung DPRD, Hotel Kresna, sampai Wisma PJKA dan Sasana Bakti yang kini telah berubah menjadi Kantor Arpusda menjadi contoh bangunan Belanda, dan bahkan masih bisa digunakan sampai saat ini, terang Bimo. Dengan fakta-fakta berupa jejak sejarah tersebut, Bimo menyebut bahwa upaya mewujudkan Wonosobo sebagai Kota Pusaka sebagai hal wajar dan logis untuk direalisasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here