WMF Auto Gymkhana Championship Diikuti Puluhan Drifter Nasional

WONOSOBOZONE – Untuk pertama kalinya, Wonosobo menjadi tuan rumah Kejuaraan Gymkhana Tingkat Nasional. Jenis olahraga otomotif yang mengandalkan keterampilan mengendalikan mobil dalam kecepatan tinggi di lintasan penuh rintangan tersebut, digelar selama 2 hari di Gerbang Mandala Wisata, Stanplat Mendolo, mulai Sabtu (10/12). Diikuti tak kurang dari 60 Drifter, istilah untuk pembalap Gymkhana, Kejurnas itu sekaligus menjadi ajang ujicoba, untuk mengetahui sejauh mana antusiasme masyarakat Wonosobo olahraga motorsport. “Sekiranya sambutan masyarakat Wonosobo memang positif dan menunjukkan antusiasme bagus, kemungkinan ini akan menjadi even rutin tahunan,” jelas Ketua Panitia Penyelenggara, Suwondo Hartoko, di sela acara pembukaan lomba, Sabtu (10/12).
Arie Sinyo, salah satu drifter dari komunitas Wonosobo Motorsport Festival (WMF) selaku penyelenggara lomba bersama IMI Jawa Tengah dan Pertamina, menjelaskan Gymkhana merupakan salah satu jenis motorsport. “Hampir mirip dengan autocross atau slalom test, namun dalam Gymkhana, yang berhasil memenangkan pertandingan ialah yang mencapai waktu tercepat,” tuturnya. Dalam Gymkhana, Arie menyebut kecepatan adalah faktor yang paling menentukan. Seorang pembalap Gymkhana, diakuinya. wajib menguasai teknik mengemudi yang bervariasi sesuai dengan rintangan agar dapat memenangi pertandingan. “Mereka akan diuji melalui berbagai rintangan seperti kerucut, ban, dan penghalang, sehingga setiap pembalap harus bermanuver melalui jalur yang telah ditentukan,” tandasnya.
Untuk Gymkhana di Wonosobo yang diikuti puluhan drifter Nasional dari berbagai daerah di Indonesia, Arie mengatakan pihak panitia membuka setidaknya 4 kelas. Kelas-kelas tersebut meliputi Super FWD, RWD Retro, Super RWD, dan FFA. Masing-masing kelas, menurut Sinyo dibedakan dari roda penggerak, volume cylinder, dan tahun pembuatan. “Super FWD contohnya, adalah kategori kelas mobil gerak roda depan dengan tahun produksi tidak dibatasi, dengan maksimal silinder 2500 Non Turbo, Non Supercharger dan Non LSD,” bebernya. Sementara untuk kelas Retro RWD, dijelaskan Sinyo, merupakan kelas mobil penggerak roda belakang, dengan tahun pembuatan sebelum 1986 dan murni menggunakan karburator untuk pembakarannya.
Gelaran WMF Auto Gymkhana Championship tersebut, diakui Bupati Wonosobo, Eko Purnomo merupakan ajang yang sangat prestisius. Selain menyajikan tantangan bagi para pembalapnya, Bupati menyebut Gymkhana merupakan olahraga otomotif yang sarat dengan pembelajaran, mengenai bagaimana seharusnya pengemudi berkendara secara aman, atau safety riding. “Saya berharap ajang ini juga bisa menjadi media untuk mencari bibit-bibit pembalap maupun atlet otomotif di Wonosobo, agar mampu menunjukkan prestasi di tingkat Nasional,” tandas Bupati, sebelum mencoba salah satu mobil peserta untuk drifting satu putaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here