Wisata Air Waduk Wadaslintang Diseriusi, Pemkab Buka Peluang Masuknya Investor

WONOSOBOZONE – Potensi waduk Wadaslintang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu waduk buatan terbesar di Asia Tenggara, dinilai banyak pihak belum dimanfaatkan secara optimal. Selain fungsi utamanya sebagai sumber energi bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan sumber irigasi bagi ribuan hektar lahan persawahan, waduk yang diresmikan Presiden Suharto pada awal Tahun 1988 tersebut, baru dimanfaatkan sebagai tempat budidaya ikan karamba. Padahal, dengan menengok luasan dan kawasan di sekitarnya yang memiliki panorama sangat indah, waduk di tengah gugusan perbukitan itu sangat potensial untuk dimaksimalkan fungsinya sebagai wahana wisata air.
“Seiring dengan prioritas pembangunan daerah, yang saat ini mengarah pada pengembangan potensi pariwisata, kami melihat waduk Wadaslintang sebagai salah satu objek potensial untuk digarap secara lebih serius,” tutur Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo di sela menyusuri waduk bersama Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat, Hadi Susilo, baru-baru ini.
Demi mengoptimalkan fungsi waduk Wadaslintang sebagai wahana rekreasi air berkelas, Wabup mengaku telah berupaya untuk membuka komunikasi dengan beberapa pihak, termasuk investor dari luar daerah. Pemkab Wonosobo, dikatakan Wabup sangat terbuka terhadap masuknya investasi di sektor pariwisata, khususnya dalam rangka memajukan wilayah dan memberdayakan warga masyarakat sekitar. Pihaknya bahkan mengaku tak keberatan perihal skema pengelolaan objek wisata, apabila memang pihak investor bermaksud mengelola sendiri, sepanjang kesepakatan tidak menyalahi aturan yang berlaku. “Yang terpenting adalah bagaimana agar potensi yang ada ini segera dapat dioptimalkan, agar efek positif berantainya juga dirasakan warga masyarakat sekitar,” lanjut Wabup.
Dengan majunya sektor pariwisata di Waduk Wadaslintang, Wabup meyakini upaya pembenahan sarana dan prasarana pendukung serta infrastruktur nya juga akan bergerak lebih cepat, dan berimbas pada bangkitnya ekonomi desa-desa di kawasan itu. Beberapa desa di sekitar Waduk, diakui Agus masih belum merasakan efek adanya potensi luar biasa yang ada di depan mata mereka. “Contohnya adalah desa Kumejing yang hingga kini masih masuk kategori paling miskin di Kecamatan Wadaslintang, dan bahkan terisolir karena akses masuk paling memadai hanya dengan perahu penyeberangan,” lanjutnya.
Upaya menyeriusi wahana wisata air di Waduk Wadaslintang yang dikemukakan Wabup selaras dengan gagasan Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat, Hadi Susilo. Menurut Hadi, warga masyarakat di kawasan waduk Wadaslintang memang sangat menantikan keterlibatan pemerintah daerah demi mengoptimalkan kekayaan alam di sekitar mereka. “Warga desa di sekitar waduk selama ini baru menjadi penonton dan terhitung masih sangat kecil memanfaatkan potensinya,” tutur Hadi.
Bahkan dengan begitu melimpahnya air di waduk, pemanfaatan untuk sarana dan prasaran air bersih di desa sekitarnya diakui Hadi belum optimal. Penduduk desa seperti di Kumejing, Lancar, dan Plunjaran yang berada di kawasan Waduk, dikatakan Hadi masih sering kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-harinya.
“Nantinya dengan pengelolaan yang benar, dan dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat, infrastruktur dan sarana prasarana di desa-desa yang selama ini masih masuk kategori miskin dan tertinggal akan semakin baik, dan kesejahteraan warga juga meningkat,” tandas Hadi.
Namun demikian, Hadi mengakui diperlukan kesepakatan jelas apabila ke depan rencana tersebut terealisir, mengingat area Waduk merupakan aset Pemerintah Privinsi dan Pusat, sehingga potensi permasalahan terkait hak pengelolaannya bisa dihindari. “Pelajaran dari kawasan telaga warna di Dieng bisa kita jadikan sebagai rujukan, karena pada waktu pengembangan objek wisata, tidak memperhitungkan Perhutani sebagai pemiliknya,” pungkas Hadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here