Warga Wonosobo Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu

WONOSOBOZONE – Warga asal Dusun Pucung Desa Adiwarno Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo, Ahmad Sobar Riyadi (46) dan keluarga selamat dari maut akibat bencana alam gempa bumi dan Tsunami di Palu, Donggala dan Sigi Sulawesi Tengah.

Pria yang semasa kuliah pernah jadi Pemimpin Redaksi (Pimred) Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat IAIN – kini UIN Walisongo Semarang – itu kemarin di tanah kelahirannya. Isak tangis haru keluarga mewarnai kedatangan perantau yang sudah tinggal di Palu selama lima tahun itu.

Sobar bersama istri Sri Hastuti (35) dan anak bungsunya Fawwas Salis Mahmud (9) di Palu tinggal di Jl Soekarno Hatta RT 3 RW 4 Tondo Mantikulore Palu Sulawesi Tengah, berprofesi sebagai pengembang perumahan dan membuka warung makan.

Sedang dua anaknya yang lain, Fardan Riady Muhammad (17) dan Zulfia Hastuti Matsani, tinggal di salah satu pondok pesantren di Krasak Mojotengah Wonosobo dan tengah menempuh pendidikan formal di SMK dan SMP Pelita Al Qur’an setempat.

Dikisahkan Sobar, saat terjadi gempa bumi dan tsunami, dirinya bersama warga yang lain hendak menjalankan sholat maghrib berjamaah di masjid dekat tempat tinggalnya. “Tiba-tiba saat saya sedang mengambil air wudlu di rumah bumi yang saya injak bergerak hebat”, katanya.

Dia pun segera keluar rumah. Kondisi benar-benar mencekam karena bersamaan dengan itu, listrik padam dan bumi terus tergoncang. Warga pun berhamburan keluar rumah sembari menjerit-njerit ketakutan.

Setelah gempa reda, imbunya, dia bersama warga lain tetap melanjutkan sholat maghrib di pelataran rumah karena dinding masjid sudah retak-retak. Karena air yang ada di bak tempat wudlu tumpah terguncang gempa, werga akhirnya wudlu dengan cara bertayamum.

BACA JUGA:  Ternyata Ada Juga Loh! Jamu Kelompok Wanita Tani Dari Wonosobo Tembus Luar Negeri

Lantaran goncangan terus terjadi dan tsunami telah menyapu palu, warga berlari ke Bukit Lasoani di Mantikulore untuk menyelamatkan diri. Di bukit semua warga ketakutan dan kondisi gelap-gulita.

Baru esok harinya, beberapa warga pulang ke rumah masing-masing. Kondisi dinding rumah mereka telah retak-retak dan sebagian sudah dalam posisi miring hampir roboh. Warga pun tidak berani tinggal di rumah dan terpaksa tinggal di pengungsian.

Sempat Kelaparan

Karena tidak membawa bekal makanan sedikit pun, selama beberapa hari di pengungsian, warga sempat merasa kelaparan. Apalagi saat itu, belum ada satupun bantuan berupa makanan dan tenda yang sampai ke tempat pengunsian di Bukit Lasoani.

Demi keamanan keluarga, karena kondisi Palu masih labil, sebab setiap saat gempa masih terus susul menyusul terjadi, Sobar memutuskan untuk segera pulang ke tempat asalnya.

Namun karena kondisi belum normal, pihaknya sempat beberapa hari tertahan di Bandara Mutiara SIS Al Jufri, Palu, selama beberapa hari. Dari Bandara Palu Sobar bersama ratusan korban gempa dan tsunami lalu terbang menuju Balikpapan.

Dari Bandara Balikpapan di lanjutkan terbang ke Bandara Adisucipto Yogyakarta. “Perjalanan panjang dari Palu sampai Wonosobo, saya rasakan cukup melelahkan karena kondisi darurat”, ucapnya.

Menurut Sobar, di Palu banyak keluarga asal Jawa termasuk Wonosobo yang menetap di sana. Mereka tergabung di Paguyuban Keluarga Jawa di Palu dan menjalani profesi beragam. Ada yang jadi PNS, pegawai swasta dan berwirausaha.

Sobar berniat kembali ke Palu setelah kondisi benar-benar normal. “Saya sebenarnya merasa berat untuk meninggalkan Palu karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan warung makannya harus segera buka untuk melayani pelanggan yang datang”, ujarnya.

BACA JUGA:  Kafilah MTQ Pelajar Wonosobo Siap Bertanding dan Mempertahankan Trophy Juara Umum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.