Warga Didorong Buat Sumur Resapan dan Biopori Mandiri

WONOSOBOZONE – Hari menanam pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan menanam Nasional (BMN) kembali diperingati. Melalui momentum tersebut, warga masyarakat Wonosobo diingatkan kembali pentingnya menyelamatkan mata air, dengan menanam pohon dan membuat Biopori secara mandiri. Bupati, Eko Purnomo yang memimpin acara penanaman 3.000 lebih bibit tanaman keras dalam rangka memperingati HMPI dan BMN, di lapangan desa Batursari, Kecamatan Sapuran, Rabu (23/11) menegaskan kembali akan posisi Kabupaten Wonosobo sebagai Daerah penyangga. “Setidaknya ada 6 Kabupaten tetangga, yaitu Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen dan Purworejo yang sangat bergantung pada Wonosobo dalam hal ketersediaan sumber daya air,” jelas Eko.
Mengingat hal itulah, Bupati meminta warga masyarakat untuk lebih giat lagi menanam pohon di lingkungan sekitarnya. Pihaknya juga mengapresiasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kabupaten, yang bersama berbagai elemen masyarakat tak pernah surut menyuarakan pentingnya menanam. “Sampai tanggal 15 November 2016 ini, tak kurang dari 1,4 Juta batang pohon sudah ditanam di Wonosobo, dan ini ke depan saya harapkan bisa terus meningkat,” tegasnya. Jumlah penanaman tertinggi per wilayah, menurut Bupati dipegang Kecamatan Sapuran, dimana lebih dari 486 Ribu batang bibit tanaman keras ditanam. “Kedua adalah Sukoharjo dengan 143.571 batang, dan Watumalang dengan jumlah penanaman mencapai 123.231 batang tanaman keras,” urainya.
Terkait upaya meningkatkan resapan air di Kabupaten Wonosobo melalui sumur resapan dan biopori, Bupati menekankan bahwa hal itu secara teknis sangat sederhana. Pembuatan sumur resapan maupun biopori di lingkungan permukiman, menurutnya akan banyak memberikan manfaat, karena selain sebagai penangkap air, biopori juga dapat difungsikan sebagai pengolah sampah organik untuk kompos. “Saya berharap agar hal ini secepatnya ditindaklanjuti di masing-masing wilayah se-Kabupaten Wonosobo, karena selain agar air limpasan hujan tak terbuang percuma, sumur resapan dan biopori ini juga menjadi langkah strategis penanggulangan potensi banjir,” pungkasnya.
Arahan Bupati tersebut selaras dengan tujuan dari penyelenggaraan seremoni peringatan HMPI dan BMN 2016, yang menurut Kepala Dinas LHK, Muawal Soleh tengah mengangkat tema menyelamatkan mata air. “Jumlah mata air di Kabupaten Wonosobo, sesuai data kami saat ini mencapai 1.746 titik, dan ini selayaknya memang harus kita jaga bersama,” terang Muawal. Wonosobo sebagai daerah hulu 4 sungai besar, yaitu Serayu, Luk Ulo, Bogowonto dan Tulis, Muawal menandaskan pentingnya menjaga daya tangkap air. 
Karena itulah, dalam puncak peringatan HMPI dan BMN yang dihadiri pula segenap pejabat Forkompinda dan beberapa Camat serta para pimpinan OPD itu, pihaknya diakui Muawal juga menggelar peragaan membuat biopori secara mandiri. “Kami juga mengajak semua elemen masyarakat, mulai dari TNI, Polri, Pelajar, tokoh masyarakat maupun para penggiat lingkungan hidup untuk terus menanam di setiap jengkal tanah di Wonosobo, demi tetap lestarinya mata air serta terjaganya ekosistem lingkungan,” pungkasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here