Tiwul Instan Wonosobo Tembus Pasar Dunia, Didorong Patenkan Merk Dagang

WONOSOBOZONE – Hasil olahan tepung mocaf, yang oleh Lilik Sri Rahayu, pelaku UKM dari Dusun Kawista, Desa Adiwarno, Selomerto dikreasi menjadi pangan alternatif berupa tiwul instan ternyata telah menjangkau pasar luar negeri. Meski kini masih sebatas pesanan individual, terbangnya tiwul instan Wonosobo melintasi batas Negara tersebut layak disambut dengan tindak lanjut serius. Kepala Kantor Pariwisata, Agus Purnomo yang mengunjungi langsung kediaman Lilik, pada Selasa (26/4) bahkan mendorong agar merk dagang Tiwul Instan Wonosobo secepatnya diajukan untuk mendapat hak paten.
“Adanya hak paten ini penting demi menghindari pemalsuan produk oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, yang tentu akan menimbulkan potensi kerugian,” jelas Agus. Dengan dimilikinya merk dagang yang telah dipatenkan, tiwul instan beragam rasa dan warna tersebut, dikatakan Agus juga bakal lebih mudah diterima pasar global. “Artinya potensi ekspornya sangat terbuka, dan hal ini sepantasnya ditindaklanjuti dengan langkah serius, termasuk menambah kapasitas produksinya,” lanjut Agus. Selain itu, Agus juga meminta Lilik untuk menjajaki pasar tiwul instan produksinya melalui media internet.
Pemasaran akan menjadi lebih luas pangsanya ketika menggunakan media online, karena targetnya bisa tak terbatas sampai ke seluruh dunia, imbuh Agus.
Menanggapi saran dari Kepala Kantor Parekraf tersebut, Lilik mengaku siap. Namun diakuinya pula, fokus usahanya sekarang adalah untuk menambah kapasitas produksi. “Untuk saat ini kami baru bisa membuat 100 Kilogram tiwul instan per minggunya, dan itu jauh di bawah permintaan pasar yang sering sampai 3 atau 4 kali lipat,” terang Lilik yang mengaku mengemas produknya dalam kemasan kantong plastik masing-masing 400 gram. Ketidakmampuan menambah kapasitas produksi, disebut Lilik dikarenakan belum dimilikinya peralatan pendukung yang memadai. “Agar produksi bisa konstan dalam jumlah yang sesuai target, kami sangat membutuhkan alat pengering,” jelasnya.
Alat pengering yang dimaksud Lilik, memegang peran vital karena selama ini pihaknya masih sangat bergantung pada pengering alami dari panas matahari. “Di musim penghujan seperti ini jelas sangat sulit mengandalkan pengeringan secara alami mengingat curah hujan di Wonosobo terbilang tinggi,” lanjut Lilik.
Padahal, usaha yang telah dirintis sejak 8 tahun lalu itu, menurut Lilik kini telah memiliki multiplier effect cukup luas.
Selain mempekerjakan karyawan, usaha tiwul instan tersebut, menurut ibu 2 anak itu tidak berdiri sendirian. Mulai dari bahan baku berupa singkong, kemudian pengolahan menjadi tepung mocaf dikerjakan oleh pihak lain. “Ini demi terciptanya peluang kerjasama yang saling menguntungkan,” terang Lilik. Pun demikian dengan proses pemasaran, Lilik mengaku mempercayakan kepada orang lain. “Untuk pemasarannya kami menggandeng Mbak Maizidah Salas, salah satu aktifis buruh migran dari Tracap Kaliwiro, karena jejaringya cukup luas,” lanjutnya. Dengan model pemasaran itulah, tiwul instan hasil olahannya dibawa terbang hingga ke Australia, Hongkong, Taiwan, bahkan sampai ke Suriname.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here