Tertinggi Se-Kedu, Usaha Non Pertanian Di Wonosobo Tumbuh 19,48%

WONOSOBOZONE – Hasil sementara sensus ekonomi 2016 di Kabupaten Wonosobo, menampakkan pertumbuhan positif di sektor jumlah usaha non pertanian. Dibandingkan Kabupaten/ Kota lain di eks Karesidenan Kedu, Wonosobo menduduki peringkat pertama dengan prosentase pertumbuhan mencapai 19,47 %. “Jumlah usaha non pertanian berdasar hasil sensus ekonomi 2016 mencapai 121.500, atau meningkat 19,47% bila dibandingkan dengan pada Tahun 2006 yang sejumlah 101.700 unit usaha,” jelas Herawati Kusumaningsih, mantan Kepala BPS Wonosobo, di ruang kerja  Wakil Bupati, Agus Subagiyo, Selasa (12/9).
Hera mengurai data terbaru hasil sensus ekonomi tersebut kepada Wabup, setelah masa kerjanya selama 7 bulan terakhir, usai dan diteruskan mantan Kepala BPS Kabupaten Tabanan, Sukiswati. “Saya ditugaskan untuk menjadi Kepala BPS Kabupaten Wonogiri, dan hari ini kami berpamitan sekaligus mengenalkan pimpinan baru BPS Wonosobo kepada Wakil Bupati,” lanjutnya. Hasil penghitungan samentara sensus ekonomi, menurut Hera menjadi salah satu laporan yang mesti diketahui oleh Wabup, agar Pemkab juga secepatnya bisa menindaklanjuti dengan langkah-langkah strategis. “Potensi Wonosobo, memang saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian, namun demikian tak menutup kemungkinan usaha di sektor lainnya juga berkembang baik, seperti usaha di industri Pariwisata yang kini juga menunjukkan geliat menggembirakan,” tuturnya. Kepada penggantinya, Hera mengaku telah mempercayakan kelanjutan dari perhitungan hasil sensus ekonomi 2016 di Kabupaten Wonosobo, serta berbagai upaya lain yang menjadi tugas pokok BPS.
Sukiswati sendiri, selaku pimpinan baru BPS Wonosobo mengaku siap sepenuhnya meneruskan pekerjaan yang selama 7 bulan diemban Herawati. Perempuan yang telah 28 tahun berkarir di Badan Pusat Statistik itu menyebut karakteristik Wonosobo dengan Kabupaten Tabanan tak begitu jauh berbeda. “Potensi Pariwisata dan pertanian di Wonosobo ini juga sangat mirip dengan Tabanan, yang menjadi tempat kami bekerja selama 8 tahun terakhir,” jelas Sukiswati.
Menanggapi pergantian pucuk pimpinan BPS Kabupaten Wonosobo tersebut, Wabup berharap agar program-program kerja yang telah disusun lembaga tak terlalu terpengaruh. “Kemampuan bu Herawati maupun Bu Sukiswati saya yakini akan membuat BPS Wonosobo tetap berjalan di relnya,” tegas Agus. Salah satu yang menjadi pekerjaan rumah penting bagi BPS menurut Agus adalah mengupayakan akurasi perhitungan prosentase tingkat kemiskinan di Wonosobo. 
“Kami tengah berupaya menggenjot jumlah ketersediaan jamban sehat bagi warga, yang selama ini menjadi salah satu indikator kemiskinan, dan saya berharap BPS mengawal program ini, sehingga dalam setahun atau dua tahun mendatang, prosentase kemiskinan di Wonosobo menurun secara signifikan,” tutup Wabup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here