Tepis Hoax, Puluhan Guru Wonosobo Berlatih Menulis Dan Memahami Penulisan

WONOSOBOZONE – Menjadikan sebuah tulisan hingga menjadi layak untuk dibaca oleh orang lain membutuhkan proses pembelajaran tersendiri. Hal tersebut diakui oleh sedikitnya 27 guru yang tengah mengikuti kegiatan ‘Guru Menulis” yang diselenggarakan Koran Harian Pagi Wawasan di salah satu rumah makan Kabupaten Wonosobo, Sabtu (11/11). Selain belajar mengasah kemampuan guru dalam menulis artikel maupun karya ilmiah, Ketua panitia, Teguh Slamet Widodo mengatakan pelatihan menulis bagi guru tersebut menjadi salah satu upayanya untuk menangkal informasi hoax yang marak beredar. “Banyak berita palsu atau hoax yang kerap sekali disebarluaskan. Hal itu dikhawatirkan dapat berimbas pada beberapa media benefit seperti media cetak Wawasan. Kami yang telah 30 tahun eksis berdiri ini, tak ingin hal seperti itu terjadi. Selain itu, kami juga upayakan agar generasi penerus dapat terbebas dari informasi palsu itu,” ungkap Teguh di sela acara pelatihan ‘Guru Menulis’..
Tak tanggung-tanggung, Teguh mengaku pihaknya telah menghadirkan Pimpinan Redaksi (Pimred) Koran Wawasan, Aulia Muhammad bersama Kepala Divisi Sumber Daya Manusia Koran Wawasan, Widyartono dalam kegiatan positif tersebut. “Kami bertekat menebarkan ‘virus menulis’ di kalangan guru Wonosobo untuk menemarkan penyakit demam menulis seperti artikel. Dengan harapan, nantinya dapat berimbas pada menulis bahan ajar, menulis buku, dan menulis apa saja yang dilakukan oleh guru,” tegasnya.

.
Salah satu narasumber yang juga menjabat sebagai Pimred Wawasan, Aulia Muhammad menyebut upaya pembelajaran dalam menulis memerlukan sebuah motivasi yang tinggi dan kuat. Selain itu, pria yang juga sebagai salah satu pencetus media onlinewawasan.co mengatakan bagi seorang guru, menulis seharusnya dapat dijadikan sebagai sebuah hal yang mudah untuk dijalani, karena selain menghasilkan poin angka kredit, juga bisa menghasilkan koin. “Guru setiap hari berhadapan dengan masalah dan pasti menemukan juga solusinya. Tinggal dituliskan, maka jika dimuat di media massa dapat menambah angka kredit,” katanya.

.
Namun faktanya, sebut Aulia, sering kali menulis masih menjadi momok yang menghambat bagi guru, utamanya karena menulis menjadi satu syarat dalam kenaikan pangkat guru. “Solusinya, guru dapat berlatih menulis di media massa dengan bahasa popular, cukup singkat, baru kemudian guru dapat mengembangkannya menjadi makalah, atau bahkan penelitian ilmiah,” katanya.

.
Terkait berita hoax, Aulia mengatakan para guru merupakan tembok utama setelah keluarga atas asupan informasi yang diterima para siswa. Jadi, lanjutnya, pemahaman akan penulisan oleh pada pendidik menjadi sangat penting di era kemudahan dan keterbukaan informasi seperti pada jaman generasi Y dan Z ini. “Hasil pelatihan ini harapannya mampu membantu guru untuk dapat mahir menulis di media massa, sehingga dapat meningkatkan kompetensi profesionalnya. Dimana imbasnya nanti ke siswa menjadi positif. Bebas dari berita Hoax dengan meminimalisir dan menyaringnya,” tandasnya.

.
Sementara menurut Widyartono dalam pemaparan materinya mengungkapkan cara mudah menulis adalah mengganti kebiasaan bercerita dari lisan menjadi tulisan. Pria yang juga menjabat sebagai Dosen Universitas negeri semarang itu menyebut sebuah tulisan akan memiliki gaya penulisan yang berbeda satu sama lain berdasarkan gaya bertutur penulis. “Membagikan sebuah warta, peristiwa atau kejadian dan opini kepada publik perlu memperhatikan materi yang ditulis, apakah penting? Ataukah menarik? Semuanya akan dapat bernilai jika kita memperhatikan cara dan aturannya dalam menulis,” terangnya dihadapan puluhan guru dari TK hingga SLTA sederajat Wonosobo.

.
Tetapi menurutnya, kedua hal tersebut bisa dikemas dengan cara menarik. Bapak dari dua anak tersebut juga berbagi tips dengan memulai mengarahkan peserta untuk membuat judul yang menarik, enak diucapkan atau dibaca dan langsung menancap di pemikiran para pembacanya. Hal ini menurutnya, bisa lakukan dengan mudah apabila guru menguasai kosa kata atau memperkaya diksi dan rima. Selain mengemas tulisan dengan judul dan konten yang menarik nan menggoda, Pria yang akrab disapa Wid juga menyebut para penulis bisa memanfaatkan foto yang menarik. Karena jika fotonya menarik dan menggambarkan sesuatu, penulis pemula sekalipun akan merasakan kemudahan dalam menulis sekaligus menceritakannya. itu juga mengungkapkan, membuat foto yang menarik bisa melalui sosok dan aksi serta peristiwa. “Bisa saja karena sosok dalam fotonya sudah menarik atau aksi yang dilakukan sosok dalam foto terkesan menggoda, bahkan menyentuh. Bisa juga sebuah peristiwa Kemudian diceritakan dari foto itu. Nah jadilah sebuah tulisan. Jika tulisan dan foto sudah terkemas dengan baik, maka peluang mengenalkan tulisan yaitu dengan membagikan informasi yang sudah dikemas kepada khalayak yang dituju lewat beragam media, email, jejaring sosial, media massa, media elektronik akan terasa mudah. Yang terpenting adalah menggunakan referensi yang valid, biar terhindar dari berita hoax,” pungkas pria yang juga berkelahiran di Wonosobo itu. (Ard)

 

Tanggapan Para Peserta :

1.    Rini Astuti MM. Pd. (42 th – Guru Mapel Bahasa Indonesia di SMP N 1 Selomerto)

“Pelatihan ini sangat bermanfaat buat saya karena saya ingin sekali bisa menulis. Saya mendambakan pelatihan seperti ini. Akhirnya ada kesempatan untuk mengikuti pelatihan seperti ini. Banyak membuka wawasan saya. Insyaallah saya akan lebih giat belajar menulis dan menulis,” tanggap Rini.
Rini mengaku pihaknya sudah pernah menulis untuk artikel ilmiah sebanyak dua kali yang bertajuk ‘Hasil Penelitian Tindakan Kelas’ untuk lingkup Kabupaten dan lingkup Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan untuk media baik cetak maupun elektronik, Rini mengaku belum pernah menulis maupun mengirimkannya. Kedepan, Rini berharap tak hanya pelatihan menulis artikel saja, melainkan juga ada kegiatan pelatihan penulisan untuk buku teks maupun buku materi pembelajaran sekolah. “Jadi ada dua jurnal yang pernah saya tulis. Semoga dengan adanya pelatihan ini, kemampuan para guru untuk mengembangkan minat dan bakat dalam menulis dapat tersalurkan,” harap wanita kelahiran Wonosobo 7 September 1974 itu.


2.   Eri Sumarwan M.Pd. (39 th – Guru Mapel Bahasa Indonesia di SMP N 5 Kepil)

“Pelatihan ini sangat positif ya, karena kegiatan seperti ini sangat membantu guru-guru yang terutama pingin menulis. Kan mereka butuh wadah. Kemudian dari wadah itu, para guru akan bisa mengasah ide-idenya menjadi sebuah tulisan. Tapi kalau gak ada wadah kan pastinya jadi susah ya. Seperti kebanyakan guru disini masih minder, masih takut masih belum tahu tulisan-tulisan yang bagus itu seperti apa,” tanggap Eri.

Eri mengungkapkan pihaknya telah lama mencari wadah seperti pelatihan menulis tersebut. Karena Eri sendiri menyebut dirinya kerap mendapat informasi pelatihan menulis, namun tidak dapat mengikutinya lantaran jauh. Semasa kuliah, Eri mengaku pihaknya rutin mengikuti pelatihan penulisan, bahkan sempat sampai membuat sebuah buku. Namun hal itu dirasa olehnya menjadi semakin luntur karena sudah cukup lama ia tidak kembali melakukan sebuah penulisan baik buku, artikel maupun opini. “Wonosobo sering menyelenggarakan lomba membaca, menulis bahkan lomba gerakan literasi, cuma kan yang jadi pertanyaan wadah penulisan seperti ini belum ada di Wonosobo. Belum pernah dilakukan. Pelatihan ini juga saya rasa bagus, karena ada kontinuitas atau keberlanjutan. Kami tetap dipantau penulisannya oleh pihak Wawasan sampai benar-benar layak menulis,” pungkas pria kelahiran Magelang itu.

 
3.   Laela Nur Janah S.Pd (24 th – Guru Mapel Kimia di SMK NU Kejajar)

“Saya sangat tertarik mengikuti pelatihan ini, karena selain motivasi dari suami, saya juga berniat untuk dapat menulis serta memahami hakikat penulisan. Dengan harapan nantinya dapat berimbas pada bertambahnya wawasan saya akan penyaringan berita hoax. Miris saya melihat kondisi Indonesia terutama pada generasi penerus menjadi gesek karena informasi hoax yang diterimanya. Saya tak ingin hal serupa terjadi pada anak didik saya,” tanggap Laela.
Laela mengungkapkan tingginya minat dan motivasinya untuk dapat menulis setelah mengikuti pelatihan tersebut semakin menggelora. Wanita kelahiran Wonosobo itu mengaku telah  berniat untuk membuat website dan mengisi konten-kontennya berupa opini maupun artikel ulasan atas karya yang ditulisnya. Dengan mengikuti pelatihan ‘Guru Menulis’, Laela meyakini pihaknya akan dapat menjadi seorang penulis handal seperti idola yang ia follow di akun media sosialnya, Raditya Dika. “Saya awalnya tak suka membaca maupun menulis. Namun setelah mendapat berbagai motivasi yang disampaikan oleh narasumber pelatihan, saya jadi bersemangat untuk menulis. Semoga ide-ide yang saya miliki dapat berkembang disini,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here