Tanah Stieng Diamati Untuk Antisipasi Longsor

WONOSOBOZONE – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menggelar simulasi pengamatan gerakan tanah dan antisipasi bencana tanah longsor di desa Tieng kecamatan Kejajar, (4/11).
Menurut Kepala Subbid Evaluasi Bencana Gempa Bumi dan Gerakan Tanah, Agus Budianto, simulasi ini merupakan kelanjutan dari penyusunan dokumen kontijensi 2 minggu lalu, yang bertujuan agar para OPD yang teribat lebih paham bagaimana menggunakan dokumen ini.
Dari simulasi ini diharapkan bisa muncul kesiapan kepada pihak-pihak yang terlibat pemerintahan desa, kecamatan sampai OPD terkait dalam bermain peran tugas masing-masing, sehingga jelas apa yang harus dilakukan.
Dalam simulasi kali ini, masyarakat sengaja tidak dilibatkan, namun mereka berperan dalam penyusunan dokumen kontijensi bencana saja dengan harapan bisa memahami apa yang telah mereka susun.
Secara keseluruhan para OPD terkait-lah yang terlibat dalam simulasi, PVMBG sendiri menurut Agus, hanya memfasilitasi dari sisi bagaimana memahami bahaya gerakan tanah dan bagaimana mengantisipasinya dengan menyusun dalam satu dokumen kontijensi, sehingga ada SOP dan protap yang jelas dalam menangani termasuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, pada saat terjadi gerakan tanah, yang berujung bencana alam tersebut.
Agus menambahkan, secara kasat mata, masyarakat juga bisa membantu dengan melakukan pengamatan visual. Hal ini menjadi satu alasan dipilihnya desa Tieng sebagai lokasi simulasi. Di desa ini menurut Agus banyak terlihat tebing yang curam, tanamaan yang kurang, banyak bebatuan lepas, dan di Tieng sejak tahun 2012 sudah muncul banyak gerakan tanah berupa luncuran bebatuan, padahal kawasan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, sehingga mereka bisa paham bagaimana bertindak saat kejadian bencana, karena menyangkut kondisi warga yang ada di daerah ini.
Secara umum sistem penanganan bencana sendiri dikendalikan melalui BPBD. Mereka menjadi pusat kendali operasi. Setiap gerakan tanah dan tingginya curah hujan dicatat. Agus mencontohkan, jika kondisi curah hujan lebih dari 100 mm/hari bisa memicu munculnya gerakan tanah yang berbahaya, sebab berdasarkan peta pergerakan tanah di Kabupaten Wonosobo, menunjukkan bahwa Kecamatan Kejajar berpotensi mengalami bencana gerakan tanah. Jenis ancaman gerakan tanah yang teridentifikasi adalah tanah, batu, kayu, lumpur dan jatuhan tanah.
Senada dengan Agus, Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Wonosobo, Mujiono mengungkapkan, dari simulasi ini diharapkan para OPD yang terlibat dalam unsur penanggulangan bencana bisa paham dengan tugas pokok yang harus dilaksanakan.

Termasuk BPBD sendiri, yang menjadi pusat komando tanggap darurat, yang mana tugas pokoknya adalah menyusun rencana operasi, membentuk pos komando lapangan di lokasi bencana, membuat rencana strategis dan taktis, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengendalikan operasi tanggap darurat serta melaksanakan komando dan pengendalian untuk pengerahan sumber daya manusia, peralatan, logistik dan penyelamatan serta berwenang memerintahkan instansi terkait dalam penanganan darurat bencana.
Sementara Kades Tieng, Nasrudin, menambahkan di wilayahnya memang kerap muncul tanda-tanda gerakan tanah, sehingga masyarakat telah bersiap jika muncul tanda-tanda terjadinya bencana tanah longsor, apalagi saat terjadi hujan lebat. Sedangkan Camat Kejajar, Supriyadi, menekankan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak terkait, utamanya BPBD, jika ada peningkatan potensi kebencanaan, yang berasal dari data yang terbaca oleh 2 alat Early Warning System yang dipasang di atas dusun Ngesong. Untuk selanjutnya data ini bisa segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
source : wonosobokab.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here