Soundscape Malam Tahun Baru 2017

WONOSOBOZONE – Malam itu bulan nampak bersembunyi. Sinarnya tak nampak jelas karena tertutupi oleh kumpulan awan hitam. Hembusan angin yang sejuk menyuntik kesegaran di padatnya kawasan bukit bintang Jogja malam itu. Hiruk pikuk kerumunan orang, hingga lalu lalang di setiap jengkal tanah menjadi peristiwa yang ramai di bawah gelap pekatnya langit malam. Jalanan dipenuhi kendaraan bermotor, membuat kawasan itu penuh sesak dan bising. Tempat parkir yang terbatas, trotoar pun penuh dengan kuda besi. Membuat jalanan penuh desak seperti antrean timpang tindih guna mendapat tempat untuk merayakan momentum perganitan tahun.
Bukit bintang Jogja terletak kurang lebih 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta tepatnya di jalan raya Yogyakarta-Wonosari. Ketinggianya sekitar 150 meter dari kota Jogja. Dari situ dapat terlihat keindahan kemerlap Jogja pada malam hari. Tak ayal tempat itu menjadi pilihan menarik bagi para pengunjung untuk menikmati sisa detik-detik akhir di penghujung tahun 2014 sembari menyaksikan meriahnya percikan kembang api di langit Jogja.
Ya, sudah menjadi kebudayaan konstekstual di Indonesia bahwa tahun baru selalu dirayakan meriah dengan letusan-letusan bunga api. Kehadirannya selalu ditunggu-tunggu untuk melengkapi warna-warni di gelapnya langit malam itu. Suaranya yang menggelegar menunjukkan eksistensinya bahwa ada kemeriahan yang dirayakan di tempat meluncurnya bunga api itu. Semakin banyak warna yang dilesatkan, semakin banyak pula kegaduhan suara yang dihasilkannya. Keberhasilan pesta kan tampak jika soundscape dan visual yang diluncurkan ke langit menggebu-gebu memanjakan mata dan telinga. 
Ditambah lagi dengan alunan musik dari warung makan setempat dengan amplifier bervolume tinggi, seakan berusaha memecah kesunyian malam. Beserta dengan bisingnya lalu lalang kendaraan bermotor yang tak banyak bergerak karena kemacetan panjang di jalan bukit itu. Peluit-peluit polisi pengatur lalu lintas saling bersahutan guna mentetirbkan jalanan yang penuh dengan keramaian. Bisa terbayangkan, bukit yang biasanya menyatu dengan soundscape alam, malam itu seperti terbanjiri oleh kebisingan yang tak tertata. Bisa dikatakan, malam itu adalah bencana tahunan di bukit itu. Bukan berarti bencana alam pada umumnya, akan tetapi bencana akan kebisingan yang ditimbulkan manusia yang mengunjungi tempat itu. Karena sebenarnya memang manusialah si pelaku keramaian tahunan itu.
Seperti yang pernah diungkapkan Anderson Sutton (1996) bahwa masyarakat Indonesia menyukai sesuatu yang ramai. Apalagi berkaitan dengan sebuah perayaan. Tak mungkin lepas dari pesta bunyi-bunyian dan konsep pertunjukan guna memenuhi hasrat kepuasan mata dan telinga. Salah satunya adalah perayaan menyambut tahun baru masehi yang sebenarnya merupakan budaya luar yang tumbuh dan berkembang menjadi tradisi kekinian. Perayaan itu tentu saja menyebar hampir di semua pelosok dengan penuh kegembiraan dan harapan untuk menyongsong tahun kedepan yang akan dilaluinya.
Namun kadang mereka berlebihan, menghabiskan beberapa rupiah untuk mengadakan sebuah pesta kegaduhan yang sumbangsih maupun pengaruhnya belum tentu memuaskan penalaran secara hakiki. Mengapa? Karena pergantian tahun logikanya merupakan pertambahan tahun yang artinya jatah umur bumi juga berkurang. Kembali lagi ke perspektif Sutton bahwa naluri bawah sadar manusia memang menyukai sesuatu yang ramai.
Tak heran jika mereka tak sadar ketika kematian pun akan semakin dekat. Atau bahkan mereka merasa berhasil melewati kelampauan sebelumnya dan masih mampu bertahan untuk menyongsong ke akanan sebagai tanda syukur telah diberi umur panjang. Mungkin semua itu bergantung pada pemaknaan realitas, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar.
Sangat disayangkan jika perayaan polusi suara itu hanyalah sebatas gengsi yang dipamerkan budaya luar bila tak mengikutinya seolah tidak ngetrend. Berbeda di China, dalam tradisinya tahun baru memang wajib menyalakan pesta kegaduhan dan pertunjukan kembang api. Semakin meriah, semakin terang dan indah, serta semakin kuat kegaduhannya semakin bagus. Karena, polusi suara petasan, kegaduhan dan nyala apinya diyakini dapat mengusir semua unsur jahat di dunia dalam menghadapi tahun baru. Maka tak heran dalam pemaknaan itu bubuk mesiu ditemukan di China.
Mungkin agak berlebihan jika menganggapnya sebagai polusi suara. Namun demikian tak sedikit orang mempermasalahkannya. Padahal efek buruk dapat menimpa jika skala yang ditimbulkannya besar dan berkelanjutan. Sudah banyak studi kasus tentang dampaknya polusi suara terhadap tubuh manusia. Dr. Luther Terry, mantan peneliti di Badan Bedah AS, membuktikan bahwa polusi suara ternyata bisa mengganggu kinerja jantung, peredaran darah, kinerja hati, pernafasan, tekanan kerangka otot, merubah sistem pencernaan, keseimbangan organ, dan lainnya (sains.kompas.com).
Djohan sendiri dalam bukunya Psikologi Musik (2005) menegaskan bahwa bunyi-bunyian yang cenderung tak berstruktur, bising terlebih distorted dan berlangsung terus menerus akan cepat menstimulan otak untuk stress. Terlebih kiranya pada perayaan pesta menyambut tahun baru, yang selalu akrab dengan dentuman-dentuman kembang api dan hiruk pikuk keramaian manusia, beserta soundscape yang ditimbulkannya. Paling tidak menjadi pukulan keras yang disengaja untuk telinga. Padahal dalam kehidupan keseharian, kebisingan sudah menjadi makanan sehari-hari yang tanpa disadari dapat menggangu kesehatan dan kenyamanan kita.
Maka perlu digaris bawahi lagi bahwa permasalahan ini menempatkan soundscape pesta tahun baru dalam frame etik dan kesehatan. Sama halnya dengan yang diutarakan oleh Aris Setiawan dalam Memahami Soundscape (Kompas, 18 Januari 2010) bahwa sudah saatnya kita mengerti persoalan soundscape dengan benar, serta menempatkannya dalam bingkai koridor etika dan kesehatan. Jika kita mampu memaknai sebuah tindakan dengan lebih bijak, maka perlu dipertimbangkan pula pemaknaan yang tepat dalam merayakan sebuah pengurangan umur. 
Pada kesempatan ini, penulis mengajak untuk bersama-sama merenungi apa yang telah kita perbuat satu tahun belakang. Kebetulan di Desa Sembungan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo akan menutup tahun 2016 ini dengan menyalakan 1000 lilin sembari merenung dan diiringi musik Bundengan. Akan sangat selaras ketika musik Bundengan dilantunkan, dengan kodrat lahiriahnya sebagai instrumen yang bernuansa lembut nan dinamis. Jadi, mau dibawa kemana sisa detik kamu di tahun ini?
Penulis: Muhammad Sa’id Abdulloh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here