Siswa-siswi Tunarungu Donbosco Wonosobo Pentaskan Sendratari Babad Dieng Kolosal

WONOSOBOZONE – Pada peringatan 60 tahun SLB/B Karya bakti dan 77 tahun Dena Upakara Don Bosco yang menjadi lembaga pendidikan siswa siswi penyandang tuna rungu, berbagai pertunjukan memukau disuguhkan dan mengundang decak kagum penonton. Acara lustrum ke-5 yang digelar pada Rabu (10/6) petang tersebut dihadiri Bupati Kholiq Arif, Wali murid, dan Alumni Dena Upakara Don Bosco (Adeco).
“Tahun 2015 Wonosobo ditetapkan sebagai kabupaten ramah HAM berdasarkan perhatian pemkab terhadap pembangunan yang ramah terhadap difabilitas. Harapannya keberlangsungan pendidikan untuk para difabel bisa didukung dengan Perda,”paparan Bupati dalam sambutannya.
Selain acara seremonial di panggung, digelar pula pameran produk karya Adeco yang bertempat di kompleks SLB/B Karya Bakti Don Bosco Sambek Wonosobo.
“Kami bangga anak-anak bisa menampilkan pertunjukkan musik dan sendratari sebagai unjuk ekspresi di bidang seni, meskipun mereka memiliki keterbatasan tetapi terbukti bisa. Bahkan mereka berlatih hanya dalam kurun waktu sebulan untuk pertunjukkan ini,” tutur Agnes  Saptoningsih kepala sekolah Don Bosco (10/6).
Sendratari yang dipentaskan oleh para siswa bertajuk “Babad Dieng” dan dilatih oleh Hengky Krisnawan, seniman asal Seruni Kelurahan Jaraksari, Wonosobo. Menurut Hengky melatih anak-anak yang memiliki kekurangan dalam pendengaran sebenarnya tidak begitu sulit, karena pada dasarnya yang dilatih adalah ketepatan waktu dan kesesuaian dengan musik pengiring.
“Setelah pentas dimulai dipanggung, ibaratnya ‘los’(lepas) saja, yang terpenting diajarkan urutan dengan benar dan sesuai dengan waktunya. Semua saya komando dari jauh dengan isyarat tangan dan hanya berlatih dalam hitungan beberap minggu saja,” tutur Seniman yang terkenal  dengan alat musik Bundengan itu.
Kembali, menurut Sapto, antusiasme Adeco juga tak kalah dengan siswa-siswi yang tampil. Beberapa alumni yang meramaikan Pameran Karya juga terhitung sudah berusia lebih dari 60 tahun, bahkan beberapa yang menggelar stand di aula sekolah merupakan lulusan pertama tahun 1955.
“Beberapa lulusan yang telah menetap di luar kota seperti Solo juga ikut hadir dan menggelar berbagai karya dan dagangannya yang berupa produk tekstil. Ada pula yang memamerkan batik, tenun, sepatu, dan kerajinan kayu dan besi,” imbuh Sapto.
Salah satunya adalah Kartinah (66) merupakan alumni tahun 1961 yang menetap di Solo dan selama ini memiliki usaha kerajinan tekstil dan tenun. Bahkan dengan kemampuannya, Kartinah berhasil mengembangkan usaha yang kini diteruskan empat anaknya.
Selain acara pameran dan pagelaran seni ada pula penyerahan penghargaan kepada siswa dan guru berprestasi sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Meskipun memiliki keterbatasan, salah satu siswa Don Bosco bernama Sumadani berhasil meraih enam medali emas dalam bidang IPA tingkat nasional. Acara ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada tujuh uskup se Jawa Tengah yang mengunjungi Wonosobo dalam rangka Pertemuan Keuskupan. (win)
foto:erwin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here