Seminar Pencegahan Kekerasan Seksual dan Kewirausahaan Anak

WONOSOBOZONE – Salah satu upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak serta menanamkan semangat kewirausahaan, sekaligus sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2016, Pemkab Wonosobo melalui Badan Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Wonosobo menggelar seminar pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dan penanaman semangat kewirausahaan, Kamis, 21 Juli di Ruang KRT.Mangoenkoesoemo Setda, yang dihadiri tidak kurang dari 200 pelajar SLTP, SLTA, guru BK dan komite SMP/SMA/SMK/MA dari kecamatan Garung, Kertek, Selomerto dan Wonosobo.
Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Badan Kependudukan, Keluarga Berencana, Umi Rahayu, mengungkapkan kegiatan ini merupakan salah satu amanat UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak sekaligus sebagai upaya untuk mengurangi angka korban kekerasan seksual anak di Wonosobo. Menurutnya, pengaruh perkembangan teknologi tidak bisa dicegah tapi bisa disaring oleh para orang tua termasuk pendidik, untuk itu pihaknya sengaja mengundang perwakilan komite sekolah sehingga bisa menularkan informasi yang didapat kepada pendidik maupun pihak terkait. Selain itu, melalui seminar seperti ini diharapkan mereka paham dan tahu aturan hukum yang tepat terkait penanganan kekerasan seksual terhadap anak. Sedangkan penanaman materi kewirausahaan kepada pelajar diharapkan bisa menjadi motivasi kepada mereka agar lebih mandiri dan tidak menyusahkan orang tua.
Hal ini ditegaskan Kepala Badan Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Wonosobo, Junaedi, yang berharap melalui seminar ini, muncul upaya nyata agar anak Wonosobo bisa terlindungi dari kejahatan seksual sekaligus memunculkan generasi penerus yang mandiri.
Narasumber kegiatan, pengusaha muda, Desta Hatmoko Adi, menyampaikan perlunya para pelajar memiliki keberanian untuk menjadi kreatif yang dicirikan oleh munculnya pribadi-pribadi yang mandiri, terbuka terhadap hal-hal yang baru, percaya diri, berani mengambil resiko, melihat sesuatu dengan tidak biasa, memiliki rasa ingin tahu yang besar, bisa menerima perbedaan serta obyektif dalam berpikir serta bertindak. Dan yang terpenting menurut wirausahawan muda yang salah satunya punya usaha pembuatan mie ongklok instan ini, harus berani mencoba serta tidak takut gagal. Namun harus tetap dalam koridor prosedur yang benar, dengan tetap mengindahkan aturan serta patuh pada guru dan orang tua.
Sedangkan narasumber lain, dosen UNSIQ, Asyhar Kholil, menekankan perlunya generasi penerus membangun karakter berkompetensi dan visioner di sisi rohani serta menjaga kesehatan dan stamina tubuh di sisi jasmaninya.
Sementara Direktur UPIPA GOW Wonosobo, Nuraini Ariswari, mengemukakan beberapa upaya pencegahan untuk perlindungan anak, diantaranya melalui pemahaman hukum sehingga UU Perlindungan Anak dipahami oleh pemangku kebijakan, pendalaman agama baik di lingkungan sekolah, rumah maupun lingkungan, rutin melakukan simulasi tentang bagaimana mengajarkan anak seperti apa yang tertutup dibalik baju, anak diberikan pengetahuan bahwa itu hanya boleh disentuh oleh 3 orang yaitu diri mereka sendiri, ibu mereka dan dokter, serta zona yang tidak boleh disentuh yakni mulut, pipi, kening, bagian dada dan benda diantara 2 kaki.
Selain peran masyarakat dalam memberikan pemahaman hukum, melakukan amalan-amalan agama, berpihak pada hak anak serta perlindungan pada anak korban kekerasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here