Selayang Pandang Wonosobo ASRI dalam #HUT190WSB


WONOSOBOZONE – Tulisan singkat ini dibuat dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Wonosobo ke-190.
Kabupaten yang yang berada di Provinsi Jawa Tengah ini terletak pada posisi geografis antara titik 7.3 dan 7.5 LU serta antara 109.6 dan 110 BT. Topografi wilayah Wonosobo terdiri dari dataran tinggi disebelah timur sampai utara dibatasi oleh Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Butak, Gunung Prahu, Gunung Kemulan dan Gunung Rogojembangan. Artinya dapat dikatakan bahwa sebagian wilayah Wonosobo merupakan terdiri dari dataran tinggi yang tidak rata. (Kholik Arief dan Otto Sukato: 2010:15) Selain kondisi topografi yang bergunung-gunung, Kabupaten ini juga memiliki sejarah yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Jawa. 
Tanggal 24 Juli adalah sebuah momentum bagi kabupaten Wonosobo mengapa? Karena pada tanggal ini setiap tahunnya Kabupaten ini akan merayakan hari jadinya. Mengapa tanggal 24 Juli? Tanggal ini disepakati sebagai hari jadi Wonosobo karena bertepatan dengan peristiwa heroik beberapa tokoh Wonosobo. Tahun itu bertepatan dengan berlangsungnya masa-masa sulit pulau Jawa, pada saat itu tengah berlangsung Perang Diponegoro. Pada tanggal 24 Juli 1825 adalah tanggal kemenangan tokoh Wonosobo Muhammad Ngarpah dan Mulya Sentika yaitu tokoh Wonosobo yang mengabdikan dirinya menjadi salah satu pasukan pembantu Pangeran Diponegooro, beserta pasukan tempurnya menghadapi tentara kolonial Belanda di daerah Legorok (perbatasan antara Magelang dan Wonosobo). Kondisi alam Wonosobo cukup menguntungkan gerakan pasukan Dipenegoro sebagai tempat bertahan dan melancarkan serangan yang dipimpin oleh Muhammad Ngarpah dan Mulya Sentika.(Tim UGM:1994-1995:71) Karena prestasi yang dihasilkan oleh kedua tokoh ini maka Pangeran Diponegoro memberikan gelar kehormatan, Muhammad Ngarpah dengan gelar KRT (Kanjeng Raden Tumennggung) Setjanegara dan Mulya Sentika dengan gelar KRT. Kertanegara. KRT Setjanegara selanjutnya dianggap sebagai Bupati pertama yang duduk di Kabupaten Wonosobo yang pertama (1825-1832). Sedangkan KRT Kertanegara sebagai Bupati yang ketiga (1857-1863) (Kholik Arief dan Otto Sukanto: 2010:6)
Kesepakatan yang dikuatkan oleh panitia peringatan hari jadi, pada hari jadi Wonosobo ke-182 pada 2007. Tanggal tersebut disepakati sebagai hari jadi Kabupaten Wonosobo sebagai hasil dari penelitian sejarah yang dilakukan oleh Tim peneliti sejarah dari Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh Prof. DR. Djoko Suryo. Karena tanggal tersebut dianggap sebagai hari jadi maka setelah itu dibuatlah chandra sengkala yang berbunyi ”Pandhawa Mulat Tanpa Nyawiji”. Penjelasan serta maksud dari candra sengkala sebagai berikut, bahwa “Pandhawa” dimaknai dengan angka 5, “Mulat” dimaknai memandang dengan dua mata atau angka 2, “Hasta” berarti tangan, yang juga dapat dimaknai angka 8, dan “Nyawiji” atau menyatu yang dimaknai dengan angka 1, pembacaan chandra sengkala didapatkan angka tahun 1825. (Kholik Arief dan Otto Sukanto: 2010:6) {Nova Utomo}
Tetap damai dan ASRI (Aman, Sehat, Rapi dan Indah)
Aman untuk tinggal dan Aman dari Preman, maling serta mafia proyek
Sehat, sebagai sumber berkah masyarakat Wonosobo.
Rapi, Penataan Kota memang benar bersumber pada hati nurani dan demi kepentingan rakyat, bukan semata-mata untuk mengejar Adipura.
Indah, kekayaan alam Wonosobo menarik wisatawan asing untuk datang melihatnya, oleh sebab itu tetap jaga keindahan alam ini untuk anak cucu kita. 
Sumber tulisan :
Djoko Suryo. (1994-1995). Sejarah Perjuangan Rakyat Wonosobo. Yogyakarta: Kerja Sama Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Kabupaten Wonosobo Dengan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Kholiq Arief dan Otto Sukanto C.R. 2010. Mata Air Peradaban Dua Millenium Wonosobo. (Yogyakarta:LKIS)

Nova Utomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here