“Sedikit” Membuka Sejarah Perjuangan Wonosobo

Pada waktu itu nama Hotel Dieng diganti dengan nama Hotel Merdeka (Sekarang Hotel Kresna)
WONOSOBOZONE – Hari Senin Pahing Pukul 08.00 pagi Tanggal 20 Desember 1948, sehari
setelah bombardemen Yogyakarta, Kota Wonosobo mendapat serangan dari
udara yang dilakukan oleh Belanda dengan mengerahkan empat pesawat B-29
dan dua pesawat capung.Mereka menyerang dengan semena-mena memuntahkan
peluru dan menjatuhkan bom secara membabi-buta hingga Kota Wonosobo
luluh lantak.
Mereka menembaki dari udara toko-toko disepanjang
Pasar Wonosobo, memberondong Pendopo Kabupaten dan sekitarnya termasuk
Gereja St. Paulus, rumah-rumah penduduk di Kampung Longkrang, Semagung,
Mangli, dan masih banyak lainnya. Penembakan bertubi-tubi juga dilakukan
pada rumah-rumah di sepanjang Jl. Bismo, Kampung Kauman dan Sumberan,
yang saat itu berbarengan waktunya dengan bergeraknya Pasukan Siliwangi
menuju Jawa Barat setelah beristirahat semalam di Wonosobo. Selain itu
Pesanggrahan Selomanik dan Kompleks Dena Upakara juga tidak luput dari
incaran serangan udara Belanda karena dikira masih digunakan sebagai
markas Tentara Indonesia. Markas Komando Ketentaraan dan Kegiatan Pemuda
yang sekarang berdiri Perpustakaan Wonosobo juga dibombardir dari
udara.
Keesokan harinya Tentara darat Belanda memasuki Kota
Wonosobo dengan tank-tank dan mobil-mobil baja mengira bahwa Republik
Indonesia dalam sekejab telah dikalahkan. Namun Tanggal 21 Desember 1948
Pemerintahan Sipil dan Komando-Komando
Distrik Militer di Wonosobo telah berada di Dukuh Sribit kemudian
menempuh serangkaian perjalanan panjang dengan mengatur pemerintahan dan
siasat operasional militer. Bupati Kepala Daerah pada waktu itu adalah
R.Soemindro dan Komando Militer dipimpin oleh Mayor Kardjono.
Operasi militer yang dilakukan oleh TNI, Masyarakat,dan Pemuda terus
dilakukan seperti pendadakan, penyergapan, ataupun penghadangan seperti
yang dilakukan di Banaran, Pringapus, Reco, Kapencar, Wediasin,
Kaliwiro, sepanjang jalan Selokromo-Tunggoro,
dan sekitar perbatasan Kabupaten Wonosobo – Temanggung. Secara
hakekatnya Pasukan Belanda hanya mampu menguasai Kota Wonosobo, Kertek,
Sapuran, dan Sawangan akibat perlawanan dan perang gerilya para pejuang
Indonesia.
Dalam kondisi perlawanan sengit itu, Pasukan Belanda
juga terus melakukan serangan udara di beberapa tempat dan juga
mengadakan operasi militer untuk melumpuhkan TNI seperti di Mungkung
,Balekambang, dan Semayu. Desa Perboto mendapat hajaran patroli Belanda
sehingga menewaskan 41 orang penduduk desa. Selanjutnya keganasan
Pasukan Belanda berlanjut di Desa Jetis dan Garung dengan membakar
rumah-rumah penduduk. Di Desa Mlandi satu orang anak petani tewas
ditembak ketika berladang. Sedangkan Pasukan Belanda memasang ranjau di
Mata Air Mudal sehingga mencelakakan warga setempat. Di Desa Lipursari
dan Selokromo serdadu Belanda melakukan penggledahan rumah-rumah secara
masal dan membakar Rumah Lurah serta balai desa kedua wilayah tersebut.
Tanggal 18 Oktober 1949 Kota Wonosobo kembali ke tangan Ibu Pertiwi
dengan diserahkannya Kota Wonosobo kepada Republik Indonesia oleh
Belanda. Kabupaten Wonosobo merupakan wilayah ke-2 setelah Yogyakarta
yang diserahkan Belanda kepada Republik Indoneisa.Suasana
heroik dan khidmat terjadi ketika Jam 10.00 pagi pasukan TNI memasuki
kota dan segera mengadakan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di
halaman depan Hotel Dieng ( sekarang Hotel Kresna). Dengan adanya
peristiwa ini pada waktu itu nama Hotel Dieng diganti dengan nama Hotel
Merdeka. Tanggal 20 Oktober 1949 rombongan Pemerintah Sipil dikawal oleh
satuan-satuan gerilya dengan dielu-elukan masyarakat Wonosobo ,memasuki
kota dan dengan haru memasuki Pendopo Kabupaten yang tinggal terlihat
lantai akibat hancur karena dampak perang.
Salam

Sumber : Rangkuman Buku Monumen Perjuangan Kemerdekaan Kab. Wonosobo 1984.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here