Sarasehan Budaya Warga Tumenggungan Angkat Tema Situs Watu Gong

WONOSOBOZONE – Warga Dusun Sawangan, Desa Tumenggungan Kecamatan Selomerto menunjukkan keseriusan dalam mengupayakan terjaganya situs Watu Gong, sebuah situs berisi peninggalan purbakala yang saat ini masih menjadi objek penelitian para arkeolog Nasional. Hal itu terlihat ketika pada Minggu malam (8/10), warga Sawangan menggelar Maiyahan dan sarasehan budaya dengan mengangkat tema ‘Kelingan Lamun Kelangan’. “Tidak ada yang menjadi guru, dan tidak ada yang menjadi murid, semua berkedudukan sama, yaitu mengaji kepada alam semesta. Tidak ada panggung dan tidak ada batas antara pejabat desa dan warga, tidak ada kaya dan miskin, tidak ada pilihan benar dan salah, semua menjadi artis di acara tersebut. Semua menyatu dalam acara Maiyahan ini,” tutur Agustin Ariyani, pemerhati budaya dan benda kuno dari Dinas Pariwisata Kabupaten yang dalam kesempatan tersebut juga bertindak sebagai moderator acara.


Maiyahan, yang menurut Agustin dapat diartikan pula sebagai sebuah kelompok, merupakan kegiatan yang digagas oleh bidayawan kondang asal Jawa Timur, Emha Ainun Najib. Maiyahan diakui Agustin baru berlangsung sekitar setahun di Wonosobo, meski sudah ada di hampir seluruh wilayah di Indonesia. “Biasanya Maiyahan ini berlangsung di dalam ruangan dan seringnya baru di perkotaan, tapi untuk kali ini digelar di ruang terbuka dan di suatu dusun terpencil yang saat ini masih masuk kategori Dusun miskin,” terang Agustin lebih lanjut. Demi mengingat betapa penting dan berartinya Situs Cagar Budaya Watu Gong, warga Sawangan khususnya, dan warga Desa Tumenggungan pada umumnya, dikatakan Agustin membaur dan menyatu dalam gelar acara Maiyahan. “Semua persiapan, mulai dari membersihkan tempat acara sampai menyiapkan hidangan dan membuat obor penerang dilakukan secara ikhlas dan gotong royong warga,” beber Agustin. Dan meski hujan cukup deras sempat turun di arena Maiyahan, warga setempat disebut Agustin tak surut dan tetap menunjukkan semangat kebersamaan.


Melalui acara sarasehan budaya yang dikemas dengan Maiyahan tersebut, ditunjukkan pula bagaimana perjuangan para peneliti mempelajari secara seksama situs Watu Gong. “Pendekatan ilmiah yang tidak melepaskan dari tradisi dan budaya lokal digunakan dalam penelitian yang dibiayai secara independen tanpa bantuan pemerintah ini,” ungkap Agustin. Tim Peneliti Independen, dalam kesempatan tersebut juga menjelaskan, bahwa penemuan Situs Watu Gong ini dilakukan selama satu tahun, menggunakan pendekatan tradisi-budaya yang selama ini ditinggalkan masyakarat Jawa sendiri. “Sebuah penelitian harus melibatkan multi-disiplin ilmu, penelitian Cagar Budaya tidak hanya milik Arkeologi saja, bahkan ilmu sastra-pun diperlukan dalam kajian tersebut,” tandasnya.


Situs Watu Gong, dijelaskan Agustin adalah salah satu situs yang sengaja dikubur oleh leluhur Jawa dengan alasan tertentu. Pembuktian penelitian akan dilakukan dengan menggandeng akademisi dari ITS Surabaya dengan membawa alat-alat teknologi modern seperti georadar dan geolistrik untuk mendeteksi adanya bangunan bawah tanah. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here