Sanitasi Ideal Butuh Anggaran Minimal 2% Dari APBD

WONOSOBOZONE – Masalah persampahan menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mewujudkan  tata kelola sanitasi ideal di Wonosobo. Hingga saat ini, berbagai kendala terkait pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan pemikiran serius berbagai pihak, terlebih bila mengingat semakin menggunungnya tempat pembuangan akhir (TPA) Wonorejo sebagai satu-satunya muara akhir sampah di Kabupaten Wonosobo.
Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda, Agus Dwi Atmojo menyebut sanitasi dan persampahan belum menjadi isu seksi sehingga anggaran yang dialokasikan oleh Pemda akhirnya  masih jauh dari ideal. “Setidaknya 2% dari APBD Kabupaten Wonosobo bisa dialokasikan untuk membenahi sanitasi, sehingga upaya menekan masalah sampah juga akan lebih mudah diatasi,” jelas Agus di sela rapat koordinasi Tim Pokja Sanitasi di ruang rapat Bappeda, Jumat (26/8).
Berkumpulnya Tim pokja Sanitasi Kabupaten, dikatakan Agus juga menjadi salah satu upaya pihaknya untuk mengatasi permasalahan sanitasi tersebut. “Masalah sanitasi ini, seiring semakin bertambahnya waktu dan bertambahnya jumlah penduduk, juga akan semakin rumit, khususnya di wilayah perkotaan,” lanjut Agus. Karena itulah, meski mengakui dari sisi anggaran masih jauh dari memadai, Tim pokja berusaha untuk terus meningkatkan cakupan penyelesaian masalah sanitasi di permukiman secara efektif, dengan mengoptimalkan potensi wilayah. “Salah satunya adalah dengan mengusulkan berdirinya TPST alias tempat pengolahan sampah terpadu di setiap Kecamatan sehingga bisa mengurangi volume sampah di TPA Wonorejo secara Berkewajiban,” bebernya. Agus mengungkap penambahan sampah di TPA Wonorejo, dari Kota Wonosobo saja sudah mencapai setidaknya 198 meter kubik per hari.
Pentingnya TPST juga diutarakan Kasubbag Evaluasi, Perencanaan, dan Pelaporan Sistem Informasi Manajemen, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sigit Pramana. Menurut Sigit, menumpuknya sampah di TPA Wonorejo memang disebabkan salah satunya oleh belum maksimalnya pengolahan mulai dari sumbernya. “Harus diawali dari sumbernya, sampah yang memang layak dikirim ke TPA dipisahkan dengan sampah yang masih bisa diolah lagi sehingga bisa menjadi produk bermanfaat,” terang Sigit. Karakter sampah menurut Sigit juga layak menjadi evaluasi bersama, karena antara sampah dari perkotaan dengan dari Desa jelas berbeda. “Sampah dari pedesaan biasanya didominasi oleh limbah organik, yang seharusnya bisa dikelola untuk pupuk, sedang sampah dari perkotaan biasanya berupa plastik dan kertas yang bisa dipilah lagi sebelum dikirim ke TPA,” pungkas Sigit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here