Sahabat Jiwa, Menyembuhkan dengan Penuh Keikhlasan

WONOSOBOZONE – Begitulah kiranya kutipan yang dapat menggambarkan garis merah dari kisah Ibu Utiyah yang akan disampaikan kepada kawan muda. Mungkin selama ini kita mengira bahwa sakit jiwa hanya bisa disembuhkan jika orang yang memiliki sakit jiwa tersebut dirawat di Rumah Sakit Jiwa atau bahkan kita mengira jika sakit jiwa tidak bisa disembuhkan. Siapa sangka, seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru di daerah Erorejo, Wadaslintang, Wonosobo berhasil membuktikan jika sakit jiwa ini dapat disembuhkan meskipun tidak dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Nah, pada rubrik kisah kali ini, kami mengajak kawan Wonosobo Muda untuk mengenal lebih dekat siapakah sosok Ibu Utiyah ini.
Selayang Pandang Ibu Utiyah
Ibu Utiyah kini berusia 45 tahun. Beliau lahir di Wonosobo pada 01 Februari 1969. Ibu Utiyah adalah lulusan D2 IAIN Walisongo yang kini tengah menempuh pendidikan S1 di UNSIQ jurusan Pendidikan Guru Agama.  Hari- hari Ibu Utiyah diisi dengan aktivitasnya sebagai pengajar pendidikan Agama di SD 01 Erorejo sekaligus menjadi terapis gangguan jiwa. Ibu Utiyah memiliki empat orang anak dan seorang suami yang bekerja sebagai pengepul ikan nila. Ibu Utiyah yang  memiliki hobi membaca buku- buku yang bermanfaat ini sejak kecil bercita- cita menjadi guru dan sangat menyukai pelajaran agama islam.
Bu. Utiyah
Saat ini, selain menjadi guru, Bu Utiyah juga menjadi Terapis penyakit jiwa bagi orang-orang yang depresi dan mengalami gangguan jiwa. Diungkapkan olehnya bahwa aktivitasnya sebagai terapis merupakan wujud rasa syukur beliau karena masa lalunya. Ya, dahulu beliau pernah mengalami depresi. Diceritakan sewaktu mengalami depresi  beliau merasa ruhnya seakan berada di alam yang berbeda dengan jasmaninya. Dulu beliau sempat dibawa ke Rumah Sakit Jiwa dan diberi obat, namun obat tersebut tidak beliau minum. Kala itu beliau terus berzikir dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya dengan izin Yang Kuasa, beliau sembuh dari penyakit depresinya. Pengalaman pribadi di masa lalu inilah yang melatar belakangi Bu Utiyah untuk menyembuhkan orang – orang yang memiliki sakit jiwa. Bu Utiyah  merasa terpanggil untuk membantu orang-orang yang depresi dan punya gangguan jiwa agar sembuh dari penyakitnya tanpa harus dibawa ke dokter dan  minum obat.
Gangguan Jiwa di mata Ibu Utiyah
Pada masa seperti sekarang ini masih banyak orang yang memiliki gangguan jiwa dipandang sebagai sebagai orang yang pantas diolok-olok, dijauhi dan dikucilkan. Depresi dan gangguan jiwa masih dianggap sesuatu yang ‘negatif’ di mata masyarakat. Masyarakat biasanya menyebut dengan sebutan orang  gila, yang kemudian seringkali yang yang memiliki gangguan jiwa ditakuti. Padahal sebenarnya orang dengan gangguan jiwa membutuhkan support, dukungan moral dan psikologis dari keluarga dan lingkungannya, bukan dibuang dan ditelantarkan.  “Sebagai orang yang mengenal Tuhan, harusnya kita tidak memperlakukan orang gangguan jiwa dengan tidak sepantasnya. Tidak boleh mengejek orang lain. Orang yang hatinya belum kebuka, pasti akan mencaci. “, ujar Bu Utiyah. Orang dengan gangguan jiwa pasti punya latar belakang mengapa mereka bisa mengalami sakit itu. Dihadapan Bu Utiyah, orang dengan gangguan jiwa itu sebenarnya punya kekuatan. Oleh karena itu, orang dengan gangguan jiwa  yang dibuang oleh keluarganya, oleh Bu Utiyah akan ditampung dan diurusnya.  Bu Utiyah berusaha mengarahkan kekuatan dibalik orang dengan gangguan jiwa itu untuk kembali ke Tuhan dengan cara mengajarkan banyak berzikir kepada mereka.
Menyembuhkan dengan hati
Lalu bagaimana cara Bu Utiyah menyembuhkan orang dengan gangguan jiwa tersebut?
Jadi pada setiap pasien ini nantinya akan diminta untuk menceritakan masalahnya. Setelah itu beliau akan mencoba untuk memberi sugesti atau saran yang berisi motivasi atau semangat agar pasien tidak putus asa dan berlarut dalam masalahnya. Beliau akan memperlakukan setiap pasien dengan baik dan penuh perhatian, beliau memijat pasien agar rileks dan memberi air yang sudah dibacakan zikir kepada pasien. Pasien diberi makan secara cuma-cuma dan dirawat baik secara fisik seperti dibantu menjaga kebersihannya. Tidak berhenti disitu, beliau juga akan membekali rohani para pasien agar mental mereka kuat yaitu dengan penguatan iman dan mengingat Tuhan / berzikir. Terapi yang beliau lakukan adalah dengan memberikan siraman rohani dan penguatan iman pasien. Biasanya pasien melaksanakan sholat berjamaah dan setelah sholat diadakan tausiyah yang membahas terutama tentang keimanan kepada takdir. Semua yang beliau lakukan ini adalah dengan ketulusan hati dan penuh keikhlasan.
Saat ini sudah ada hampir 90 pasien yang tinggal di rumah beliau. Sebagian besar pasien mengalami depresi karena masalah pribadi, kekerasan rumah tangga, gagal menikah, dan pasien yang mendengar suara-suara yang menakutkan atau berhalusinasi.  Dari beberapa pasiennya ini, terdapat keluarga pasien yang berkunjung secara berkala. Dan nantinya pasien yang sudah sembuh akan dikembalikan kepada keluarganya. Hebatnya, Bu Utiyah melakukan semua itu secara ikhlas dan tidak meminta bayaran. Kalaupun ada yang mau bersedekah, uangnya akan digunakan untuk kebutuhan para pasien seperti membeli beras dan makanan. Beliau juga bersyukur banyak pihak yang pernah membantu beliau seperti media televisi yang pernah meliput beliau yaitu DAAI TV, wakil bupati, pemerintah sampai vokalis band rege asal Wonosobo -yang profilnya pernah dimuat di Wonosobo Muda- pun turut membantu.
Kerikil kecil
Dalam berjuang menyembuhkan orang- orang ini, tidak jarang Bu Utiyah mendapat cemoohan dari tetangga karena mau mengurus orang gila. Namun beliau menganggap cemoohan tersebut sebagai angin lalu dan tidak terlalu mempedulikannya. Ternyata perjuangan beliau untuk menolong orang-orang tersebut juga sempat mendapat pertentangan dari keluarganya dulu. Suami dan anak pertamanya sempat tidak setuju dengan keputusannya untuk membantu orang yang sakit jiwa. Bahkan anaknya sampai tidak mau pulang ke rumah karena ibunya merawat orang yang sakit jiwa. Namun, Bu Utiyah menanggap permasalahan ini dengan merefleksikan kembali kepada masa lalunya, bagaimana jadinya jika beliau dulu tidak sembuh dari depresi, siapakah yang akan mengurus keluarga ? Begitu juga dengan orang yang saat itu sedang beliau rawat, bagaimana nasib keluarga dan orang yang ditinggalkannya ? Tidak hanya itu, adik terakhir beliau juga dulu sempat tidak suka dengan tindakan Bu Utiyah sampai-sampai memukul dan mengusir Bu Utiyah. Namun, tantangan yang beliau alami tersebut akhirnya berhasil dilewati. Keluarga Bu Utiyah  tersadar dan bahkan kini mendukung segala upaya beliau dalam menyembuhkan orang dengan gangguan jiwa.
Mengambil Hikmah dari Kisah Bu Utiyah
Cita- cita Bu Utiyah sungguh mulia, hanya ingin membantu ‘membersihkan’ orang-orang yang dianggap sampah oleh masyarakat awam, atau ingin membantu orang-orang dengan gangguan jiwa agar bisa sembuh dan produktif kembali. Bu Utiyah sangat bersyukur dengan hidupnya saat ini. Dan apa yang dilakukan bukanlah beban tapi justru menambah kenyaman bagi hidup beliau. Walaupun kini jumlah pasien nya semakin bertambah, tapi beliau tidak pernah kekurangan dan selalu berkecukupan, karena bantuan selalu datang tanpa diduga.
Ketua Komisi D Ahmad Faizun didampingi Kepala Dinsos berdialog dengan Utiyah dan salah satu pasiennya
Dari kisah perjalanan dan perjuangan Bu Utiyah dalam menyembuhkan pasien yang mengalami sakit jiwa ini, kita dapat mengambil pelajaran hidup. Sebagai manusia biasa,kita harus senantiasa bersyukur dengan apa yang diberi oleh Sang Kuasa.  Banyak cara yang dapat kita lakukan sebagai wujud rasa syukur kita, dengan membantu orang lain adalah termasuk salah satunya. Kemudian, dalam hidup tentu saja ada kelebihan dan kekurangan yang dianugerahkan kepada kita. Dan kepada kekurangan yang ada pada diri kita sebaiknya kita tidak lantas putus asa dan menyerah begitu saja. Sepatutnya menanggapi kekurangan yang kita miliki dengan bijak. Percaya saja apabila dijalani dengan ikhlas kekurangan kita justru mampu menjadi kelebihan bagi kita. Ketulusan hati dan keikhlasan Bu Utiyah dalam menyembuhkan pasien juga mengajarkan kepada kita betapa pentingnya kebaikan hati ini dalam menjalani kehidupan di dunia.
Sebagai penutup, Bu Utiyah memiliki pesan untuk kawan Wonosobo Muda yakni agar memperkuat iman, karena iman adalah pondasi kehidupan,dengan iman kita tidak akan rapuh, putus asa dan terhindar dari depresi, dengan iman pula segala cita-cita akan tercapai!Ingat selalu ketulusan hati, keikhlasan, dan kekuatan iman pada diri kita.
Semoga menginspirasi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here