Sadar Bencana Melalui Refleksi Nusantara Untuk Palu

Magelang (11/10) – Terpaan bencana alam di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Palu, Donggala, serta Sigi di Provinsi Sulawesi Tengah selain membawa nestapa kesedihan seluruh negeri juga harus menjadi pelecut tentang pentingnya kesadaran membumikan peringatan dini atas bencana. Tidak pernah diketahui kapan, di mana, dan bakal seperti apa wujud bencana alam. Namun kesadaran atas posisi Indonesia sebagai negeri kepulauan di sekitar garis katulistiwa, di antara pertemuan sejumlah lempeng aktif dunia, dan dengan tebaran gunung berapi aktif menjadikan kawasan itu rawan segala wujud bencana alam.
Berangkat dari fakta itu, Atria Hotel Magelang bekerjasama dengan Lintas Komunitas menggelar sebuah pertunjukan berjudul Refleksi Nusantara Untuk Palu pada hari Rabu, 10 Oktober 2018.

Pertunjukan yang digelar di Paramount Ballroom Atria Hotel Magelang tersebut sukses mengundang ratusan penonton dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintahan, pejabat kepolisian dan militer, tokoh agama, akademisi, dan kalangan lainnya.

General Manager Atria Hotel Magelang, Chandra Irawan mengatakan bahwa acara ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Atria dan masyarakat Magelang terhadap bencana Palu dan bencana nasional yang terjadi akhir-akhir ini. “Melalui acara ini, kami ingin memberikan support kepada para korban sekaligus mengingatkan masyarakat untuk tanggap bencana. Kami juga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk bersatu-padu saling menguatkan ditengah duka yang terjadi, bukan malah terpecah belah karena isu pemilu 2019 mendatang”, terang Chandra.

Disamping itu, diharapkan acara ini dapat menjadi pengingat bagi pemerintah untuk mengedepankan usaha-usaha mewaspadai bencana alam sebagai kebutuhan utama, sebab mencegah kerusakan dan jatuhnya korban lebih lebih baik daripada penanganan karena telah terjadi bencana alam. Berbagai kegiatan pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana umum, serta ketaatan kepada tata ruang wilayah untuk memenuhi kemakmuran masyarakat, harus diperhitungkan dengan cermat. Jangan sampai pembangunan menjadi terasa pilu atau sia-sia karena perencanaannya mengelak dari peringatan dini bencana alam.

BACA JUGA:  Bangsal Ibnu Sina RSI Wonosobo "Terbakar", Pasien Shock

Sebanyak 20 komunitas seni & budaya Magelang meramaiakan acara ini. Seperti tarian tradisional, musikalisasi puisi, pantomin, hingga teater dipadukan secara runtut dan apik sehingga menciptakan pesan-pesan refleksi atas kebencanaan nasional. Ditengah-tengah pertunjukan, diselingi dialog singkat mengenai kebencanaan dari berbagai bidang. Diantaranya adalah Bapak Edy Susanto selaku kepala pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Gus Mansur selaku tokoh agama, Bapak Tanto selaku budayawan, dan dokter Semion Remon.

Ditengah acara panitia juga memberikan kesempatan bagi penonton untuk berdonasi.”Total donasi yang terkumpul sebsar Rp 6.324.000,00. Donasi akan disalurkan untuk korban bencana Palu melalui pihak yang berwenang”, terang Asisten Public Relation Manager Atria Hotel Magelang, Dian Indri Cahyani.
Alam tidak pernah meminta, ia hanya memberi. Manusialah yang selalu tak mampu menerima pemberian alam karena ngawur berdialog dengannya. Alam tidak bisa disalahkan. Ia hanya melakukan peristiwanya. Manusia diajak menerima peristiwa itu dengan berpikir dan menghayati keberadaannya. Menghayati keberadaan alam, salah satunya dengan tanggap bencana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here