• Senin, 15 Agustus 2022

Tak Bisa Balik

- Jumat, 13 Mei 2022 | 05:41 WIB
Hakikat-Ibadah
Hakikat-Ibadah

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Jika mati, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak juga melakukan perubahan, peningkatan kualitas hidup dan amal salih. Kalau ada sedekah jariyah. ilmu yang bermanfaat dan anak salih, barulah ada pahala yang masih bisa diterima. Juga pahala atas amal salih lainnya. Ini pun belum tentu, sebab amal salih berupa salat, puasa, zakat, haji dan selainnya  bisa saja habis. Penyebabnya pada saat yang sama, kita menghadap Allah disertai kezaliman dan dosa terhadap sesama manusia. Sehingga bisa tanpa saling memaafkan dan memenuhi hak-haknya, kita adalah orang yang bangkrut (muflis).

Juga saat sudah berada di kubur, kita tak bisa balik ke dunia. Untuk apa ? Menjadi salih, ikut golongan orang salih, mengajari anak-anak agar menjadi salih, memberi manfaat dan bersedekah. Tidak bisa. Maka, kalau mau baik ya di dunia ini.
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (TQS. Munafiquyn[63]:10).

Ayat tersebut memberi petunjuk pada manusia supaya baik-baik saja dalam hidupnya; supaya berinfak, menggunakan karunia Allah untuk kebajikan, mencari ilmu dan punya keturunan yang salih. Tidak perlu menunggu jadi ini-itu untuk beramal salih atau waktu yang tepat. Sekadarnya saja sesuai dengan kapasitas dan kapabiilitas yang dikaruniakan Allah. Semua waktu dan karunia Allah selalu tepat untuk menjadi salih di hadapan Allah. Ibarat kata; dengan sebutir kurma, seteguk air dan selembar kain pun bisa dipakai untuk ‘unjuk muka’ di hadapan Allah (ngunduh rahmate Gusti Allah); apalagi dengan sujud penuh kehambaan disertai perbelenjaan yang lebih besar untuk Allah.

Kata orang Jawa, “Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane.” Mumpung kesempatan masih terbuka seluas-luasnya. Mumpung sehat, kaya, sempat; muda dan hidup. Hal ini adalah “kanggo sebo mengko sore” yang mengandung makna untuk mencapai “Ĥusnul Khátimah”; supaya baik di akhir kehidupannya alias memperoleh rahmat Allah. Dalam rahmat-Nya, tak akan menyesal saat berada di alam kubur dan berteriak-teriak minta balik ke dunia. Sebaliknya, dia akan tenang tanpa disertai rasa takut dan khawatir (Q.S.Fuhsilat[41]:30).

Selama ini, kita biasa mengandalkan rahmat Allah, namun mengarah pada konotasi negatif. Ada ungkapan yang seolah-olah penuh ketakwaan dan keimanan, tetapi cenderung melupakan apa yang seharusnya dilakukan di dunia ini bahkan cenderung tidak tepat dalam memahami kehidupan dunia. Misalnya “Hanya Allah Yang Maha Memberi Rezeki,” ”Jangan memohon kepada selain Allah,” dan sebagainya. Bahkan dengan santainya berkata,”Masuk surga bukan karena amal, tapi karena rahmat Allah.” Nabi saja masuk surga karena rahmat-Nya.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X