• Senin, 15 Agustus 2022

Mudik Sebenarnya

- Jumat, 6 Mei 2022 | 00:43 WIB
mudik-lebaran
mudik-lebaran

Oleh : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Dulu, istilah “orang udik” dan “kampungan” sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari dan jagad hiburan. Konotasinya pun negatif, yakni menonjok seseorang yang kurang pendidikan, kerja rendahan, berpikir sempit dan tak berperadaban. Seiring berjalannya waktu, istilah “kampungan” atau “orang udik” semakin jarang kita dengar. Hal ini mungkin karena tidak faktual serta taubat dari merendahkan orang lain.

Faktanya memang orang kampung sudah tampil positif secara kultural maupun intelektual. Orang kampung semakin modis, pinter, dan berpendidikan. Sehingga kesan illeteral, tidak berbudaya dan beradab semakin minimalis. Padahal kesan intelektual, kritis, logis dan berpendidikan pun belum tentu ada pada orang kota. Apalagi bila terkait perilaku, budaya dan intelektualitas. Budaya busuk seperti misalnya menipu, suka mengumbar amarah, mencaci, tidak berbelas kasih dan dzalim bukan semata domain orang udik, tetapi juga orang kota.

Orang udik semakin berpendidikan. Mereka bahkan ‘menyerbu’ kota dengan berbagai profesi atau lebih tepatnya menjadi unsur penting membangun kota. Mereka berkontribusi membuat kota semakin moncer, menjulang tinggi dan berperadaban. Dari sudut pandang ini, semua orang kota asalnya adalah orang udik atau orang kampung. Lama tinggal di kota, maka secara natural mereka ingin kembali ke kampung atau kepada asalnya.

Itulah naturalitas atau bisa juga disebut fithrah. Manusia berasal dari kuasa Allah, maka manusia kembali kepada hadirat Allah. Manusia pasti kembali kepada-Nya dan diberitahu apa-apa yang telah diperbuatnya di dunia (Q.S.Al-Baqarah[2]:29,46,156; Al-An’am[6]:,36,60; Yunus]10]:4,23,70). Seberapa lama pun di dunia (merantau), manusia pasti kembali kepada-Nya serta dikumpulkan ke hadirat-Nya (Q.S. Al-Baqarah[2]:285; Al-Maidah[5]:96; Al-An’am[6]:72; An-Naba’[78]:18).

Jadi wajar apabila setiap orang ingin kembali ke kampung halaman dan bertemu keluarga. Untuk ini walaupun tampak sebagai aktivitas duniawi (profane), namun bernilai ukhrawi. Sebab, kepulangan dan pertemuan mereka mengandung nilai kebahagiaan (idkhal al-surur), kesyukuran, merajut hubungan kekerabatan baik yang serahim maupun sesama manusia (silat al-rahim dan al-rahmi).

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X