• Senin, 15 Agustus 2022

Puasa, Cinta dan Keluasan Hati

- Jumat, 29 April 2022 | 04:03 WIB
images
images

Oleh : Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

WONOSOBOZONE.COM - Nabi Muhammad saw. membawa tongkat komando. Beliau berdiri tegak sebagai panglima perang. Suatu hari, pada saat memeriksa barisan; beliau mendapati Suwwád bin Ghaziyya kurang serius dalam barisan. Kemudian beliau menyentakkan tongkatnya ke perut Suwwad seraya bersabda,”Hai Suwwad, tegak lurus-lah kamu dalam barisan!.” Sawwad menjawab,”Wahai Rasulullah, anda telah menyakiti diriku, sedang engkau diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan, maka tunjukkan perut anda agar aku bisa membalas atas apa yang telah engkau lakukan padaku.”

Mendengar ‘gugatan’ Siwwad, Rasulullah saw. menyingkap jubah seraya bersabda,” Balaslah Suwwad !.” Seketika itu Suwwad menunduk, merangkul sangat erat perut Rasulullah sampai beliau nyaris terjengkang. Rasulullah saw. bersabda,”Mengapa kamu mendorongku wahai Suwwad ?.” Suwwad berkata,” Aku ingin di akhir hidupku, kulitku ini bisa menyentuh kulitmu yang mulia wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah saw. mendoakan Suwwad.

Dalam peperangan Suwwad mati syahid berjuang bersama Rasulullah saw. menegakkan kemuliaan kaum muslimin. Apa yang dilakukan Suwwad merupakan kecintaannya terhadap Rasulullah saw. Dia melakukan strategi jitu agar memperoleh serpiahan kemuliaan Rasulullah saw. Dan dia tulus berjuang bersama Rasulullah saw.

Seorang pecinta berjuang bersama pemimpinnya. Memang seoalah-olah Suwwad membenci Nabi. Tidak, dia bukan pejuang oportunistik, pembalas dendam dan penghujat, apalagi terhadap Rasulullah saw yang mulia. Kalau dia ingin menyakiti Rasulullah saw., dia sangat dekat dan berkesempatan besar menyakitinya. Tetapi, dia hanya ingin menyatakan cinta dan mengikuti perjuangannya demi Allah dan RasulNya.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X