Ratusan Pelajar Ikuti Seminar Cerdas Dalam Bermedia Sosial

WONOSOBOZONE – Sedikitnya 180 pelajar SMA/SMK bersama 90 guru SMA/SMK yang mengampu kesiswaan dan Bimbingan Konseling mengikuti seminar pendidikan karakter bertajuk cerdas dalam ber Media Sosial, Rabu, 16 Desember di Gedung Sasana Adipura Kencana.
Menurut Kepala Seksi Data, Informasi dan Pengembangan Bidang Bina Program dan Pengembangan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, Lintang Esti Pramanasari, kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan seputar fenomena media sosial beserta implikasinya serta menggali dan memperkaya metode pendidikan karakter bagi siswa dengan media sosial sebagai alat.
Selain itu melalui kegiatan ini diharapkan bisa memberikan panduan dalam penggunaan media sosial dari aspek teknologi dan psikologi serta mengasah kepedulian pelajar dan pendidik untuk memakai media sosial sebagai alat untuk menyampaikan ide atau gagasan tentang Wonosobo sebagai kota yang menyenangkan.
Adapun hasil yang diharapkan adalah munculnya literasi media sosial bagi siswa dan guru, gagasan tentang implementasi pendidikan karakter dengan kekuatan media sosial, serta penggunaan media sosial secara bijak oleh siswa dan guru.
Senada hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, Samsul Maarif, menyampaikan sekolah sebagai ekosistem pendidikan dengan interaksi antara siswa dan pendidik, diharapkan bisa membentuk karakter siswa seperti yang diharapkan, namun hal ini diiringi perkembangan media sosial yang sangat pesat sehingga mau tidak mau mempengaruhi para pelajar.
Disini seorang guru harus mewaspadai pengaruh media sosial pada pelajar, agar anak tak terpapar pengaruh buruk dari media online, sehingga guru harus meningkatkan pengawasan kepada anak didiknya di sekolah. Sebab yang mendidik bukan hanya guru saja, sehari-hari ada televisi dan media sosial yang sangat mempengaruhi karakter para pelajar.
Untuk itu, jika para guru menguatkan pendidikan karakter di sekolah maka diyakini para pelajar dapat menggunakan media sosial dengan baik.
Salah satu pemateri, Septiaji Nugoroho, yang kesehariannya jadi praktisi IT mengungkapkan perlunya pelajar memilah fungsi mdia sosial melalui penggunaannya untuk hal-hal positif, sebab menurutnya semua produk teknologi online adalah bebas nilai.
Dalam hal ini diperlukan kearifan pelajar dalam memilah mana hal positif mana hal negatif. Jika mereka bisa lebih cerdas, diharapkan mereka bisa ikut memberi warna Indonesia yang lebih baik.
Sementara Santi Indra Astuti, praktisi pendidikan dari Universitas Islam Bandung, mengungkapkan media sosial kerap kali digunakan sebagai sarana bebas berekspresi dan mengeluarkan pendapat, tapi sebagai netizenship, sebutan bagi pengguna media sosial, apalagi pelajar, harus pintar-pintar menggunakan media tersebut. Ia mencontohkan beberapa kasus hukum mencuat akibat penyalahgunaan media sosial sebagai ruang publik. Yang berakibat pemilik akun bisa terjerat sanksi pidana.
Namun yang terpenting, para pelajar harus sadar, bahwa mereka sedang berada di ruang publik yang memiliki aturan. Etika di sosial media juga harus jalan supaya tidak sembarangan berbicara, yang ujungnya bisa menyinggung dan menyakiti orang lain.
Selain beretika di media sosial, adanya kesadaran akan implikasi sosial bahkan hukum di belakang penggunaan media sosial, juga dapat menjadi peredam seseorang untuk tidak bertindak ceroboh dengan mengeluarkan umpatan-umpatan kasar kepada pihak lain.
Menanggapi hal ini, salah seorang peserta, Erva Dwi Prastiani, pelajar kelas XI SMK Muhammadiyah mengaku akan lebih berhati-hati dalam memakai media sosial. Ia yang kerap memakai FB dan Twitter, paham betul akibat yang ditimbulkan jika sembarangan dalam memakai media sosial. Media ini hanya ia pakai untuk kebutuhan komunikasi dan interaksi hal-hal positif saja, sedang internet ia pergunakan untuk pencarian data dan referensi tugas-tugas sekolah yang mendesak saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here