Puluhan Petani Bunga Ikuti Forum Konsultasi Pengembangan Agribisnis Florikultura

WONOSOBOZONE – Puluhan petani bunga Wonosobo mengikuti forum konsultasi pengembangan agribisnis florikultura yang digelar Pemkab bareng Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI) Kementerian Pertanian RI, Jumat, 25 November, di Sekretariat KWT Sekar Mandiri dusun Tembelang kelurahan Rojoimo kecamatan Wonosobo.
Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Abdul Munir, tidak kurang dari 50 orang petani bunga serta beberapa perajin bunga hias di Wonosobo mengikuti forum konsultasi sekaligus beberapa pelatihan, seperti merangkai bunga, mewarnai bunga, budidaya krisan pot, okulasi mawar, dekorasi serta pengendalian organisme penyakit tanaman. Diharapkan melalui kegiatan ini bisa mengembangkan industri florikultura di Wonosobo yang berdaya saing dan berkelanjutan sehingga bisa muncul usaha-usaha ikutan yang bisa memicu munculnya kluster tanaman hias yang produktif dan punya nilai ekonomis tinggi.
Apalagi jika hal tersebut dikaitkan dengan besarnya potensi sumber daya alam Kabupaten Wonosobo, yang memiliki kesuburan tanah cukup tinggi, ditunjang kondisi iklim tropis dua musim, sehingga sangat potensi untuk pertanian. 
Salah satu komoditas pertanian yang prospektif tumbuh subur di Kabupaten Wonosobo menurutnya adalah holtikultura, khususnya jenis sayur-sayuran (orelikultura) dan buah-buahan (frutikultura). Selain itu, tanaman hias (florikultura) menjadi komoditas potensial untuk dikembangkan, produksinya-pun mengalami peningkatan yang signifikan tiap tahunnya, seperti mawar yang pada tahun 2013 produksinya mencapai 63.882 batang pada tahun 2014 meningkat menjadi 68.432 batang, dan pakis yang pada tahun 2013 produksinya mencapai 172.000 batang pada tahun 2014 meningkat menjadi 180.370 batang. Sedangkan produktivitas tertinggi tanaman hias didominasi oleh krisan yang mengalami peningkatan produksi 100 persen lebih, yang mana pada tahun 2013 produksinya mencapai 742.589 batang dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 1.651.810 batang. Di sisi lain diharapkan kegiatan ini mampu menjadi penguat Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Hortikultura yang disinkronkan dengan RUTR daerah.  
Senada Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo berharap, agar BALITHI membantu potensi besar yang dimiliki Wonosobo seperti yang ada di Rojoimo serta Kuripan Garung dan Kejajar. Apalagi ditambah saat ini kebutuhan tanaman hias di dalam negeri cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Besarnya minat masyarakat terhadap tanaman hias berkaitan erat dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, pembangunan komplek perumahan, perkantoran dan taman kota yang membuka peluang untuk pengembangan usaha di bidang tanaman hias. 
Wabup berharap, melalui forum sejenis, bisa dijadikan sebagai forum bagi seluruh pelaku usaha tanaman hias beserta seluruh pihak terkait guna mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan melalui alih teknologi dan inovasi yang aplikatif dan adaptif bagi pengembangan agribisnis tanaman hias, yang dapat dijadikan sebagai salah satu strategi pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta nantinya dapat menggerakkan roda perekonomian rakyat secara lebih makro, dengan multiplayer effect-nya adalah bagi peningkatan pendapatan asli daerah sebagai salah satu modal bagi pelaksanaan pembangunan daerah selanjutnya.
Sementara Kepala BALITHI, Rudy Soehandi menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan sarana diseminasi informasi terkait inovasi dan teknologi pendukung dalam menunjang pengembangan agribisnis tanaman hias, mengembangkan kerjasama kemitraan antara pemerintah-dunia usaha-serta akademisi (big partnership), maupun bagi terbangunnya jaringan usaha guna meningkatkan investasi agribisnis tanaman hias di Kabupaten Wonosobo.
Lebih lanjut lagi, ia berharap pengembangan agribisnis tanaman hias di Kabupaten Wonosobo ke depan juga mampu mendukung implementasi otonomi desa dan menggalakkan program One Village One Product (OVOP) terutama guna mengoptimalkan potensi sumber daya alam serta sumber ekonomi desa. Termasuk untuk meningkatkan proporsi ruang terbuka hijau melalui tanaman hias, mengembagkan konsep kota bunga dalam rangka beautifikasi ruang terbuka hijau yang menunjang potensi pariwisata, serta mengembangkan potensi tanaman hias bagi ketersediaan lingkungan yang layak, nyaman dan sehat.
Sebelumnya pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Pemkab Wonosobo dalam bentuk pembangunan Taman Konservasi Anggrek yang berada di halaman pendopo Kabupaten Wonosobo, yang dijalin pada 10 September 2013 sebagai dukungan BP3 Kementan RI terhadap program Kota Hijau (green city) Wonosobo. Dalam kesempatan tersebut selain mendapat bantuan bibit anthurium dan krisan dari BALITHI, Wabup didampingi Kepala BALITHI dan Komandang KODIM 0707 Wonosobo serta Kepala Kejaksaan Negeri Wonosobo, juga meresmikan Kampung Bunga Kelurahan Rojoimo. 
Terkait produksi bunga di Rojoimo yang dipelopori Kelompok Wanita Tani Sekar Mandiri, menurut ketua KWT, Siti Nurjanah, sejak diidrikan pada 2008, pihaknya sudah mempunyai pasar tetap, yakni Floris Semarang dan Bandungan untuk bunga anthurium serta Purwokerto dan Yogyakarta untuk bunga krisan, yang diambil tiap minggunya, dengan harga cenderung stabil. Untuk anthurium tiap batang dihargai mulai 3 ribu, 4 ribu dan 5 ribu rupiah sesuai besaran batang dan untuk krisan 10 ribu rupiah per ikatnya. 
Diakui untuk kontinuitas bunga sudah bisa tercukupi, mengingat saat ini sudah banyak warga yang memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam anthurium dan krisan, sehingga jika dari KWT Sekar Mandiri tidak mencukupi, bunga bisa diambil dari pekarangan warga. Untuk itu, sangat layak jika Rojoimo mendapat sebutan Kampung Bunga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here