Puluhan Pemandu Wisata Liar Di Kawasan Dieng Terjaring Razia

WONOSOBOZONE – Masih maraknya praktik para pemandu wisata illegal non sertifikasi di beberapa objek wisata kawasan Dieng, membuat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Wonosobo bertindak tegas. Bersama unsur Kepolisian, Satpol PP, Kantor Parekraf dan HPI DPD Jawa Tengah, jajaran pengurus HPI Wonosobo, menggelar razia sekaligus sweeping guide liar tak bersertifikat, Sabtu (31/12). Sekretaris DPC HPI Wonosobo, Agus Dwiyono menjelaskan langkah sweeping bersama tim gabungan tersebut merupakan upaya pihaknya memberikan perlindungan kepada para pemandu resmi bersertifikat. “Kami juga melibatkan unsur Satpol PP pada kegiatan ini, karena menjadi bagian dari upaya penegakan peraturan daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pramuwisata,” jelas Agus saat ditemui di sela pendataan para pemandu liar di sekitar Dieng Plateu Theatre (DPT).
Menurut Agus, selama lebih dari 6 jam memantau praktik pemandu liar, mulai dari pukul 9 pagi sampai sekitar pukul 4 sore, pihaknya telah menjaring lebih dari 10 orang. Kepada para pemandu, baik itu guide lokal maupun dari Biro perjalanan, tim gabungan melakukan pendataan identitas sekaligus memberikan edukasi agar mereka bersedia menjadi Pramuwisata resmi. “Kami memberikan arahan kepada guide yang selama ini berpraktik tanpa sertifikasi resmi, agar mau mengikuti pelatihan dan uji kompetensi, sehingga ke depan mereka lebih nyaman dalam bekerja karena telah bersertifikat,” lanjut pemilik salah satu Biro perjalanan wisata di Kota Wonosobo itu.
HPI DPC Wonosobo, menurut Agus juga telah secara periodik menggelar pelatihan bagi para pemandu wisata, mengingat kebutuhan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara cukup tinggi.  Masih kurangnya pemandu lokal tersebut, diakui Agus sering memunculkan komplain dari para wisatawan, karena mereka merasa kurang optimal memperoleh keterangan terkait berbagai sisi objek wisata tujuan. Selain itu, kekurangan pemandu legal yang bersertifikat, diakui Agus juga akhirnya memunculkan pemandu-pemandu wisata liar, utamanya di kawasan wisata ramai seperti dataran tinggi Dieng. Para pemandu liar tersebut, selain merugikan para pramuwisata resmi juga tak jarang menimbulkan protes dari para wisatawan, mengingat kapasitas mereka memang belum teruji.
“Kebanyakan para pemandu liar hanya mengandalkan aji mumpung, dan mereka sebenarnya memiliki profesi lain yang tak berkaitan dengan wisata,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here