Pulosaren Desa Termiskin Di Wonosobo, Dulu Pernah Jadi Pusat Pemerintahan Jateng Kini Harus Jadi Desa Wisata

WONOSOBOZONE – Desa Pulosaren, Kecamatan Kepil berada di ujung timur Kabupaten Wonosobo, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang. Secara letak dari pusat kota Wonosobo, Pulosaren berjarak tak kurang dari 35 kilometer. Berada di kawasan kaki gunung Sumbing, Desa Pulosaren selama ini mengandalkan sektor pertanian untuk menopang ekonomi warga. Sebagian besar warga pun memilih bercocok tanam dan memaksimalkan kesuburan tanahnya dengan menanam beragam jenis sayuran maupun aneka tanaman hias. Dengan hanya bertumpu pada sektor pertanian, tak mengherankan kini Pulosaren masuk dalam kategori desa miskin, dan mendapat perhatian lebih dari Pemerintah.
Belum lama ini, Pulosaren dipilih sebagai Kampung KB percontohan, demi menggugah kesadaran warga masyarakatnya agar lebih terpacu untuk memiliki kehidupan yang berkualitas dan sejahtera. Kepada Kepala Kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bupati Wonosobo Eko Purnomo bahkan meminta agar mendorong Pulosaren mengoptimalkan potensi wisatanya, demi meningkatkan pendapatan warga. Dengan dukungan panorama alam dan kesejukan udara di kawasan tersebut, Bupati meyakini Pulosaren mampu menarik perhatian wisatawan. Terlebih, Pulosaren juga memiliki jejak sejarah cukup penting dalam perjalanan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 1946, desa tersebut pernah dijadikan pusat pemerintahan Provinsi Jateng selama sekitar 6 bulan. Sudiro, Kades Pulosaren mengaku menyimpan jejak sejarah itu dengan baik sampai sekarang. “Jejaknya jelas, berupa stempel Gubernur Jateng pertama Wongsonegoro, beserta meja kerjanya,” beber Sudiro kepada Kepala Kanparekraf Agus Purnomo yang mengunjungi Pulosaren pada Minggu (24/4). Kegentingan di Kota Semarang pada waktu itu, disebut Sudiro sebagai alasan Gubernur mengungsi ke Pulosaren. “Sekitar 6 bulan, Gubernur mengendalikan pemerintahan Provinsi, termasuk memberikan perintah-perintah kepada jajaran pejabatnya dari Pulosaren,” lanjut Sudiro. Jejak sejarah yang berkaitan erat dengan upaya mempertahankan kemerdekaan Negara dari rongrongan penjajah itu, menurut Sudiro layak diangkat sebagai potensi wisata. Terlebih, di desa Pulosaren, menurut Sudiro juga terdapat makam tokoh besar yang berada di puncak bukit Potorono. “Makamnya cukup sering diziarahi, bahkan banyak yang berasal dari luar kota,” tutur Sudiro.
Adanya kekayaan potensi alam dan sejarah, menurut Kakanparekraf Agus Purnomo sudah memenuhi kriteria untuk dikembangkan sebagai desa wisata. “Pak Bupati memang cukup terkesan ketika berkunjung kesini dan meminta agar Pulosaren ini bisa dikembangkan menjadi desa wisata,” kata Agus. Dari keterangan yang disampaikan Kades Sudiro, Agus meyakini Pulosaren mampu berkembang dan maju melalui sektor pariwisata. “Apalagi desa ini terletak di perlintasan antara Wonosobo-Magelang, sehingga jelas memiliki akses yang memadai,” lanjut Agus.
Beberapa potensi lainnya yang bisa dikelola, menurut Agus adalah lahan luas di perbukitan yang bisa dijadikan sebagai bumi perkemahan, serta area terabas untuk para penggemar motocross. Pengunjung juga bisa menyaksikan keindahan matahari terbit dari puncak Potorono, serta landscape Kota Wonosobo yang terlihat cukup jelas. “Tinggal bagaimana pemerintah desa bersedia komitmen dan bersungguh-sungguh untuk mengoptimalkan potensi-potensi ini,” tegas Agus. Ke depan, apabila potensi wisata sudah tergali dan dikembangkan, warga pun menurut Agus akan  diuntungkan, karena mereka berpeluang membuka usaha pendukung, seperti kuliner maupun penginapan untuk wisatawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here