Petani Tembakau Wonosobo Makin Resah, Berharap Pemkab Intervensi Ke Pabrik Rokok

Petani Tembakau lereng Sindoro-Sumbing dilanda keresahan
WONOSOBOZONE – Petani dan penggarap tembakau di kawasan lereng Sindoro-Sumbing dilanda keresahan, karena hingga menjelang akhir bulan Agustus ini, hasil panen mereka masih menumpuk di gudang. Hal itu terjadi, akibat pihak pabrik rokok yang langganan membeli tembakau dari mereka, belum menunjukkan tanda-tanda positif, lantaran masih berhitung dengan kondisi cuaca. Muhadi, salah satu petani sekaligus penggarap tembakau dari Desa Candiyasan, Kertek mengaku ia terpaksa menumpuk tak kurang dari 4 ton tembakau hasil olahannya akibat belum bisa terserap oleh gudang pabrik. “Musim tembakau tahun lalu tidak seperti ini, karena pabrik langsung menyerap tembakau hasil panen kami, sehingga modal bisa berputar,” jelas Muhadi, saat ditemui tengah menjemur puluhan rigen tembakau bersama para karyawannya, baru-baru ini.
Biaya untuk pengolahan tembakau, menurut Muhadi tidak kecil, karena komponen produksinya memang banyak. Selain ongkos untuk tenaga pengolah tembakau, mulai dari memetik, merajang, hingga menjemur dan mengepak di keranjang, yang cukup menguras kantong, Muhadi juga mengakui biaya yang keluar selama menanam dan merawat tembakau tak kalah besarnya. “Jelas akan sangat merugikan kami, kalau sampai pabrik tidak membeli tembakau yang sudah menumpuk ini,” keluhnya. Ia dan rekan-rekan seprofesinya mengaku masih berusaha bersabar menghadapi kondisi kurang menguntungkan saat ini, namun kesabaran, menurutnya juga ada batasnya.
“Tidak tahu sampai kapan kami bisa bersabar, karena kami masih berharap agar segera ada solusinya, termasuk kepada pemerintah Kabupaten Wonosobo kami mohon agar bisa turun ke lapangan dan membantu bernegosiasi dengan pihak pabrik,” lanjut Muhadi. Bila sampai tenggat waktu dan batas kesabaran, para petani ditegaskan Muhadi siap menggelar unjuk rasa besar-besaran. Para petani, dikatakan Muhadi jelas akan sangat terganggu pada musim tanam tahun depan, apabila panen musim ini tak dibeli pabrik. Permintaan intervensi kepada pihak pabrik, disebut Muhadi juga ditujukan untuk para wakil rakyat di legislatif. “Wakil kami di Komisi B juga kami mohon agar tak diam saja dan berupaya untuk memfasilitasi pertemuan dengan pihak pabrik,” pungkasnya.]
Terpisah, anggota komisi B, Humam Hasani mengaku bisa memahami dilema yang dialami para petani tembakau. Namun demikian, Humam mengatakan pihaknya masih harus berkoordinasi dengan jajaran komisi B, demi mencari solusi terbaik untuk mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here