Petani mulai sadar Konservasi untuk cegah Abrasi

Wonosobozone – Petani kawasan dataran tinggi dieng perlu terus di dorong untuk melakukan konservasi lahan, agar laju degradasi tanah bisa ditekan, salah satunya memberikan ruang kepada tanaman kayu keras atau tanaman lain yang bisa dipetik buahnya.

Ketua Serikat Petani Indoensia cabang Wonosobo Ngabidin melihat upaya pemerintah mengajak petani kawasan lereng dieng sadar konservasi mulai memudar.

“Padahal mereka mulai sadar lingkungan dan menanam kayu atau tanaman lain di titik rawan longsor dan tidak melakukan eksploitasi tanah di lereng Gunung,” ungkapnya

Disebutkan olehnya, di Wadasputih Parikesit Kejajar, petani tetap mempertahankan buah carica bahkan memperluas areal penanaman serta menjadikan salah satu tanaman konservasi bersama dengan tanaman lain seperti kemar, pitrem (daisy) krangean, kopi, cemara gunung dan kayu putih.

Kesadaran sejumlah petani di lereng gunung bismo dan pakuwojo desa mladi garung juga patut mendapat dukungan dari semua pihak yang ingin dieng tetap lestari. Menuruntya di desa mlandi sejumlah petani secara rela dan iklas tidak menanam jenis sayuran secara eksploitasi dilahan mereka yang berada di lereng bukit atau lereng gunung.

“mereka memilih menanam kopi dan kayu keras, bahkan sudah panen hinga 5 ton kopi dari areal lahan yang mencapai 1500 meter,” bebernya.

Sementara itu, Sukir (55) Petani Konservasi dari Desa Mladi mengaku bahwa sejak mengubah pola penanaman ramah lingkungan serta tidak melakukan eksploitasi lahan, selain hasil panen yang meningkat, sejumlah flora dan fauna mulai kembali terlihat. Seperti burung langka yang berfungsi sebagai predator hama.

Pihaknya tertarik mengubah pola pertanian ramah lingkungan sejak tiga tahun lalu, setelah prihatin melihat kondisi degradasi tanah, longosr dan banjir di daerah aliran sungai sikongkong lereng gunung bismo.

Kontributor : Agus S

Editor : Apr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here