Harga Kentang Anjlok, Petani Kentang Dieng Merugi Besar

WONOSOBOZONE – Petani kentang di Dataran Tinggi Dieng merugi akibat anjloknya harga kentang di pasaran. Biaya produksi yang dikeluarkan mulai proses penanaman, perawatan, hingga panen kentang tidak sebanding dengan harga jual yang terjun bebas. Harga kentang yang sebelumnya Rp 6.500/kg, turun menjadi Rp 4.000/kg, dan kentang super dari Rp 8.000/kg turun menjadi Rp 6.000/kg.

“Jika harganya terus anjlok, maka kerugian dialami petani kentang akan sangat besar. Terlebih mayoritas petani di Dieng adalah petani kentang, sehingga penurunan harga kentang akan berpengaruh terhadap perekonomian warga,” ungkap M Sabar (47), salah satu petani kentang Dieng berasal dari Desa Jojogan Kecamatan Kejajar, Jumat (22/5).

Menurutnya, murahnya harga jual kentang dirasa sangat memberatkan para petani. Hampir 90 persen penduduk Dieng menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian kentang, sehingga anjloknya harga kentang merupakan pukulan telak bagi petani.

Para petani menduga anjloknya harga kentang di kawasan Dataran Tinggi Dieng disebabkan adanya permainan pasar di beberapa kota besar, seperti Jakarta , Bandung , Surabaya dan kota lain yang banyak mengkonsumsi kentang.

Mengenai kualitas hasil panen kali ini, jelas Sabar, masyarakat Dieng masih percaya bahwa kentang yang terbaik berasal dari kawasan Dieng. Meskipun beberapa bulan yang lalu para petani kentang sempat terusik dengan adanya penyakit yang menyerang tanaman kentang.
Bukan hanya petani, sejumlah pedagang kentang di Pasar Kentang Wringinanom Binangun Kertek juga terkena imbas terus menurunnya harga kentang di pasaran. Ketidaksetabilan harga membuat pedagang kentang harus hati-hati, karena jika salah dalam perhitungan dagang akibatnya bisa rugi besar.

“Harga yang tidak stabil membuat pedagang menurunkan jumlah pengiriman ke luar kota . Saat harga masih stabil, kami bisa mengirim 7-10 ton kentang per bulannya. Tapi dengan harga yang tidak stabil dan cenderung turun, jumlah pengiriman kentang ke luar kota hanya sekitar 1-2 ton. Kami tidak ingin rugi besar, karena tidak ada kepastian harga,” ungkap Dian, salah satu pedagang kentang di Pasar Kentang Wringinanom. (Art)



source:krjogja.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here