PESAN KEDAMAAIN ULAMA DALAM PENGAJIAN DAN TABLIG AKBAR DI BANJARNEGARA

BANJARNEGARA – Puluhan ribu jamaah hadiri Pengajian dan Tablig Akbar menuju islam yang Rahmatan lil Alamin menolak segala bentuk paham radikalisme dan teorisme yang diprakasai oleh Forum Kyai Tahlil Kabupaten Banjarnegara, di Alun-alun Banjarnegara, Selasa (12/2/2019).

Pengajian dan Tablig Akbar diisi oleh ulama kharismatik KH. Achmad Muafiqatau yang lebih kondang disapa Gus Muwafiq dan Gus Ali Gondrong (mafia selawat) dengan lagu-lagu selawat dan orasinya yang unik dan menghibur. Juga disajikan tarian sufi, yang menyita perhatian puluhan ribu pengunjung. Acara berlangsung sangat meriah namun tertib dan penuh rasa persaudaraan.

Acara yang diprakarsai oleh Forum Kyai Tahlil Kabupaten Banjarnegara itu dihadiri puluhan ribuan jamaah. Antara lain dari pengurus dan santri pondok pesantren, pelajar, mahasiswa, Banser NU, Pemuda Pancasila, ormas Islam dan ormas kepemudaan serta masyarakat luas.

Di deretan undangan hadir Bupati Banjarnegara, Forkompinda, ketua MUI, para kiai pondok pesantren, pengurus Forum Kyai Tahlil, ketua ormas Islam dan ormas kepemudaan.

Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono dalam sambutannya berharap, kegiatan seperti ini membuat tidak ada kelompok masyarakat yang menganggap bahwa kelompoknya paling benar dan yang lain salah.

“Hal itulah yang membuat Islam menjadi lemah, hanya karena beda pendapat yang tidak prinsip. Marilah kita hargai perbedaan, karena Islam adalah agama Rahmatan lil Alamin,” ucap Budhi.

Ulama kharismatik yang sering disapa Gus Muwafiq mengajak umat Islam untuk menjaga ukhuwah dengan menghargai perbedaan. Agama Islam, kata Muwafiq, mengajarkan kedamaian dan menghindari perselisihan.

“Para wali membawa Islam dengan keramahan dan akulturasi budaya, menghindari konfrontasi sehingga nenek moyang kita dengan sukarela memeluk Islam tanpa paksaan,” katanya saat memberikan ceramah.

BACA JUGA:  Warga Wonosobo Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu

Kiai kharismatik menambahkan, ajaran ahlussunah wal jamaah, dikembangkan dengan tawasul untuk mengingatkan asal-usul kita sebagai umat. Dengan tawasul ini seorang akan hormat pada gurunya. Dengan mencintai para guru dan ulama secara berjenjang, secara langsung juga berarti mencintai tanah airnya.

“Dari sinilah rasa nasionalisme tumbuh dengan sendirinya, di samping tentu saja cinta agama dan ajarannya,” tutur ulama asal Yogyakarta ini.

ini mengaku prihatin dengan adanya kelompok Islam yang suka mengklaim diri dan kelompoknya paling benar. Sayangnya kebenaran yang diyakininya hanya didapat secara instan dan hanya memandang dari satu sisi.

“Islam menghargai perbedaan. Jangan suka mengaku dirinya paling benar dengan menjelekkan kelompok lain, mari kembangkan agama Islam yang penuh kedamaian dan toleransi,” imbuhnya.

Senada dengan Gus Muwafiq, Ketua Forum Kyai Tahlil, Khayatul Makki juga heran terhadap kelompok yang sering mem-bid’ah-kan bahkan tak ragu mengkafirkan golongan yang tidak sepaham dengan mereka.

Yasinan mereka anggap bid’ah, tahlilan juga dianggap bid’ah, seolah mereka sendiri yang paling benar. Padahal kebenaran sejati hanya milik Allah,” ucap ulama yang akrab dipanggil Gus Khayat ini.

Artikel ini dikutip dari gatra.com dengan judul “Pesan Kebangsaan Ulama dalam Tablig Akbar di Banjarnegara” Penulis Ridlo S, link https://www.gatra.com/rubrik/nasional/agama/389925-Pesan-Kebangsaan-Ulama-dalam-Tablig-Akbar-di-Banjarnegara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.