Perpustakaan Wonosobo Raih Best of The Best Di Ajang Perpuseru Award 2018

WONOSOBOZONE – Kabupaten Wonosobo berhasil meraih penghargaan prestisius dalam ajang Peer Learning Meeting Nasional Tahun 2018 yang digelar Perpustakaan Nasional dan Bappenas RI di Royal Ambarukmo Hotel, Yogyakarta, Sabtu (7/7). Dinilai mampu mewujudkan perpustakaan transformatif, dengan mendorong masyarakat menjadikan perpustakaan desa sebagai pusat belajar dan berkegiatan, Kabupaten Wonosobo berhak atas predikat Best Of The Best dari Perpustakaan Nasional RI. Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Eko Yuwono melalui rilis tertulis mengungkap kunci dari keberhasilan tersebut adalah adanya dukungan dan partisipasi aktif masyarakat Wonosobo, yang semakin sadar untuk memanfaatkan informasi sebagai pintu masuk pengembangan potensi diri. “Sekarang berkembang idiom di masyarakat Wonosobo, perpustakaan adalah sarana literasi untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan,” tutur Eko.

Selain perubahan paradigma di masyarakat, raihan prestasi tersebut diakui Eko tak lepas dari keberhasilan sejumlah peserta lomba yang digelar oleh Perpusnas RI. “Ada tak kurang dari 11 kategori lomba yang kita menangkan dalam ajang ini,” beber Eko. Ke-11 kategori tersebut, dibeber Eko meliputi terbaik dalam kategori lomba video Impact Perpuseru oleh Arpusda, Perpustakaan Terbaik, Best Of The Best Perpustakaan Daerah, honorable Mention oleh Warih Seto Murti, Lomba lapak perpuseru, Best Costume oleh Ahmad Waldi dari Perusdes Kebrengan, Perpusdes terbaik oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Al Bidayah dan TBM Cahaya Karangluhur, lomba cerita Impact oleh Istana Rumbia Lipursari dan TBM Al Bidayah, serta Best Of The Best Perpusdes yang diraih oleh TBM Al Bidayah.

Keberhasilan itu, menurut Eko diawali dari pengembangan perpustakaan oleh Perpuseru Cocacola Foundation Indonesia (CCFI) sejak tahun 2011. Program kemitraan Perpuseru tersebut, dikatakan Eko meliputi 104 Perpustakaan Kabupaten/Kota dan 768 Perpustakaan Desa di 18 Provinsi Se-Indonesia. “Melalui Perpuseru itulah, ada 14 Juta warga masyarakat yang kemudian bisa mengakses layanan dan berkegiatan di perpustakaan, dengan didampingi oleh 5000 lebih staff serta 300 fasilitator yang siap mendorong pengembangan perpustakaan, baik di tingkat Kabupaten hingga ke Desa-desa,” lanjutnya. Seiring dengan berakhirnya program ini, Eko menyebut Perpusnas RI dan Bappenas telah menetapkan model pengembangan perpustakaan daerah, desa/kelurahan yang dikembangkan oleh perpuseru, menjadi model yang akan dikembangkan diseluruh Indonesia secara bertahap.

BACA JUGA:  Jangan Hanya Jadi Warna, Tapi Harus Bisa Mewarnai

Di Kabupaten Wonosobo, Eko menuturkan rencana kedepan adalah menargetkan seluruh desa sudah mengembangkan Perpustakaan Transformatif pada Tahun 2021 mendatang. “Pentahapan program akan segera dirumuskan oleh Dinas Arpusda, Bappeda, Dinsos PMD serta Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Wonosobo,” jelasnya. Pihaknya meyakini tetap diperlukan adanya sinergi antar berbagai Organisasi Pernagkat Daerah terkait untuk mewujudkan literasi untuk kesejahteraan, sebagaimana di tingkat pusat juga terjalin sinergi antar lembaga dan kementerian. “Tadi dari Perpustakana Nasional juga menerangkan bahwa pihak Perpusnas RI telah bersepakat dengan Kemeterian Desa dan Percepatan Daerah Tertinggal serta Bappenas untuk mereplikasi program ini ke tingkat Provinsi dan Kabupaten sampai ke Desa,” ungkap Eko. Bahkan, menurutnya, Ketua Dewan Pakar Kemendes PDT, Prof Haryono Suyonojuga menyampaikan bahwa perpustakaan desa akan menjadi pusat akademi desa 4.0.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here