Permintaan Pasar Tinggi, Tiwul Instan Adiwarno Terkendala Kapasitas

WONOSOBOZONE – ProduksiMinat pasar terhadap produk olahan tepung mocaf berupa tiwul instan ternyata cukup tinggi. Sayangnya, hal itu belum bisa diimbangi dengan kapasitas produksi yang memadai. Lilik Sri Rahayu, salah satu pengusaha tiwul instan dari Desa Adiwarno, Kecamatan Selomerto mengakui, kebanyakan pembuat tiwul instan memang masih menggunakan teknik tradisional dalam pengolahannya, sehingga kapasitas produksi menjadi terbatas. “Kami masih mengandalkan sinar matahari untuk pengeringan tepungnya, sehingga sangat tergantung kondisi cuaca,” jelas Lilik ketika ditemui di kediaman yang sekaligus menjadi tempat pengolahan tiwul instan, Sabtu (2/4).
Meski alat berupa mesin pengering yang menggunakan tenaga gas maupun lisrik saat ini telah tersedia, Lilik mengaku hasilnya tidak sebagus bila dikeringkan secara alami di bawah terik matahari. “Mesin pengering sudah kami miliki, tapi kualitas hasil produksi sangat jauh berbeda dengan pengeringan dengan teknik dijemur langsung,” terang Lilik.
Demi meningkatkan produksi, Lilik mengaku tengah berupaya mencari mesin pengering yang bisa menghasilkan produk setara dengan cara alami. “Harga mesinnya memang mahal sekali untuk ukuran UKM Seperti kami, sehingga sampai saat ini belum dapat kami jangkau,” terang Lilik.Belum adanya mesin yang memadai tersebut, dikatakan Lilik cukup mengganggu produksi tiwul instannya. “Umumnya kami bisa memproduksi kisaran 15 kilogram tiwul dalam sekali siklus produksi, namun pengeringan yang makan waktu dua hingga tiga hari kerap jadi kendala, karena kadang cuaca tidak mendukung,” kata Lilik lebih lanjut.
Padahal, menurut Lilik, permintaan pasar cukup tinggi, mengingat setiap minggunya, pesanan selalu meningkat. Bahkan tak hanya datang dari pasar lokal saja, juga dari luar kota, bahkan luar jawa. “Jadi memang untuk penjualan saat ini relative tidak ada kendala, bahkan setiap minggu, selalu kekurangan stok,” keluhnya.
Produk yang baru dikemas, disebut Lilik sudah ditunggu distributor maupun konsumen pemesan langsung, sehingga tak sampai sehari sudah ludes dipesan atau dibeli langsung. “Kami memprioritaskan para pemesan langsung karena bisa dibuatkan dahulu dalam waktu dua hingga tiga hari,” imbuhnya.Kurangnya kapasitas produksi tiwul instan di tingkat produsen dikeluhkan pula oleh distributor.
Ilham Arda, salah satu distributor yang selama ini turut memasarkan tiwul instan produksi Adiwarno menyebut pihaknya cukup kewalahan melayani pesanan pembeli. “Tiwul instan produksi Adiwarno ini menjadi salah satu yang bertahan paling lama dan secara kualitas juga masuk di jajaran paling atas di antara produk sejenis lainnya, “ Kata Ilham.
Letak keunggulan tiwul produksi Adiwarno selain pada ketahanan yang bisa mencapai 2 tahun, menurut Ilham ada pada teksturnya yang jauh lebih kecil dibanding lainnya, “Kami berharap produsen bisa meningkatkan kapasitas produksi sampai 3 atau 4 kali lipat dari sekarang, karena permintaan pasar selama ini sulit kami penuhi,” Ilham.
Menurutnya, meski sekarang  masih kalah dengan carica maupun purwaceng, tiwul instan bisa dikatakan cukup mampu bersaing. “Harga jual yang kini sangat terjangkau, yaitu tak lebih dari Rp 18.000,- per kemasan 400 gram dikatakan Ilham turut mendongkrak daya jual tiwul instan. “Konsumen menilai tiwul instan yang terbuat dari tepung mokaf dan ubi ungu, dinilai jauh lebih sehat ketimbang nasi atau roti gandum,” imbuh Ilham. Terlebih, saat ini olahan tiwul instan telah sangat bervariasi. “Rasanya ada beberapa macam, seperti pandan, coklat, dan gula aren, serta tanpa perasa sintetis atau pengawet buatan,” tutup Ilham.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here