Peningkatan Kualitas Pendidikan Isu Penting Program Gerakan Sayang Ibu dan Bayi

WONOSOBOZONE – Peningkatan kualitas pendidikan menjadi isu penting program gerakan sayang ibu, hal ini diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Badan Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten, Retno Eko SN, dalam Rapat Koordinasi Program Kecamatan Sayang Ibu dan Bayi di Desa Kupangan Kecamatan Sukoharjo, Kamis, 1 Oktober.
Menurutnya peningkatan kualitas pendidikan menjadi bagian tidak terpisah dari fokus pembangunan kependudukan, yang mana hal ini bisa diwujudkan melalui upaya pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan dan pembinaan ketahanan keluarga.
Selain itu permasalahan kesehatan ibu perlu diperhatikan dalam membangun sebuah wilayah sayang ibu dan bayi. Beberapa permasalahan tersebut dipengaruhi antara lain rendahnya partisipasi kaum pria dalam urusan kesehatan perempuan dan masih ditemukannya masalah kehamilan yang tidak ideal seperti terlalu banyak melahiran, terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu sering melahirkan.
Peningkatan partisipasi aktif kaum pria juga sangat penting, yang bisa diusahakan melalui upaya peningkatan pengetahuan kaum pria tentang kesehatan reproduksi, terlibat aktif dalam kegiatan antenatal care seperti aktif memeriksa kehamilan dan minum tablet besi.
Retno Eko menambahkan, kebijakan tiap Kepala Desa dalam menyukseskan Program Gerakan Sayang Ibu dan Bayi (GSIB) seperti mengawal program GSIB dalam proses Musrenbangdes dan pembentukan kelembagaan seperti satgas GSIB, Tabulin, Kelompok Donor Darah dan Ambulan Desa. Selain itu perlu melakukan ploting anggaran yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak lewat ADD dan partisipasi masyarakat seperti tabulin, insentif kader, PMT di Posyandu dan Pengadaan Sistem Informasi Posyandu, mengawal setiap persalinan yang harus dilaksanakan di PKD oleh tenaga medis seperti bidan desa, kader dan dukun bayi serta mengawal kemitraan dukun bayi dan bidan desa dalam proses persalinan di desa.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Purwani Sami Larasati, di hadapan puluhan kader GSIB desa Kupangan dan Kecamatan Sukoharjo, menyampaikan terciptanya sebuah wilayah sayang ibu dan bayi, bisa mempercepat pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs), yang mana target yang ingin dicapai  sampai dengan tahun 2015 antara lain penurunan angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup, penurunan angka kematian ibu dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup serta peningkatan usia harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun.
Menurutnya, disini peran Kepala Desa sangat besar dalam menurunkan AKI dan AKB, diantaranya dengan meminimalisir pernikahan dibawah umur, mengoptimalkan penyelenggaraan Posyandu di setiap kampung, memberi himbauan agar setiap ibu hamil harus periksa di Posyandu, ikut mensukseskan program P4K (Program Perencanaan Persalinan Dan Pencegahan Komplikasi ) di setiap desa serta menggeser paradigma urusan hamil dan melahirkan tidak hanya menjadi urusan bidan dan dukun bayi saja tapi harus menjadi urusan bersama.
Ia menambahkan, selama ini 60 % kebutuhan darah di PMI adalah untuk ibu hamil dan bersalin. Untuk memenuhi kebutuhan ini, perlu dibentuk dan dikembangkan paguyuban donor darah di setiap desa, termasuk di Desa Kupangan.

source : wonosobokab.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here