• Senin, 15 Agustus 2022

Ikut Ibrahim ‘alaihissalam

- Sabtu, 4 Juni 2022 | 06:54 WIB
Ilustrasi Masjidil Haram Mekah (Foto dok. iStock)
Ilustrasi Masjidil Haram Mekah (Foto dok. iStock)

WonosoboZone - Allah telah memanggil seluruh hambaNya untuk datang ke rumahNya (Q.S.Al-Hajj[22]:27). Setiap hamba yang merasa terpanggil tentu ingin mengunjungi (haji) di rumahNya supaya dekat denganNya. Maka, agenda perjalanan haji adalah taqarrub ila Allâh, yakni perjuangan mendekatkan diri kepada Allah. Memang, dalam Alquran dinyatakan bahwa Allah sesungguhnya sangat dekat kepada hambaNya (Q.S. Al-Baqarah[2]:186; Qaf[40]:16; Al-Waqi’ah[56]:85). Allah tidak ada jarak dengan kita, tetapi kita tak mampu merasakannya tanpa merangkak, menunduk dan menghamba. Kedekatan menjadi nyata apabila manusia mendekat dengan beribadah hanya kepadaNya (Q.S.Al-‘Alaq[96]:19; Al Bayyinah[98]:5).

Saat itulah ada semacam hudhur al-qalb ma’a Allah (merasakan kehadiran Allah dalam hati). Maka bisa dimengerti apabila Nabi Ibrahim ‘alahissalam menolak Tuhan palsu. Sehingga dengan sekuat jiwa dan pikiran mencari Tuhan Yang Hakiki. Dari Tuhan Yang Haq itulah kemudian menerima pelajaran bagaimana menjadi hamba Allah (bukan hamba lainnya); bagaimana  meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut, berkorban serta bimbingan ke jalan surgawi (Q.S.An-Nahl[16]:170; Hud[11]:75).

Ibrahim ‘alahissalam menyatakan  “Kuhadapkan wajahku kepada wajah-Nya Zat yang menciptakan langit dan bumi, dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S.Al-An’am[6]:79). Pernyataan Ibrahim ‘alaihissalam ini diungkapkan setelah pencarian yang melelahkan pada wajah Allah Yang Haq.  Maka, seorang hamba yang tertuju pada rumah-Nya seharusnya sudah menemukan kanal atau gelombang kepada Tuhan, menemukan wajahNya Yang Maha Agung, sehingga tidak termasuk orang yang menyekutukan Tuhan (musyrik).

Baca Juga: Pemilih Pemula Pada Pemilu 2024 di Wonosobo di Prediksi Bertambah Banyak

Demikian pula, seseorang yang benar-benar menemukan wajah Tuhan Yang Maha Pencipta tidak sepatutnya dengan mudah menuduh musyrik kepada sesama muslim,  sebab boleh jadi tanpa sadar kita hanya mengenal nama Tuhan sementara yang hadir dalam salat dan ibadah kita adalah wajah-wajah selain Dia. Oleh sebab itu, Nabi Muhamad saw. Sang penerus Ibrahim ‘alahissalam, mengajarkan hendaknya kita mencapai taraf ihsan dalam beribadah.

Konsep ihsan tersebut memiliki dua sasaran. Pertama, ihsan kepada Allah, yaitu kebaikan kepada Allah dengan beriman kepada-Nya, disertai dengan kepatuhan beribadah kepada-Nya secara total, melibatkan fisik, intelektual, emosi, dan ruhani secara terpadu sebagaimana tercermin pada sabda Rasulullah Saw. “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya meskipun engkau tidak mampu  melihat-Nya, karena Dia senantiasa melihat kamu”. Kedua, ihsan kepada sesama manusia dengan melakukan pelbagai kebaikan kepada sesama sebagaimana tercermin pada ayat Alquran, “Dan berbuat baiklah kamu kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kamu” (Q.S. Al-Qashash [28]: 77) serta keteladanan Ibrahim ‘alahissalam (TQ.S. Al-Mumtahanah[60]:4).

Alquran menegaskan agar manusia tidak hanya berbuat ihsan kepada Allah, tetapi juga berbuat ihsan kepada seluruh makhluk Allah, yakni manusia dan alam, termasuk hewan dan tumbuhan. Ihsan kepada Allah merupakan modal yang sangat berharga untuk berbuat ihsan kepada sesama. Alquran memberikan penghargaan yang tinggi terhadap perbuatan ihsan yang dilakukan manusia kepada sesamanya dan lingkungan hidupnya seperti tersurat pada ayat-ayat Alquran berikut ini: (i) Tidak ada balasan bagi perbuatan ihsan kecuali ihsan yang lebih sempurna. (Q.S. Ar-Rahman [55]: 60); (ii) Perbuatan ihsan itu kembali kepada diri sendiri (Q.S. Al-Isrâ` [17]: 7; (iii) Perbuatan ihsan itu tidak akan pernah sia-sia (Q.S. Hûd [11]: 115; (iv) Kasih sayang Allah diberikan dengan mudah dan cepat kepada orang-orang yang terbiasa berbuat ihsan (Q.S. al-A’raf [7]: 56).

Baca Juga: Penantian Panjang Usai, Pemkab Wonosobo Mulai Buka Pasar Induk

Tahun 2022 ini, tahun yang sangat mendebarkan sekaligus meneguhkan. Di tengah penantiaan musim haji akibat pandemi covid-19). Meskipun tidak keseluruhan jemaah yang tertunda bisa diberangkatkan tahun ini, tetapi Tuhan telah meneguhkan harapan untuk mengunjungi Baitullah dengan dibukan semakin lebar pintu haji  ke Baitullah pada tahun ini. Di sisi lain, kita menyadari  bahwa berhaji hanya bisa dilaksanakan di Mekkah serta terikat dengan otoritas Kerajaan Saudi Arabia. Oleh sebab itu, Allah mewajibkan kunjungan ke rumahNya bagi orang yang mampu saja (Q.S.Ali Imran[3]:97).

Mengunjungi rumahNya adalah menuju kehambaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta manusia. Allah tidak butuh kehadiran kita, tetapi kita butuh mengunjungi rumahNya. Duduk bersimpuh di hadapan ‘tuan rumah’ Yang Maha Mutlak. Kita ingin dekat kepada Sang Pemilik Mutlak. Tentu sebagai tamu harus menjaga akhlak agar tuan rumah berkenan terhadap kita. Di antaranya tidak boleh ribut, bertengkar, berbicara/membicarakan hal yang tidak berguna,  mau menang sendiri dan melakukan keburukan di rumahNya (Q.S.Al-Baqarah[2]:197).  

Halaman:

Editor: Rochmad Tri Apriliyanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Merajut Asa di Ruang Ruang Kelas Merdeka

Selasa, 28 Juni 2022 | 02:43 WIB
X