Pendidikan Muadalah Seimbangkan Pendidikan Formal dan Ponpes

WONOSOBOZONE – Pesantren sebelumnya dipandang sebagai lembaga pendidikan non formal yang kurang mendapat pengakuan dan apresiasi terhadap lulusannya, namun seiring telah ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional, dan telah terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 18 tahun 2014, ini menjadi sebuah gebrakan baru dalam penyetaraan pendidikan, program pendidikan Mudalah sebagai penyeimbang pendidikan formal dengan pendidikan non formal di Pondok Pesantren. Program satuan Pendidikan Mu`adalah adalah program pendidikan yang hanya diselenggarakan di pondok pesantren.
Pondok Pesantren Mu`adalah merupakan pondok pesantren yang disetarakan dengan SMA / MA karena walaupun pondok pesantren tersebut tidak mengikuti kurikulum Kemdiknas (SD, SMP, SMA) atau kurikulum Kemenag (MI, MTs, MA) akan tetapi alumnus pondok pesantren tersebut dapat diterima (diakui) di perguruan tinggi luar negeri seperti Al Azhar, Ummul Quro, dan sebagainya.
Dengan demikian, apa yang menjadi cita-cita para sesepuh pendidikan pesantren kini semakin jelas realisasinya yaitu Pesantren Muadalah yang fungsi utamanya menyetarakan pendidikan pesantren dengan pendidikan formal ini semakin diakui statusnya di tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Diniyah dan Ponpes Kementrian Agama Republik Indonesia, H Mohsen, M.M., saat menandatangani Launching Program Pendidikan Muadalah Al-Hikam  dan Perencanaan Institut Agama Islam, yang didampingi Kakanwil Propinsi Jateng, Bupati Wonosobo, Kakankemenag Kabupaten Wonosobo serta Pengasuh Ponpes Al-Hikam, Selasa, 31 Mei.
Kakanwiil Kemenag Jateng Drs.H. Ahmadi, M.Ag., menambahkan, Muadalah atau kesetaraan itu penting bagi para santri, mengingat di era transparansi ini segalanya diukur dari profesionalitas yang ditunjukkan dengan bukti legal formal dengan sebuah ijazah yang disahkan oleh lembaga formal di dalam sebuah Negara. Ia berpesan kepada seluruh santri yang ada untuk selalu memperhatikan tiga poin penting, yakni menjadi santri yang berkarakter atau ber akhlakul karimah, dan selalu mencintai ilmu pengetahuan serta harus mampu mengembangkan kemampuan kompetensi.
Sementara Bupati Wonosobo, Eko Purnomo berharap, adanya PMA tentang Pesantren Muadalah, bisa menyetarakan lulusan pesantren, dan santri lulusan pondok pesantren tersebut juga dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti kuliah di perguruan tinggi swasta / negeri, atau jika berhenti di tengah jalan, tetap dapat melanjutkan ke SMP / MTs atau SMA / MA.
Ia juga menyampaikan, kegiatan ini, mempunyai makna dan dampak positif yang sangat luas bagi perkembangan kehidupan umat Islam khususnya di Wonosobo. Seperti diketahui, bahwa Wonosobo merupakan wilayah santri, hal ini ditandai banyaknya pondok pesantren, baik tradisional maupun modern. Ditambah lagi banyak dan berkembangnya lembaga keagamaan baik TPQ, MADIN, Majlis Taklim, Majlis Zikir dan sebagainya.
Karenanya, melalui potensi yang sangat mendukung ini, Pemerintah Kabupaten Wonosobo senantiasa berupaya untuk menggiatkan Syiar Islam di Kabupaten Wonosobo, ditambah Pemkab sedang memasyarakatkan pendidikan karakter dan peningkatan kualitas pendidikan agama bagi anak-anak.
Oleh karenanya, melalui kegiatan ini, Bupati berharap, bisa berimbas positif kepada pembentukan karakter, watak, dan kepribadian generasi muda Wonosobo menuju generasi yang lebih religius, berbudaya, berkarakter, dan berkualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here