Pencegahan Terorisme di Indonesia Butuh Kerja Sama Semua Pihak

WONOSOBOZONE – Pencegahan terorisme di Indonesia membutuhkan kerja sama semua pihak, hal ini disampaikan Kepala Bidang Hukum Akademisi Polisi (AKPOL) Semarang, Kombes.Pol.Agus Salim, dalam Seminar Kajian Islam tentang Bahaya Terorisme, Kamis, 27 Oktober, di Pendopo Belakang Kabupaten.
Menurutnya terorisme bisa dicegah tidak hanya oleh insitusi berwenang terkait saja, seperti Kepolisian, tapi juga oleh masyarakat. Contoh konkrit peran masyarakat dalam pencegahan terorisme diantaranya di dalam kehidupan keluarga, yang bisa dilakukan melalui penanaman norma-norma sosial dan toleransi, komunikasi dan perhatian orang tua terhadap anak, perlindungan awal terhadap radikalisasi dan terorisme serta deteksi dini penyimpangan.
Peran masyarakat lainnya bisa dilakukan di dalam kehidupan lingkungan berupa membina hubungan silaturahmi, menumbuhkan sense of awarenes, sumber informasi bagi yang berwenang serta deteksi dini penyimpangan. Selain juga dalam kehidupan di lembaga pendidikan berupa pemberian pendidikan toleransi dan kebinekaan, pengetahuan tentang radikalisme serta deteksi dini penyimpangan. Serta bagi masyarakat yang berperan sebagai tokoh masyarakat, agama dan adat, yakni dengan menjadi figur tokoh panutan, pemahaman tentang radikalisme dan terorisme, memberikan pengajaran yang benar serta menyadarkan mereka yang tersesat oleh aliran atau paham terorisme. Upaya pencegahan ini sangat penting, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat besar dan dstruktif, yakni ancaman terhadap nasionalisme, timbulnya rasa was-was di benak masyarakat dan kecurigaan yang meningkat antar umat beragama.
Adapun Kasat Reskrim POLRES Wonosobo, AKP Suharjono, menyampaikan bahwa akar masalah radikalisme dan terorisme di Indonesia antara lain dendam, kebencian, ketidak adilan, kesenjangan sosial, kemiskinan, kebijakan yang diskriminatif, residu kebebasan era reformasi maupun kebijakan otonomi daerah serta ideologi atau paham tertentu. Adapun alasan pemuda menjadi teroris antara lain pencarian identitas, membutuhkan perasaan kebersamaan, ingin memperbaiki apa yang dianggap sebagai ketidakadilan, mencari sensasi dan kegagahan serta simpati pada kelompok radikal-teroris melalui internet.
Senada, ditambahkan Komandan Unit Intel KODIM 0707/Wsb, Letda.Inf.Aris Setiyanto, di hadapan puluhan peserta dari pondok pesantren dan ormas Islam, ciri-ciri organisasi teroris diantaranya menggunakan pendekatan agama, karena masyarakat Indonesia memiliki kultur budaya dan religi tinggi. Dari beberapa kasus terorisme yang ada, diketahui bahwa pola perekrutan teroris diawali dengan kegiatan berkedok agama. Setelah didapat kesepahaman ideologi selanjutnya dilakukan ujian kesetiaan dan sumpah setia terhadap tujuan. Anggota yang sudah disumpah diikutkan dalam kegiatan pelatihan dan pembekalan tentang terorisme. Setelah mendapat pelatihan dan pembekalan mereka ditugaskan untuk melaksanakan aksi teror. Untuk rekrutment dilakukan dengan ancaman atau intimidasi, yang digunakan untuk mendapatkan personel yang terampil dalam bidang intelijen dan keahliah khusus lainnya. Untuk rekrutmen jaringan keluarga dilaksanakan agar mendapatkan pengaruh dari orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dekat.
Sedangkan Abdul Kholiq dari ICMI Wonosobo menyampaikan, Wonosobo sebagai daerah religi yang ditandai dengan banyaknya Pondok Pesantren, bisa berperan aktif dalam upaya mencegah warga masyarakatnya melakukan gerakan terorisme. Menurutnya ada beberapa upaya untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan bahaya faham radikalisme dan terorisme yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, antara lain penanaman pemahaman terhadap konsep ajaran Islam yang baik dan benar, yakni praktek amaliyah keagamaan Islam Wasathiyah, yang meliputi Tawassuth (mengambil jalan tengah), Tawazun (berkeseimbangan), Itidal  (lurus dan tegas), Tasamuh  (toleransi), Musawah (egaliter), Syura (musyawarah), Ishlah (reformasi), Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), Tathawwur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif), serta Tahadhdhur (berkeadaban).
Sementara Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, Eko Sutrisno, saat membuka kegiatan, mengingatkan, sudah menjadi kewajiban semua pihak, termasuk seluruh masyarakat, utamanya pemuda dan pelajar sebagai generasi penerus bangsa, untuk turut serta menjaga dan menciptakan situasi kamtibmas yang aman, nyaman dan kondusif, serta tidak terjerumus pada paham radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara Kesatuan Republik Indonesia, serta senantiasa meningkatkan rasa cinta tana air dan menanamkan dalam setiap sanubari mereka bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati.
Eko berharap, melalui kegiatan sejenis, akan mampu memberikan pemahaman dan kesadaran kepada seluruh pihak, utamanya para pemuda, tentang substansi berdirinya Bangsa Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara, sehingga akan menghindarkan dari tindakan radikalisme dan fundamentalime ekstrem atau terorisme. Selanjutnya diharapkan mereka akan mentransformasikan ilmu yang di dapat dari kegiatan ini kepada masyarakat, tentang bahaya radikalisme dan terorisme, serta tetap waspada dengan kondisi lingkungan terhadap kemungkinan terjadinya tindakan-tindakan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here