Pasangan Ex Buruh Migran Kembangkan Batik Khas Wonosobo “Bumi Tanoshi”

Beberapa motif batik yang telah dihasilkan oleh Paguyuban Bumi Tanoshi mendapat penghargaan di lomba fashion show batik Khas Wonosobo

WONOSOBOZONE – Geliat perkembangan batik khas Wonosobo mulai terlihat di banyak tempat. Terbaru, upaya mengembangkan khasanah batik di Kota Sejuk tersebut diseriusi oleh Waluyo dan Sa’diyah, pasangan suami-istri asal Kampung Penawangan, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Wonosobo. Pasutri mantan buruh migran tersebut menggerakkan paguyuban beranggotakan rekan-rekan se-profesi nya untuk bersama-sama mengembangkan batik bermotif potensi alam Wonosobo. Belum 3 bulan terbentuk, kini paguyuban yang dinamai Bumi Tanoshi tersebut telah mampu menunjukkan diri, bahwa mereka mampu bersaing dengan para perajin batik yang sudah jauh lebih senior. “Hasil karya kami diapresiasi sebagai salah satu penerima trophy sebagai Juara harapan kedua dalam lomba fashion show batik khas Wonosobo, belum lama ini,” tutur Waluyo, saat ditemui di kediamannya, Rabu (31/8).
Waluyo dan istrinya Sa’diyah mengaku mantap menekuni profesi sebagai perajin batik khas Wonosobo karena menilai potensi pasarnya masih sangat terbuka dan prospek ke depannya cukup bisa diandalkan. “Seiring semakin dikenalnya Wonosobo sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah, kami meyakini akan berdampak positif terhadap minat pada hasil kerajinan khas seperti batik ini,” bebernya menjelaskan. Mengenai ajakannya kepada sesama mantan buruh migran, Waluyo mengatakan bahwa hal itu merupakan bagian dari solidaritas kepada rekan-rekan seprofesi yang juga memiliki keinginan untuk maju dan berkembang.
Nama Bumi Tanoshi sendiri, menurutnya merupakan akronim dari Buruh Migran Indonesia Tanoshi, yang apabila diartikan kurang lebihnya adalah buruh migran Indonesia yang bahagia dan menyenangkan. Tanoshi, dijelaskan Waluyo merupakan bahasa Jepang yang artinya bahagia atau menyenangkan. “Karena saya ini mantan buruh migran dari Jepang, dan istri saya ex buruh migran dari Hongkong, maka pilihan nama pun akhirnya juga mengambil kata-kata yang bernuansa Jepang,” jelas Waluyo. Hingga akhir Agustus ini, Waluyo mengaku Bumi Tanoshi sudah beranggotakan sebanyak 88 orang ex TKI dari beberapa wilayah se-Wonosobo. Ia dan istri secara tegas mengatakan ingin serius menekuni batik khas Wonosobo, dan bahkan kini mulai mendalami beragam motif seperti candi, purwaceng, satwa, dan carica untuk dituangkan di atas kain.
“Anggota juga kami minta untuk mengikuti pelatihan membatik, dan baru-baru ini sudah ada 38 orang yang turut serta,” lanjutnya. Ia mengaku untuk upaya pengembangan kerajinan batiknya, masih memerlukan peralatan pendukung seperti kompor, tabung gas dan belanga besar untuk pencelupan kain yang selesai dibatik. “Semoga ada perhatian dari pihak Pemda, sehingga usaha kaim ini bisa berkembang lebih cepat,” harapnya.  Selain membatik, Bumi Tanoshi, ditambahkan Sa’diyah juga berupaya berbisnis kuliner, dengan menjual beragam jenis kue. “Pada musim lebaran lalu, tak kurang dari 1,5 kwintal kue produksi kami laku terjual, sehingga ke depannya kami juga akan berupaya untuk lebih serius di sektor kuliner ini,” tegas Sa’diyah.
Menanggapi adanya upaya kreatif pasutri eks buruh migran tersebut, Camat Wonosobo Zulf Ahsan Alim mengaku sangat mendukung. Ia yang juga telah berkunjung langsung ke kediaman Waluyo bahkan telah memesan tak kurang 25 lembar batik bermotif khas Wonosobo untuk dikenakan para pegawai Kecamatan. “Jelas ini layak untuk didukung karena menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dari upaya pemberdayaan masyarakat, terlebih yang direkrut adalah para mantan TKI,” tegas Zulfa. Demi lebih berkembangnya batik hasil karya Bumi Tanoshi, Zulfa juga mengaku akan terus mensupport, termasuk mengupayakan bantuan dari Pemerintah untuk pengadaan peralatan yang dibutuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here