NJF Wonosobo : Pelengkap Pagi di Kota ASRI

WONOSOBOZONE – Ketika pagi menjelang, di belahan bumi manapun saya berada, kerinduan pada kampung halaman selalu menyapa. Pagi yang dingin, berselimut kabut tipis yang membuat rona biru menggantung di udara, sinar mentari yang menyepuh Sindoro-Sumbing di kejauhan menjadi keemasan, lelaki berkalung sarung memikul kayu dan sayuran, dan .. sepincuk nasi megono.
Kuliner yang satu ini memang tak pernah saya temukan selain ketika pulang kampung. Lain dengan bakso, mie ayam, soto, rawon, atau ayam penyet yang dijajakan meluas di sudut-sudut kota Kuala Lumpur. Tak heran, nasi megono sangat ngangenin, sepaket dengan sejuta memori yang saya ingat bersamanya.
Pagi di Kota ASRI
Nasi megono berwujud nasi sebagaimana umumnya, dicampur dengan irisan-irisan tipis sayur kobis Jawa, kacang panjang, buncis dan kelapa setengah tua yang diparut. Beberapa penjual nasi ini menggunakan campuran irisan kecombrang dan ikan teri sebagai variasi, ada pula yang menggunakan beras merah untuk nasinya. Ditambah dengan tempe kemul –tempe digoreng dengan tepung yang renyah, lebar dan berwarna kuning- sebagai pelengkap, rasanya tak ada sarapan yang lebih awesome dari ini.
Menurut kata orangtua, asalnya nasi megono merupakan sajian ketika syukuran sebelum masa menanam dan setelah panen. Biasanya nasi megono dibentuk tumpeng, kemudian dibawa ke masjid untuk didoakan sebelum dinikmati bersama-sama warga desa. Kata ‘megono’ sendiri diyakini berasal dari singkatan ‘mugo-mugo ono’ yang berarti semoga selalu ada. Nama yang berisi doa agar selalu diberikan keselamatan dan ketersediaan pangan. Di kampung Kemejing, Jaraksari, tempat saya dibesarkan, hingga saat ini tradisi makan nasi megono bersama-sama masih dikekalkan. Pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, puluhan bakul dan nampan berisi nasi megono menghiasi serambi masjid Al I’tikaf. Setelah usai khotbah Id, warga berebutan menyendok nasi megono yang masih berkepul-kepul asapnya. Sajian yang dianggap membawa berkah ini turut dinikmati juga oleh warga yang bukan beragama Islam. Di kampung saya, nasi megono turut jadi saksi sebuah harmoni kebersamaan yang takkan pernah luntur.
Nasi Megono Untuk Syukuran
Membincangkan nasi megono, saya sendiri mempunyai  satu varian nasi megono favorit. Selain masakan ibu saya yang aroma kecombrangnya sangat menggoda, saya menyukai nasi megono Mbokdhe Rusni. Beliaulah ikon nasi megono di kampung saya. Warga sudah berdatangan ke rumahnya sejak pukul 6 pagi demi nasi megono yang masih panas dan menggugah selera. Potongan-potongan sayur kobis yang empuk, nasi beras merah dan campuran parutan kelapa yang gurih memang membuat ketagihan. Aroma nasi yang sedang dikukus bersama campuran sayur serta gorengan tempe kemul dan bacem gembus membuat saya betah berlama-lama di dapur kecilnya. Begitu nasi dimasukkan dalam pincuk, saya menyobek helai daun bagian luar , melipatnya, kemudian menggunakannya sebagai pengganti sendok. Tiap suapan diselingi menggigit tempe kemul yang renyah. Makannya sambil jongkok di emperan rumah, menikmati sinar matahari yang baru merekah, ditambah segelas teh hangat. Aih.. rasanya ingin segera pulang  barang sebentar bila mengingatnya.
Jika Anda berkunjung ke kota Wonosobo, dan melintas di pertigaan jalan Kyai Muntang dan Jalan Tosari, dari arah utara, beloklah ke kanan, Mbokdhe Rusni akan setia menunggu pembeli dengan bakul nasi megono dan tempe kemulnya mulai pukul 9 pagi hingga sekitar pukul 11. Lemprakan sembari menikmati sarapan nasi megono sudah semestinya dimasukkan dalam agenda Anda berwisata di kota ASRI.  
Postingan artikel ini diikutsertakan dalam #NJFWonosobo2015 
Pengirim: Tiyas Maulita
Salam netizen..
Kali ini kita ada kabar gembira buat yang belum sempat kirim karya untuk ‪#‎NJFWonosobo2015‬
Berdasarkan audiensi dengan Bapak Eko Sutrisno Wibowo (Sekretaris Daerah Kab. Wonosobo) Event lomba “Netizen Journalistic Festival” masuk ke dalam rangkaian ‪#‎HariJadiWonosobo190‬ ,
Untuk itu, kami selaku panitia menginformasikan kepada seluruh peserta yang sudah mendaftar dan kepada semua calon peserta yang akan mendaftar bahwa:
– Deadline pengiriman karya pada 1 Juli 2015 dan Pengumuman nominasi pada tanggal 25 Juli 2015
-Thema: “All About Wonosobo”
Jurinya siapa sih?
Kategori:
-Foto : Mas Agus Nonot Supriyanto (HPPW dan Photografer Senior)
-Artikel : Mas Farid Gaban (Editor in Chief Geo Times Magazine, Jurnalis Senior)
-Video : Mas Putut Tri Husodo (Wapemred SCTV, Jurnalis Senior)
Sebagai penyemangat, sebanyak 60 orang dari 3 kategori lomba akan menjadi nominator dan berkesempatan untuk kita bukukan karyanya lho…
So, Tunggu apa lagi, “Tunjukkan Karyamu!”
Untuk info lebih detail, syarat dan ketentuan bisa check:
Blog: www.njfwonosobo.blogspot.com / www.njfwonosobo.wordpress.com
FB: www.facebook.com/njfwonosobo
Twitter: www.twitter.com/njfwonosobo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here