Misteri “Bun Upas“, Fenomena Suhu Dingin Ekstrim di Dataran Tinggi Dieng

WONOSOBOZONE – Dieng, dipagi hari di Musim Kemarau dalam suhu nol derajat. Butir-butir embun membeku dipucuk rerumputan. Padang rumput yang biasanya hijau berbuah bersepuh putih bagai salju. Pemandangan yang luar biasa, Terutama bagi wisatawan yang berkunjung dimusim itu.
Udara yang dingin tak menghalangi keinginan beberapa wisatawan untuk menikmati sensasi, saat embun beku itu menggelitik telapak kaki mereka. Konon, berjalan dengan kaki telanjang diatas embun memang bagus untuk kesehatan. Terutama untuk kesehatan jantung.
Apalagi sembari menikmati keindahan panorama dan kesegaran udara Kawasan Wisata Dieng yang belum begitu tercemari polusi.
Lain di mata wisatawan, lain pula persepsi masyarakat terhadap embun beku atau yang masyarakat Dataran Tinggi Dieng menyebutnya ‘Bun Upas’ tersebut, justru sebaliknya.
Bagi masyarakat Dataran Tinggi Dieng, Bun Upas adalah pertanda ada pekerjaan tambahan bagi mereka. Tanaman mereka yang terserang bun upas harus segera diselamatkan sebelum terlambat.
Embun Upas atau Bun Upas, adalah fenomena alam yang ada di Dataran Tinggi Dieng atau Dieng Plateau, yaitu turunnya butiran-butiran embun dari atas dan kemudian butiran-butiran embun itu membeku (frosted) oleh suhu dibawah nol derajat di pucuk-pucuk daun tanaman, yang dapat terlihat pada pagi hari.
Dengan suhu dibawah nol derajat celcius maka embun bisa berubah menjadi butiran-butiran kristal es. Kalau dini hari hamparan tanaman kentang berubah menjadi putih seperti diselimuti salju dan masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan ‘Bun Upas’.
Arti dari istilah Bun Upas adalah “Embun Beracun”, walau tak mengandung racun, namun begitulah orang Dieng menyebutnya. Mungkin julukan atau penamaan itu karena jika Bun Upas ini menempel pada daun-daun tanaman kentang, biasanya daunnya lantas menguning, lalu mati.
Suhu dingin ekstrim yang terjadi di alam tropis dan melanda kawasan dataran tinggi Dieng ini selalu datang pada puncak musim kemarau, antara bulan Juli – Agustus dan biasanya terjadi lebih dari seminggu, dan puncaknya hanya sekitar tiga hari saja.
Biasanya hanya tiga hari masa puncaknya. Itu ditandai dengan tanaman yang mengering seperti terbakar. Biasanya kalau sudah seperti itu, sudah tidak bisa ditanam lagi.
Areal yang biasanya terkena Bun Upas berada pada dataran di ketinggian. Jadi tidak semua lahan terkena bun upas. Hanya lahan yang berada di dataran yang termasuk daerah lembah dengan ketinggian sekitar 2.093 meter dari permukaan laut.
Suhu udara di Dieng pada siang hari hanya pada kisaran 22-24 derajat celcius. Namun pada malam hari, suhu udara bisa turun mencapai di bawah nol, atau minus 1 atau 2 derajat celcius.
Terkadang, pada pukul 21.00 WIB suhu sudah mencapai nol derajat celcius, pada malam hari di bawah nol derajat, melihat termometer yang ada, di dalam rumah saja pada siang hari terpantau minus 1 derajat celcius.
Bun Upas biasanya akan mulai terlihat antara pukul 02.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Begitu hari terlihat terang, Bun Upas itu hilang karena mencair. Tapi terkadang sore hari, sekitar pukul 18.00 juga terjadi Bun Upas. Jika  sore hari ini tidak pasti, karena tergantung temperatur sedang dingin sekali atau tidak.
Sebanyak puluhan hektar tanaman kentang di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah terkadang rusak akibat fenomena ini. Tingkat kerusakan tanaman kentang tersebut berkisar antara 60-80% dan dikhawatirkan dapat menyebabkan gagal panen.
Selain tanaman kentang, sebanyak ribuan batang tanaman Carica juga terkena dampak dari Bun Upas. Pihak terkait mengaku telah mensosialisasikan pengaturan pola tanam kepada para petani untuk mengantisipasi fenomena Bun Upas yang selalu datang pada bulan Juli-Agustus yang dimaksudkan agar saat kemarau tiba, usia tanaman sudah lebih dari 70 hari sehingga akan lebih tahan terhadap kondisi suhu ekstrem.
Disarankan pula agar para petani sebaiknya beralih menanam kubis atau kol pada saat suhu ekstrim seperti saat ini, karena tanaman ini dinilai tahan terhadap embun upas. Pemerintah mengakui tidak mampu menangani persoalan tersebut karena Bun Upas adalah fenomena alam yang sulit diprediksi.
Pemerintah setempat berharap warga mau beralih dari menanam kentang yang selama ini sering terimbas Bun Upas ke jenis tanaman lain. Lagi pula sifat tanaman kentang tidak bisa di tumpangsari dengan tanaman lain.
Untuk meminimalisir dampak Bun Upas, beberapa petani petani mulai menutupi hamparan tanaman kentangnya dengan plastik bening. Namun biasanya tindakan ini agak terlambat, karena baru dilakukan setelah tanaman kentang sudah terpapar Bun Upas. Biasanya masyarakat menyiasatinya dengan menyiram tanaman tersebut pada pagi-pagi buta sebelum Bun Upas tersebut benar-benar bereaksi pada tanaman.
Bun Upas yang muncul pada suhu udara dini hari di bawah nol derajat celcius ini menyerupai butiran es, sehingga pada lahan pertanian di Dieng terlihat seperti hamparan salju. (republika/detik/escoret.net)
Tampak hamparan savana yang berwarna putih akibat fenomena “Bun Upas”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here