Mengenal DR. dr Budi Laksono MHSc, Ahli Biomedis Yang Tengah Seriusi Jambanisasi di Wonosobo

DR dr Budi Laksono MHSc (kiri) berdiskusi dengan Wakil Bupati Agus Subagiyo dalam rangka Jambanisasi Di Wonosobo.
WONOSOBOZONE – Keprihatinan terhadap masih minimnya kemampuan masyarakat untuk menyediakan jamban sehat di rumah, membuat seorang doktor ahli biomedis, bernama Budi Laksono meneguhkan tekadnya, menjambani Indonesia sampai tuntas. Program 1 Juta Jamban  untuk Indonesia pun diluncurkannya pada Tahun 2015 silam. Akhir pekan lalu, Budi bersama rekan-rekan dan guru nya dari Australia menyambangi Wonosobo, juga dalam rangka menuntaskan misi besarnya. Dalam perbincangannya dengan Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagiyo, Budi menjelaskan ia tengah berupaya mendorong setiap keluarga agar sadar terhadap pentingnya jamban sehat. Ketiadaan jamban di rumah membuat masyarakat terbiasa buang air besar (BAB) sembarangan, yang akhirnya memicu banyak penyakit.
“Masyarakat masih belum menyadari sepenuhnya, BAB sembarangan berpotensi memicu munculnya penyakit-penyakit gangguan saluran pencernaan, seperti diare, desentri, tifus, gangguan saluran usus, bahkan sampai hepatitis A,” tuturnya di sela berdiskusi dengan Wabup di aula Akper Pemprov Jateng. Penelitian terhadap dampak ketiadaan jamban, menurut dosen luar biasa di Fakultas Kedokteran Undip Semarang itu, dimulai sejak 1997. “Bermula ketika saya masih bertugas sebagai dokter Puskesmas  Kedungwuni 2, Kabupaten Pekalongan dan menentukan fakta bahwa, penyakit-penyakit yang bermula dari gangguan saluran pencernaan diakibatkan oleh ketidakmampuan pasien membuat jamban ideal di rumah mereka,” kata Bapak 4 anak itu mengawali cerita nya. 90% warga yang tidak memiliki Jamban sehat itu, dikatakan Budi beralasan karena faktor ekonomi, dan persepsi bahwa jamban di rumah hanya untuk kalangan orang kaya saja.
Dari fakta inilah pengurus Yayasan Wahana Bakti Sejahtera Semarang ini tergerak untuk menciptakan inovasi program Jambanisasi yang murah dan terjangkau oleh masyarakat. Nama program itu adalah Disposal Amphibian Latrine (DAL) atau toilet amfibi disposal. Dengan DAL, masyarakat bisa memiliki toilet yang dibuat dengan cepat dan murah, karena biaya pembuatan tak lebih dari 350 Ribu Rupiah. “Dalam dua jam bisa jadi dan dipakai, serta hanya 30 menit untuk menutup tanpa bekas,” beber pemilik gelar Master Of Health Science dari Queensland University of Technology Australia itu.
Di Wonosobo, Budi bersama mitra sekaligus dosennya dari Australia, yaitu Prof Darren Gray dan Prof Donald Stewart, berupaya menerapkan program serupa untuk setidaknya 1.500 keluarga di 4 desa sebagai percontohan. “Karena ini proyek serius saya bahkan menyiapkan kantor di Jalan Mayor Kaslam, Kota Wonosobo untuk wahana monitoring dan evaluasi program,” tegas pencetus ide Kafe Jamban tersebut. Ia mengakui tak ingin setengah-setengah untuk jambanisasi di Wonosobo, karena menurutnya masih ada puluhan ribu keluarga yang perlu dibantu agar memiliki jamban ideal.
Program jambanisasi yang digagas Budi, disambut antusias Wakil Bupati Agus Subagiyo. “Tentu saya dan seluruh jajaran Pemkab Wonosobo akan sangat mendukung, karena dengan terpenuhinya jamban sehat untuk seluruh lapisan masyarakat, akan mengurangi satu dari sekian indikator kemiskinan yang selama ini juga menjadi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here