Mengapa Yang Tidak Setuju Tak Dapat Mengekang Nafsu Menghina?

WONOSOBOZONE – Mengapa yang tidak setuju tak dapat mengekang nafsu menghina itu kutipan dari kata-kata Jean Marais salah satu tokoh dalam Roman Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Bahwa kadang kita sebagai manusia terlalu ingin ikut campur dengan urusan orang lain yang seharusnya kita tidak boleh ikut campur di dalamnya. Dan anehnya lagi, kita malah tidak ikut campur alias apatis terhadap sesuatu yang harusnya menjadi tanggung jawab kita bersama.
Coba deh kita renungkan, misal dalam sebuah komunitas X, mengapa kemudian ketika ada perbedaan pendapat langsung di cap sesat, atau dihina bahwa dia tidak punya ilmu yang benar atau apapun itu. Bagaimana seseorang mampu kenal Tuhannya, menjadi manusia saja belum bisa. Artinya, bagimana seseorang ingin mengenal Tuhannya itu adalah dengan cara mendekatkan dirinya selalu dengan Tuhannya, namun bagaimana mau dekat dengan Tuhannya, kita saja sibuk dengan menghina orang lain, mencaci maki orang lain tanpa berkaca seperti apa diri kita ini. Maka dari itu kawan, kita hampir disapa oleh ramadhan, akankah ramadhan kita sama dengan ramadhan  sebelumnya? Ataukah lebih buruk dari ramadhan sebelumnya?
Karena ramadhan atau identik dengan puasa secara bahasa mempunyai arti menahan. Menahan dalam hal ini sebenarnya boleh kita kaitkan dengan hal-hal yang sifatnya jiwa, bukan hanya raga saja. Misalkan menahan untuk marah, menahan untuk menggunjing, dan lain sebagainya. Dan fenomena yang biasa terjadi ketika bulan ramadhan adalah perbedaan rakaat shalat sunnah tarawih. Dimana perbedaan itu sering kali menyebabakan semacam saling hina menghina, sesat meyesatkan bahkan kafir mengkafirkan.
Sebenarnya perlu kita renungkan secara shalat tarawih itu shalat apa dulu, dan hadis-hadis terkait dengan dalil yang kaitannya dengan shalat tarawih tersebut. Semoga dengan ini kita selalu belajar, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah selalu bermakna, tinggal bagaimana kita melihat sesuatu tersebut. Maka jangan terbiasa untuk mengadili sesuatu yang baru kita lihat kulitnya saja, tanpa melihat dagingnya.
Penulis Oleh: Nuari Andriyani / HMI Wonosobo
Foto : bmtnu-ngasem.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here