Mengapa Pulang Kampung Senang?

WONOSOBOZONE – Tarawih juga belum apa lagi puasa, puasa juga belum apa lagi lebaran, namun mudik saja  yang dipikirkan. Rasa-rasanya ingin cepat-cepat pulang kampung. Seolah tidak pernah pulang saja. Padahal ya rumahnya tidak pindah juga. Namun kenapa begitu bersemangat untuk pulang kampung.
Pulang kampung selalu identik dengan libur panjang yang bersinggungan dengan hari-hari besar, katakanlah idul fitri atau idul adha.
Pulang kampung mempunyai makna, pulang berarti kembali, sedangkan kampung adalah tempat asal. Pulang kampung atau mudik sering kali menjadi ajang temu kangen, kumpul keluarga besar maupun kumpul keluarga kecil dan sebagainya. Pulang kampung selalu menggambarkan ekspresi suka cita bagi mereka yang pulang atau pun bagi mereka yang melihat kepulangan. Biar agak anti mainstream sedikit, yuk kita singgungkan mudik / pulang kampung dengan kalimat innalillahi wa inna ilaihi raajiuun.
Mengutip kata-kata dari Ali bin Abi Thalib yang kurang lebih begini bunyinya innalillahi (sesungguhnya kita adalah milik Allah) adalah pengakuan atas diri kita bahwa diri kita adalah kepunyaan (milik Allah), sedangkan ucapan inna ilaihi raajiuun (kepada-Nya lah kita kembali) adalah sebuah pengakuan atas diri kita dengan kematian.
Pada dasarnya apa-apa yang di dunia ini datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah juga. Karena Dia adalah Maha Kuasa dan Maha Berkuasa. Sesuatu yang diciptakan mempunyai sebuah masa atau jangka waktu. Katakanlah roti yang kita buat, pasti akan basi juga. Namun peran manusia tidak serendah roti, karena roti tidak memiliki akal dan hati layaknya manusia, dengan hal inilah yang kemudian manusia disebut sebagai sebaik-baiknya ciptaan. Seyogyanya bagi sesuatu yang memiliki predikat sebaik-baik manusia hendaknya mempunyai peran yang lebih baik dari pada sesuatu yang lain yang tidak punya predikat tersebut. Dalam hal ini sering kita sebut sebagai kebermanfaatan. Tingkatan kebermanfaat sesuatu itu dillihat dari kapasitas yang mampu dicapainya.
Kembali lagi kepada persoalan asal. Anehnya mudik ini oleh kebanyakan orang hanya di artikan secara emosi saja, tanpa mengetahui makna dibalik itu semua. Mudik atau pulang kampung jika kita singgungkan dengan kematian akan menghasilkan perasaan yang berbeda pula. Padahal pulang kampung atau mudik mempunyai pengertian yang sama, yaitu kembali ke asal. Lantas mengapa menghasilkan perasaan yang berbeda?
Mengapa orang mudik senang? Sedangkan mati kok susah? Padahal kita tahu bahwa kita milik-Nya dan mempunyai sifat kesementaraan tadi. Titipan itu kan sebuah amanah, kalo yang menitipkan meminta kembali kan kita harusnya tidak mempermasalahkan itu, wong bukan hak kita.
Penulis Oleh: Nuari Andriyani / HMI Wonosobo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here