Meneladani Sifat Nabi Ibrahim

WONOSOBOZONE.COM – Keberhasilan Ibrahim ‘alahissalam melawan serangan iblis dan meruntuhkan ego-pribadinya, merupakan teladan bagi seluruh umat yang beriman. Allah menyebutkan beberapa sifat Ibrahim ‘alahissalam yang hendaknya dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari adalah :

Pertama, senantiasa memenuhi janji. Ibrahim ‘alahissalam tidak pernah mengkhianati janji baik kepada Allah maupun manusia. Allah menyebutkan sifat mulia ini dalam al-Qur’an : “Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.” (QS. an-Najm[57]: 37).

Kedua, berhati hilmiyah atau lemah lembut. Dia lemah lembut dan penuh kasih kepada manusia; tidak berbicara dan bersikap kasar terhadap siapapun. Santun terhadap siapapun tanpa menunjukkan dirinya sebagai seorang yang besar, terpandang dan mulia.

Ketiga, mudah berbelas kasihan (penghiba). Dia tidak tega melihat orang lemah, didzalimi dan diperlakukan buruk. Belas kasih ayang sedemikian besar sehingga Ibrahim ‘alaihissalam dikenal sebagai pribadi yang ikhlash berkorban dan berada di depan untuk membela dan mengasihi mereka.

Keempat, suka memohon ampun kepada Allah. Tidak karena dia melakukan kesalahan atau dosa, melainkan kesadarannya sebagai hamba Allah yang hina. Rasa hamba ini merupakan pertanda iman yang kuat, meneguhkan ketaatan dan senantiasa merasa diawasi Allah. Dia memiliki jiwa tunduk, takut dan harapan yang luar biasa kepada Allah SWT.

Sifat-sifat Ibrahim ‘alaihissalam tersebut dinyatakan Allah dalam firmanNya : “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hūd[11]: 75)

Kelima, selalu menaati Allah, maka dia menjadi kekasih Allah. Tidak ditemukan dalam kitab manapun penyebutan seorang nabi yang diangkat sebagai kekasih-kesayangan Allah kecuali Ibrahim ‘alaihissalam. Allah menyebut dalam firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Q.S. An-Nisa[4]:125).

BACA JUGA:  Linmas Wonosobo Dipimpin Personel Wanita

Al-Khullah (kekasih-kesayangan) adalah rasa cinta yang sangat besar dan penuh ketaatan kepada yang dicintainya. Bukan cinta biasa atau sesaat. Allah SWT mengangkatnya sebagai kekasih-Nya. Ini merupakan suatu kedudukan yang sangat mulia dan tinggi. Sebab rasa cinta Allah yang sedemikian besar, sehingga Allah selalu rindu dan mengasihi Ibrahim. Hal ini sebagai balasan atas ketaatan, kesetiaan, belas kasih, pemenuhan janji, kesantunan, ketahanan uji dalam menaati, ikhlas dan ridha kepada Allah.

Sebaliknya, berapa banyak orang yang bersedia menepati janji, berbuat kebaikan dan berbelas kasih kepada sesama manusia, namun pernyataan ini sering dikhianati atau hanya semacam gurauan tingkat tinggi. Sedangkan bila kita mampu mengurangi rasa sombong, kagum diri dan egois menjadi rasa rendah hati, ikhlash dan taat kepada perintah Allah; maka akan membawa kemaslahatan bagi sesama ummat manusia, sekaligus merupakan modal untuk memperoleh kenikmatan akhirat.


Orang yang beriman memahami makna ujian dan perintah Allah. Dengan ujian, manusia belajar dan mengambil hikmat untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan menerima perintah Allah, manusia memahami kedudukannya sebagai hamba. Dan sesungguhnya puncak harapan hamba Allah dan tujuan akhir perjalanan orang-orang yang beriman adalah meraih cinta Allah SWT sebagaimana yang dilakukan Ibrahim ‘alahissalam. Cinta Allah tersebut merupakan nikmat yang besar, karena dapat dibawa sampai ke akhirat serta mendekatkan diri kita kepada kasih sayang dan ridha Allah. [w@]

Penulis : H. Wajihudin Al-Hafeez, MSPA

Pengasuh PP. Al-Muzani Kompleks SMK TAQ Mekarsari Kalibeber Wonosobo, Pengajar pada UNSIQ Jateng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.