Lebih Dekat Dengan Gerakan Ibu Menabung Sampah Di Perumahan Argopeni Indah

Hasilkan 3 Juta Pertahun, Jadi Subsidi Piknik Warga Se-RT
WONOSOBOZONE – Para ibu di Perumahan Argopeni Indah, Kota Wonosobo punya cara unik untuk menanggulangi permasalahan menumpuknya sampah di lingkungan mereka. Tak sekedar membuang ke tempat sampah, mereka mengelola tumpukan limbah rumah tangga tersebut dengan mendirikan gerakan ibu menabung sampah (GIMS). Dari gerakan sederhana di lingkup rukun tetangga (RT) itu, sampah yang tak bernilai akhirnya bahkan mampu membawa warga setempat berekreasi di berbagai objek wisata terkenal, seperti Owabong Purbalingga, Pantai Parangtritis di Bantul Jogjakarta, hingga Pesona Karimunjawa di Jepara. Belum lama ini, warga juga mencoba menjadi turis lokal di Puncak Sikunir, Desa Sembungan. Ketua sekaligus penggagas GIMS Argopeni Indah, Ny Astuti Farida menyebut aktivitas positif ibu-ibu di perumahannya itu sudah berlangsung hampir 5 tahun.
“Berawal pada 11 November 2011 silam, ketika kami di lingkungan perumahan kerap dibuat resah dengan banyaknya sampah yang sering terlambat diambil para petugas,” terang Astuti saat ditemui di kediamannya, Minggu (30/10) petang. Hal itu, dikatakan perempuan yang akrab dengan sapaan Bu Ida tersebut, akhirnya didiskusikan bersama hingga kemudian disepakatilah sebuah gerakan untuk mengurangi dampak negatifnya. Gerakan menabung sampah dipilih, karena dirasa lebih efektif dan efisien, serta bisa dimulai dari setiap keluarga. “GIMS ini sangat simpel, karena para ibu tinggal mengumpulkan sampah, terutama yang kering, seperti botol plastik bekas air kemasan, kertas koran, kardus hingga barang-barang rumah tangga bekas pakai,” jelas Ida. Mereka tak lagi membuang sampah itu ke TPS di perumahan, sehingga sangat efektif mengurangi volume sampah. Kepada para ibu rumah tangga, Ida juga mengimbau mereka untuk memilah sampah kering sesuai jenis nya, sehingga lebih mudah saat hendak dijual.
“Sampah yang terkumpul memang kami tampung untuk kemudian dijual tiap minggu kepada para pengepul atau tukang rosok yang siap mengolahnya,” terangnya lebih lanjut. Dari hasil penjualan itulah, sejumlah uang terkumpul dan dikembalikan lagi kepada para pengumpulnya sesuai dengan yang disetorkan.  Pengembalinannya, menurut Ida  tidak dalam bentuk uang cash, melainkan dalam bentuk subsidi untuk biaya rekreasi warga RT. “Jumlah  uang yang dikumpulkan dari hasil penjualan sampah mencapai 2,5 sampai 3 Juta Rupiah per tahun, dan itu kami sepakati bersama untuk digunakan sebagai biaya piknik,” tutur perempuan murah senyum itu. Media piknik, disebut Ida tak hanya sekedar refreshing semata, karena melalui piknik itu pula, silaturahmi antar warga terjalin semakin kuat. “Kebanyakan warga perumahan ini sehari-harinya disibukkan dengan aktivitas mereka masing-masing, sehingga waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga menjadi minim,” ungkapnya.
Manfaat lain dari adanya dana hasil penjualan sampah, menurut Farida adalah adanya semacam bank mini yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas kemasyarakatan. “Dana dari sampah ini kami gunakan jiha untuk simpan – pinjam warga yang memang tengah membutuhkan uang dan juga kami manfaatkan untuk gerakan menanam sayuran dan bunga di sekitar perumahan, atau membeli benih ikan,” tandas Farida.
Keuntungan lain dari GIMS, disebut Farida adalah terjaganya kebersihan lingkungan, serta bisa menjadi media untuk mengedukasi masyarakat agar lebih menghargai sampah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here