Launching Sanggar Belajar, Sendra Tari Setyo Langen Budoyo Kenalkan Tari Carica dan Tari Ruwat Gembel

WONOSOBOZONE – Suasana di Dusun Anggrogondok Desa Reco Kecamatan Kertek tidak tampak seperti biasa. Pasalnya, ribuan orang berbondong-bondong memadati Dusun tersebut untuk menyaksikan pertunjukkan sendra tari Setyo Langen Budoyo. Atas dasar perayaan HUT ke-16 sekaligus Launching penerimaan siswa baru, sendra tari tersebut diselenggarakan. Salah satu pelopor Setyo Langen Budoyo, Agung Wahyu Utomo, mengatakan bahwa pertunjukan kali ini kita libatkan beberapa group kesenian yang ada di Wonosobo. “Kita mencoba mengkolaborasikan tarian tradisional yang ada di Indonesia dengan tarian Wonosobo agar lebih inovatif dan tidak terlihat monoton, jadi penonton bisa menikmati tarian yang cukup kreatif dari sanggar kami,” ucap Agung ketika ditemui di sela pertunjukan, Rabu malam (2/6).
Dalam pertunjukan tersebut, beberapa tarian ikut menghiasi suasana Anggrogondok yang semakin larut. Tari carica dan tari ruwat gembel hadir sebagai ikon diantara 5 tarian lainnya. Dengan diiringi perpaduan musik antara instrumen tradisional dan modern, pria yang akrab disapa Agung Koplak, bersama kawan-kawan Setyo Langen Budoyo menyajikan karya seni yang apik. Seperti menabuh gamelan yang dipadukan dengan drum dan juga alat musik rebana.
Menurut mahasiswa semester akhir jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) dari salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang tersebut, menyebutkan bahwa tari Carica dan tari Ruwat gembel merupakan karyanya yang unik, sebab dikatakan Agung bahwa kedua tarian tersebut selain sebagai sebuah karya seni koteografi, juga sebagai media promosi potensi budaya dan potensi alam Wonosobo. “Yang jelas, para warga Anggrogondok ingin melestarikan kesenian tradisional Wonosobo,” terang penabuh gendang yang pernah tampil di berbagai negara Eropa.
Melihat keseriusan masyarakat Anggrogondok, Kepala Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Agus Purnomo mengapresiasi positif atas inisiatif tersebut. Pihaknya mendukung langkah warga anggrogondok untuk bisa melestarikan kesenian daerah. “Kesenian atau kebudayaan apabila dikelola dengan baik, dapat menjadikan desa tersebut menjadi desa mandiri”. tandas Agus. Karena menurut Agus, dengan adanya kreatifitas tersebut, dapat mendatangkan wisatawan dan nantinya menimbulkan multi player effect bagi warga sekitar. “Wonosobo tak hanya memiliki potensi alam saja, melainkan potensi budaya juga melimpah, sehingga perlu adanya dukungan dari berbagai pihak agar dapat berkembang dan tetap lestari,” pungkas Agus. (Ard/Apr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here