Kuwat Moerdiono, 30 Tahun Lebih Setia Tekuni Kerajinan Topeng Kayu

WONOSOBOZONE – Profesi sebagai perajin topeng kayu di era modern seperti sekarang, bisa dibilang sangat langka. Namun, pilihan untuk tetap menekuni profesi langka tersebut diambil oleh Moerdiono alias Kuwat (53), warga Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto. Tak gentar dengan arus modern, Kuwat mengaku akan setia pada topeng kayu sampai tenaganya benar-benar tak mampu lagi memahatkan alat pada kayu-kayu pule. “Saya yakin saja bahwa yang namanya kesenian tari topeng tak akan kalah oleh zaman,” tegas Kuwat menjawab pertanyaan Kepala Kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Agus Purnomo, yang mengunjungi kediamannya, Kamis (6/10).
Bapak 2 anak yang mengaku telah menekuni profesi sebagai perajin topeng kayu sejak usia 22 tahun itu mengaku, justru beberapa tahun terakhir pesanan yang datang cukup banyak. “Kadang bahkan saya merasa kewalahan memenuhi tenggat waktu yang diinginkan pemesan, karena keterbatasan tenaga,” ujar Kuwat. Para pemesan yang beberapa diantaranya berasal dari luar Jawa Tengah, menurut Kuwat bahkan rela menitipkan uang tanda jadi dalam jumlah cukup besar. “Yang pesan sampai 20 buah topeng menitipkan uang 2 sampai 3 Juta, tergantung jenis topeng yang dipesannya,” beber pria murah senyum itu. Harga per buah untuk jenis topeng ukuran kecil hingga sedang, seperti yang sering dipakai untuk pentas tari pelajar maupun seni budaya, disebut Kuwat berkisar antara Rp150.000 sampai Rp 200.000,-.
Untuk ukuran sedang hingga besar dan ditambah asesoris seperti rambut atau taring, Kuwat menyebut harga yang vatiatif, mulai dari 300 ribuan sampai di atas 500 ribu rupiah. “Biasanya yang ukuran besar itu pesanan untuk keperluan pribadi sebagai hiasan dinding rumah, atau untuk di rumah makan dan gallery seni,” terangnya. Dalam sehari, Kuwat yang juga membuat kuda Kepang dan  patung batu itu, mengaku mampu menyelesaikan 5 buah topeng kayu kategori kecil dan sedang.
Selama puluhan tahun menekuni pembuatan topeng kayu, Kuwat menuturkan ia tak memenemukan kesulitan berarti. “Bahan baku dari kayu jenis pule juga mudah diperoleh, baik dari saya menebang sendiri, atau menerima setoran dari Sukoharjo, Kaliwiro sampai Banjarnegara,” jelas pemilik nama kecil Moerdiono itu. Kesulitan terbesar, menurutnya adalah untuk menularkan keterampilan yang dimiliki kepada anaknya. “Anak ada minat, tapi karena masih sekolah saya tak ingin terlalu memaksakan,” pungkas Kuwat.
Melihat keteguhan hati Kuwat yang tetap setia dengan topeng kayu, Kepala Kantor Parekraf, Agus Purnomo mengaku sangat mendukung. “Pak Kuwat ini secara nyata menunjukkan kesetiaan pada upaya melestarikan seni dan budaya khas Wonosobo,” tutur Agus. Agar lebih berkembang, Agus mengaku ia akan berusaha agar lembaga perbankan bisa masuk dan membantu permodalan untuk usaha kerajinan topeng kayu milik Kuwat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here