Kuliner Khas Panto Sapuran Siap Sambut Wisatawan

WONOSOBOZONE – Kaum perempuan di Dusun Panto, Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran layak mendapat acungan jempol. Menyadari adanya kelebihan berupa potensi alam yang menghasilkan produk pangan khas, yaitu ketela pohon, mereka berinisiatif untuk secara serius mengembangkannya agar menjadi produk-produk olahan bernilai lebih. Hal itu selaras, karena dalam waktu dekat dusun yang berlokasi 3 kilometer sebelah selatan pusat Kecamatan Sapuran tersebut berencana mendeklarasikan diri sebagai Desa Wisata. Keseriusan kaum ibu dan remaja putri yang tergabung dalam 3 kelompok usaha mandiri, yaitu kelompok Senggani, Sakura dan Agropule itu menjadi salah satu daya dukung kuat dalam rangka menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Panto.


“Produk olahan dari bahan dasar ketela pohon yang telah berhasil kami produksi antara lain adalah bronis ketela, ketela karamel, getuk aneka rasa, kripik lengko, ceriping talas, jipang, sampai jenang Tariyah,” ungkap Sri Suwarni, salah satu anggota kelompok sadar wisata Dusun Panto ketika ditemui di sekretariat Pokdarwis setempat, Rabu (11/10). Selain produk olahan ketela, pokdarwis wanita Panto disebut Sri juga sudah membuat minuman khas dari bahan rempah-rempah yang rasanya mirip dengan bir Pletok. Nantinya, produk-produk olahan itu menurutnya bakal menjadi sajian khas bagi wisatawan yang datang berkunjung untuk menikmati keindahan alam kawasan wisata Pakis Menjangan.


Demi meningkatkan keterampilan mengolah ketela, pokdarwis Dusun Panto disebut Sri bahkan berlatih secara serius dengan mengundang seorang Chef. “Belum lama ini kami menjalani pelatihan selama 3 hari dengan menghadirkan seorang chef yang ahli dalam olah boga, terutama untuk makanan dengan bahan dasar ketela dan talas,” tutur Sri lebih lanjut. Tak hanya itu, kelompok wanita di Dusun Panto diakuinya juga berlatih untuk mengelola sampah agar mampu menjadi produk-produk bernilai ekonomi tinggi, seperti plastik bekas yang dibuat dompet dan tas, sampai kerajinan membuat bunga sakura dari kain perca. “Di kawasan bukit Pakis Menjangan ada bunga unik yang sangat mirip dengan bunga sakura dari Jepang, sehingga kami terinspirasi untuk membuat kerajinan khas serupa,” terangnya. Hasil dari kerajinan khas tersebut, menurut Sri juga akan menjadi semacam suvenir untuk para turis.


Inisiatif kelompok wanita mandiri yang tengah meretas upaya menyukseskan desa wisata, mendapat sambutan positif dari penasehat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Wonosobo, Agus Purnomo. Menurut Agus, adanya kesadaran kaum ibu di Dusun Panto untuk mendukung pengembangan desa wisata akan memicu semangat warga untuk bahu-membahu mempercepat terwujudnya cita-cita mereka. “Yang jelas karena ibu-ibu nya sudah memberikan dukungan penuh, saya meyakini Panto akan mampu berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan, karena sudah memiliki panorama alam yang sangat indah,” pungkas Agus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here