Keren, Sayur Wonosobo Akan di Ekspor ke Korea Selatan

WONOSOBOZONE – Pemerintah Kabupaten Wonosobo siap membuka kran ekspor sayur ke Korea Selatan, hal ini diungkapkan Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo, saat menerima Komunitas Anak Wonosobo atau KOMAWO, yang merupakan perkumpulan Tenaga Kerja Indonesia asal Wonosobo di Korea Selatan, Senin, 25 Juli.
Menurut Agus, pihaknya siap membuka pembicaraan perdagangan dengan Pemerintah Korea Selatan, dengan membuka kran ekspor sayur, yang selama ini belum pernah dilakukan dengan Pemerintah Indonesia, padahal menurut informasi para tenaga kerja di Korsel, harga sayur di sana cukup fantastis. Harga 1 buah kobis menembus angka 4.500 rupiah, 1 buah kentang mencapai 55.000 rupiah dan 1 buah cabai mencapai 10.000 rupiah.
Menilik peluang usaha ini, Wabup optimis bisa menembus pasar ekspor sayur asal Wonosobo ke Korea Selatan, meski diakui cukup berat, karena harus memenuhi aspek kualitas, kuantitas dan kontinuitas.
Namun, karena selama ini sayur sebagai bagian sektor pertanian memegang peranan dominan dalam pembangunan ekonomi daerah, khususnya dilihat dari kontribusinya terhadap penyediaan pangan, penyediaan bahan baku industri, penyediaan lapangan kerja, PDRB, peningkatan pendapatan petani dan kelestarian lingkungan hidup, ia mengaku optimis bisa mengupaykan sayur Wonosobo masuk pasar Korea Selatan.
Dari data, pada tahun 2014 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Wonosobo sebesar 44,50% yang merupakan sumbangan terbesar dibandingkan sektor-sektor lain. Produksi tanaman hortikultura juga mengalami peningkatan tiap tahunnya, khususnya jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Jika pada tahun 2013 hasil yang didapat sebanyak 3.949.905 kwintal, pada tahun 2014 meningkat menjadi 4.098.198 kwintal. Produktivitas tertinggi tanaman sayuran didominasi oleh tanaman labu siam sebesar 130,36 ton/ha, disusul kobis dan kentang, sedang buah-buahan yang mempunyai produksi terbesar adalah pisang, salak dan durian.
Hal inilah yang akan dibawa pihaknya bersama beberapa pejabat Pemkab Wonosobo, yang rencananya akan melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan pada 31 Juli mendatang, dalam acara Kenduri Indonesia 2016 Pesta Rakyat Indonesia di Korea Selatan, yang kebetulan diketuai Wawan Bramantyo, TKI asal Wonosobo, yang juga Ketua KOMAWO.
Agus menambahkan, selain sektor perdagangan, pihaknya juga akan memanfaatkan momen ini, sebagai ajang promosi gratis pariwisata Wonosobo, sehingga pihaknya juga mengajak Duta Wisata untuk berkiprah dalam ajang tahunan ini. Ia menilai ajang ini sangat prospektif, untuk lebih mengenalkan wisata dan budaya khas Wonosobo kepada masyarakat Korea Selatan.
Disamping juga pihaknya akan meningkatkan komunikasi intens dengan KOMAWO, yang rencananya akan menyalurkan bantuan uang yang selama ini telah dikoordinir tenaga kerja asal Wonosobo di Korea melalui KOMAWO untuk berbagai kegiatan sosial di Wonosobo, seperti membantu korban bencana alam, anak yatim dan penyandang disabilitas.
Menurut Wawan Bramantyo dari KOMAWO, KOMAWO merupakan paguyuban masyarakat Indonesia di Korea, yang lahir pada 8 Februari 2016, dengan anggota sekitar 130 orang, yang mana paguyuban ini bertekad untuk membantu pembangunan Wonosobo.
KOMAWO didirikan juga untuk belajar berorganisasi, bekerjasama dan berbagi. Cita-cita besarnya adalah memberikan bantuan pendidikan kepada anak yatim di Wonosobo melalui deposito organisasi. Pihaknya selama ini menarik iuran sebagian anggota senilai 200 ribu sebulan per orang. Diharapkan di masa datang, kontribusi anggota menjadi lebih luas sehingga target bisa terealisir segera.
Dalam acara Kenduri Indonesia 2016 Pesta Rakyat Indonesia di Korea Selatan sendiri, selain akan dihadiri Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Koordinator Pelindungan WNI KBRI Seoul, juga akan dihadiri Ketua BNP2TKI, Nusron Wahid.
Terkait kegiatan sosial yang dilakukan KOMAWO, Wawan menambahkan, Komunitas Anak Wonosobo yang masih mengais rejeki di negri gingseng ini juga dengan senang hati berbagi rasa, dalam wujud sedikit materi untuk sesama TKI. Baik karena sakit yang di sebabkan kecelakaan kerja maupun karena penyakit bawaan,serta bagi rekan TKI yang mengalami musibah kehilangan anggota keluarganya. Termasuk dengan menerapkan aturan, melarang anggotanya untuk meminum minuman keras yang selama ini kerap jadi budaya di Korea Selatan, serta sebulan sekali menggelar pengajian. Tercatat jumlah pekerja asal Wonosobo di Korsel mencapai 160 orang, yang sebagian besar bekerja sebagai karyawan pabrik.
Sementara terkait permasalahan TKI di Korsel, khususnya asal Wonosobo, yang selama ini terjadi adalah keterlambatan gaji yang harus dibayarkan perusahaan serta tidak seperti di Hongkong, Singapura dan Taiwan, belum ada lembaga advokasi bagi para pekerja Indonesia di Korea Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here