Kepala Dinas PPKBPPPA Berpulang ke Rahmatullah

WONOSOBOZONE – Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Wonosobo, dr. RM Okie Hapsoro Binanda P, M.Kes., MMR, yang juga plt. Kepala RSUD KRT. Setjonegoro, berpulang ke Rahmatullah, Selasa, 6 November 2018 sekira pukul 02.00 WIB, di RSUD KRT.Setjonegoro, dalam usia 54 tahun. Almarhum berpulang bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke 54. Almarhum lahir di Cilacap, 6 November 1964.

Selama 8 tahun berkarir sebagai pejabat struktural di Pemerintah Kabupaten Wonosobo, sejumlah OPD pernah dipimpin almarhum. Mulai Pimpinan RSUD KRT.Setjonegoro, Kepala Dinas Kesehatan dan terakhir Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Wonosobo.

Suami dari dr.Sri Windayati, Sp.KK, tersebut sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Puskesmas Pecangaan 2 Jepara tahun 1993-1997, Kasi Perawatan RSUD RA Kartini Jepara tahun 1999-2001, Kasi Pelayanan 2 RSUD RA Kartini Jepara tahun 2001, Kepala Instalasi Rawat Inap RS Tugurejo Semarang tahun 2001-2005, serta Plt.Kasi Patologi Balai Laboratorium Kesehatan Semarang tahun 2005-2010.

Ayah dari putra semata wayang, Novarelokwina Primu Saputra ini, sebelum wafat, selain menjabat Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Wonosobo juga menjabat Plt. Pimpinan RSUD KRT.Setjonegoro.

Selama 8 tahun di Wonosobo, beberapa raihan prestasi serta program-program kesehatan dan Keluarga Berencana berhasil ditorehkan almarhum. Terakhir almarhum sukses mengantarkan RSUD KRT.Setjonegoro jadi yang terbaik dalam Lomba Inovasi Pelayanan Publik tahun 2018 melalui inovasi Quality Control Cycle (QCC) Tata Kelola Penyelenggaraan Publik yang efektif, efisien dan berkinerja tinggi.

Selain torehan prestasi tersebut, beberapa program juga pernah dilakukan oleh almarhum. Diantaranya saat menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, almarhum menekankan perlunya penguatan komitmen Wonosobo Bebas Buang Air Besar Sembarangan. Menurutnya hal ini bisa dicapai, apabila ada kepedulian, koordinasi dan sinergitas, maupun peran seluruh mitra terkait, untuk bersama-sama berkomitmen, serta bertanggung jawab mensukseskan Wonosobo Sehat, yaitu Kabupaten Wonosobo Bebas Buang Air Besar Sembarangan. Hal ini juga untuk mewujudkan Kabupaten Wonosobo Universal Acces tahun 2019, yaitu 100% masyarakat mengakses air minum, 0% lingkungan kumuh dan 100% masyarakat mengakses sanitasi.

Kemudian untuk mengurangi angka kesakitan penderita kanker rahim bagi ibu-ibu Wonosobo, almarhum menginisiasi pemeriksaan IVA gratis bagi ratusan guru dalam peringatan Hari Guru di beberapa lokasi puskesmas. Menurutnya, bagi sebagian perempuan, kanker rahim (Ca Serviks) merupakan momok menakutkan yang wajib dijauhi. Sehingga deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan metode IVA ini dinilai sebagai langkah tepat untuk mengurai maraknya temuan panyakit kanker ini di tengah kaum perempuan. Apalagi bagi para guru, yang harus memberi teladan kepada anak didiknya, sehingga kondisi tubuh sehat dan bugar menjadi hal yang mutlak diperlukan.

Tidak berhenti kepada para guru, kepada masyarakat luas almarhum juga senantiasa mengingatkan dalam setiap gelaran deteksi dini kanker rahim metode IVA, bahwa pasien yang terkena kanker serviks biasanya diketahui saat sudah berada pada stadium lanjut. Di kondisi seperti itu, penyakit sudah sulit untuk diterapi, sehingga prosentase kesembuhan juga kecil. Dengan adanya metode test IVA ini, potensi bahaya penyebaran sel kanker bisa diketahui sejak dini, sehingga terapi yang diberikan akan memiliki harapan sembuh lebih besar.

Program berikutnya, adalah sosialisasi massif gerakan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) penyakit kaki gajah (filariasis), kepada semua penduduk Wonosobo usia 2 sampai 70 tahun selama lima tahun berturut-turut. Menurutnya kaki gajah (filariasis) merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk, yang menimbulkan kecacatan menetap, stigma sosial, hambatan psikologis, serta menurunkan kualitas sumber daya manusia dan menimbulkan kerugian ekononomi. Kaki gajah menurutnya merupakan salah satu penyakit tropik terabaikan (NTDs/Neglected Tropical Diseases) yang mana di Indonesia ada 8 jenis penyakit ini, yakni kusta, frambusia, filariasis, schistosomiasis, kecacingan (STH), taeniasis, dengue dan chikungunya serta rabies.

BACA JUGA:  Cuaca Buruk, Produksi Kopi Menurun

Hal ini sekaligus mendukung Pemerintah, yang bertekad mewujudkan Indonesia Bebas Kaki Gajah tahun 2020, sehingga pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat terwujudnya Indonesia Bebas Kaki Gajah, melalui Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA) setiap bulan Oktober selama 5 tahun (2016-2020) melalui Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM). Mengingat Wonosobo, termasuk dalam 9 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah endemis penyakit kaki gajah di Provinsi Jawa Tengah. Wonosobo, bersama Kabupaten Brebes, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Demak, Kabupaten Pati dan Kabupaten Blora.

Keberhasilan terwujudnya Indonesia, termasuk Wonosobo Bebas Kaki Gajah sendiri, ditekankan almarhuma dr.Okie, ditentukan oleh dukungan semua pihak, baik di jajaran pemerintah maupun seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan swasta dan dunia usaha, serta harus lintas sektor dan program.
Selain itu, salah satu upaya mengurangi angka kecelakaan lalu lintas pada masa mudik lebaran, pihaknya melaksanakan pemeriksaan faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada pengemudi di beberapa Terminal. Menurutnya, selain untuk mengurangi angka kecelakaan, kegiatan juga sebagai amanat Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 pasal 203 tentang RUNK Jalan tahun 2011-2035 serta Instruksi Presiden nomor 4 tahun 2013 tentang 5 pilar program dekade aksi keselamatan jalan, utamanya pilar ke-5, yakni penanganan pra dan pasca kecelakaan. Sebab menurut data, dari anatomi kecelakaan lalu lintas yang terjadi, dari faktor utama penyebab kecelakaan, terbesar adalah karena faktor manusia, yakni 47,8%, disusul faktor jalan dan lingkungan sebesar 34,8% dan faktor kendaraan sebesar 17,4%. Ia berharap adanya pemeriksaan bagi pengemudi ini bisa mengurangi angka kecelakaan yang dikarenakan faktor manusia.

Almarhum dr.Okie juga pernah menghimbau semua perusahaan atau pengusaha untuk bisa membentuk dan mengembangkan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) bagi para pegawainya, yang difasilitasi oleh PUSKESMAS, serta bisa memberikan ruang atau tempat untuk ibu menyusui agar bisa memerah ASI di ruang Laktasi (ruang khusus) dan menyediakan kulkas untuk tempat ASI. Hal ini ditekankan almarhum karena di Kabupaten Wonosobo, angka kesakitan atau kematian karena kerja atau kecelakaan kerja belum diketahui secara pasti, namun secara umum semua pekerja berobat periksa di PUSKESMAS, Rumah Sakit Umum Pemerintah, maupun Rumah Sakit swasta sebagai pasien biasa, tidak menyebutkan karena faktor resiko kerja.

Untuk itu, perlu adanya langkah-langkah konkrit dengan kerjasama Lintas Sektor dan Lintas Program serta dengan jajaran swasta dan perusahaan untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya, melalui peningkatan akses masyarakat, termasuk pekerja terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas serta upaya ke arah promotif, preventif sesuai kondisi dan kebutuhan guna menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat kerja, karena kesehatan merupakan hak fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik yang dianut dan tingkat sosial ekonomi.

Upaya Kesehatan Kerja sendiri ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan, dengan mengembangkan pelayanan kesehatan kerja primer dan penerapan keselamatan, kesehatan kerja di tempat kerja, serta membentuk Pos UKK sebagai bentuk UKBM pada pekerja, peningkatan kesehatan kelompok pekerja rentan, seperti nelayan, TKI, dan pekerja perempuan, agar nantinya penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat dicegah, sehingga berimbas pada aspek ekonomi, dengan penyelenggaraan kesehatan kerja bagi suatu perusahaan ini sangat menguntungkan, karena tujuan akhir dari kesehatan kerja adalah meningkatkan produktifitas seoptimal mungkin.

BACA JUGA:  ANGIN KENCANG ROBOHKAN POHON PINUS

Selain itu, almarhum juga pernah meminta agar Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) diperuntukkan bagi penyediaan Rumah Tunggu Kehamilan (RTK), karena program ini sangat mendukung program yang tengah digalakkan Pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi, dengan mendekatkan proses persalinan ke puskesmas. Hal ini telah diterapkan di 24 puskesmas di Wonosobo, dengan harapan penanganan ibu hamil, dari saat melahirkan sampai masa nifasnya, beserta bayi yang dilahirkannya bisa selamat.

Melalui program JAMPERSAL secara komprehensif, akan ikut menjamin peran strategis ibu hamil dalam membentuk generasi yang sehat serta berkualitas, sebagai upaya kesehatan yang berkelanjutan (Continuum of Care) mulai dari hulu sampai ke hilir, yakni sejak sebelum masa hamil, masa kehamilan, persalinan dan nifas. Termasuk di dalamnya untuk lebih meningkatkan peran aktif masyarakat dalam mensukseskan pembangunan kesehatan. Terkait hal ini, almarhum dr.Okie mengajak seluruh jajaran kesehatan maupun organisasi profesi kesehatan untuk bersama-sama membanguan kemandirian masyarakat, sehingga kualitas kesehatan masyarakat Wonosobo bisa terus meningkat.

Sementara itu, di sektor KB, dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke 193, almarhum menggagas kegiatan Bhakti Sosial Pelayanan KB bagi 1000 Aseptor secara cuma-cuma. Kegiatan ini, esensinya merupakan salah satu upaya bersama menyukseskan program KB, demi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, disamping sebagai langkah strategis dalam rangka pengendalian angka kelahiran serta peningkatan derajad kesehatan masyarakat. Menurutnya persoalan kependudukan merupakan persoalan yang sangat serius dan bersifat kompleks sehingga perlu mendapatkan penanganan secara komprehensif serta holistic integrated. Untuk itu, agar mencapai peserta KB baru menjadi 100% atau lebih, maka perlu kerja sama dengan lintas sektor diantaranya dengan jajaran TNI, Polri, Tim Penggerak PKK, jajaran medis, organisasi keagamaan, juga institusi lainnya melalui kegiatan bhakti sosial dan pelayanan reguler yang telah dan akan terus dilaksanakan.

Selain raihan almarhum, yang semasa hidup menempuh pendidikan SD Negeri 1 Majenang lulusan tahun 1976, SMP Negeri 2 Cilacap lulusan tahun 1980, SMA Negeri 1 Cilacap lulusan tahun 1983, S1 FK Unissula Semarang lulusan tahun 1993, dan S2 FK UGM lulusan tahun 1999 tersebut, beberapa program bidang kesehatan yang pernah diinisiasi almarhum dr.Okie adalah operasi gratis bagi penderita katarak, operasi gratis penderita bibir sumbing, serta penerapan Sistem Kesehatan Daerah (Siskesda) Kabupaten Wonosobo untuk mengakomodasi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, yang sinkron dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, serta amanat UU Nomor 36 Tahun 2009, yang mana anggaran kesehatan Pemerintah Kabupaten tak boleh kurang dari 10 % dari APBD.

Selamat jalan dr.Okie, semoga amal ibadah almarhum diterima disisi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya, dan segala amal bhakti almarhum, khususnya di bidang kesehatan, menjadi monumen pengingat bagi semua lapisan masyarakat, dalam mengedepankan pola hidup sehat, bagi terciptanya masyarakat Wonosobo yang sehat dan sejahtera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here