Kenakalan Remaja Penyumbang Tingginya Angka Perceraian Wonosobo

WONOSOBOZONE – Angka perceraian yang ada di Kabupaten Wonosobo tergolong cukup tinggi. Selain faktor ekonomi, penyebab tingginya tingkat perceraian adalah kenakalan remaja. Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Wonosobo, Fairus Eko Purnomo saat menjadi narasumber Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) bagi Palang Merah Remaja tingkat Madya dan Wira di aula gedung Palang Merah Indonesia (PMI) Wonosobo, Rabu (15/3). “Awalnya dari kenakalan remaja seperti sex bebas, setelah itu hamil. Saat hamil, mereka menikah, setelah menikah, anak lahir. Nah setelah lahir ini kan banyak kebutuhan tuh, padahal mereka belum punya penghasilan, akhirnya bercerai,” tutur istri Bupati usai memberikan materi tentang pendidikan karakter.

Guna menurunkan angka perceraian tersebut, Fairus menyebut pihaknya tengah berupaya membentuk kader PKK di tingkat Desa yang diberi nama Basis Komunitas (Baskom). Menurutnya, Baskom tersebut merupakan langkah yang cukup efektif dalam mengatasi hal tersebut. Namun dikatakan Fairuz, belum seluruh desa ter-‘cover’ dalam pembentukan Baskom, mengingat jumlah anggaran yang dibutuhkan cukup besar.

“Beberapa desa ada yang responsiv dengan mengalokasikan anggaran dari dana desa untuk menuju ke arah Baskom itu, namun belum secara keseluruhan di semua desa. Maka dari itu, butuh sinergitas dan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk bersama-sama mengatasi masalah perceraian yang ada di Wonosobo,” terangnya.

Dilain sisi, Ketua PMI Wonosobo, Muchson juga mengaku pihaknya turut berpartisipasi aktif dalam membantu mengurangi angka perceraian itu. Hal tersebut terbukti saat digelarnya RPS yang melibatkan sedikitnya 80 pelajar dari tingkat SLTP atau SLTA se-Kabupaten Wonosobo. RPS yang digelar selama 1 hari itu, menurut Muchson ditujukan untuk memberi pemahaman kepada remaja akan dampak negatif dari kenakalan remaja yang nantinya mampu berimbas kepada tingginya tingkat perceraian.

“Selain perceraian, dampak lain dari kenakalan tersebut meliputi tingginya angka pernikahan dini, meningkatnya angka kematian ibu dan bayi, maraknya masyarakat yang bekerja ke luar negeri dan tingginya jumlah keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Jadi, problem kenakalan ini harus secepatnya diredam,” urainya.

Dengan bekal dan pemahaman yang didapat setelah mengikuti RPS, pria yang sudah menjabat sebagai ketua PMI selama 2 periode itu berharap, peserta mampu turut serta dalam mengedukasi dan memotivasi teman sebaya dilingkup setempat, agar tidak terjerumus ke perilaku menyimpang tersebut. ”Diharapkan mereka bisa mengajak rekan sebaya, bisa mempersiapkan diri secara fisik dan mental dalam memasuki periode kehidupan berkeluarga nantinya, juga memiliki pengetahuan tentang pendewasaan usia perkawinan, agar terhindar dari bebasnya seksualitas, Napza, serta HIV dan AIDS,” pungkasnya.

Menurut iniformasi yang dikumpulkan oleh Wawasan, angka perceraian Wonosobo di tahun 2016 mencapai lebih dari 1500 perkara. Setengahnya dari perkara tersebut resmi bercerai. (Ham)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here